Makassar, Upeks.co.id — Video itu singkat. Tapi cukup membuat semua orang melihat. Sampah menutup kanal. Air berhenti. Lalu tim bergerak.
Sampah itu sudah lama ada. Datang pelan dari hulu. Lalu menumpuk di satu titik. Hingga akhirnya terlihat semua orang.
Video kondisi kanal di Bara-Baraya Timur viral. Air hitam. Sampah padat. Tidak bergerak.
Camat Makassar, Tri Sugiarto, melihatnya. Ia tidak menunggu.
“Satgas langsung saya turunkan,” katanya, Rabu (3/6/2026).
Pagi itu, tim datang. Tidak sendiri. BPBD ikut. Satgas drainase Dinas PU juga turun. Mereka bekerja tanpa banyak bicara.
Mereka angkat sampah satu per satu. Plastik. Kayu. Sisa rumah tangga. Semua tersangkut di aliran yang sempit.
Air mulai bergerak sedikit.
Masalahnya bukan hari itu saja.
Sampah datang setiap hari. Dari hulu. Dari wilayah lain. Kanal itu berada di perbatasan. Bara-Baraya Timur di satu sisi. Karuwisi dan Tamamaung di sisi lain.
“Ini sampah kiriman,” kata Tri.
Petugas sebenarnya sudah membersihkan setiap hari. Tapi volume terus datang. Lebih cepat dari yang bisa diangkat.
Hari itu, jumlahnya terlalu banyak. Air tak lagi kuat membawa.
Mereka tidak menutup aliran. Mereka memilih membuka jalan air. Membersihkan apa yang bisa dibersihkan.
Kerja itu berat. Tapi harus dilakukan.
Tri kemudian memberi pesan. Pendek. Tegas.
Jangan buang sampah ke kanal.
Kalau berhenti dari sumbernya, kanal tidak akan penuh lagi.
Hari itu mereka bersihkan. Besok, sampah bisa datang lagi.
Dan pekerjaan ini akan terus berulang.(*)

