Makassar,Upeks.co.id– Tim dosen Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) berkolaborasi dengan dosen Universitas Islam Makassar (UIM) melaksanakan program pengabdian masyarakat dengan judul Teknologi Hijau Batik untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Tamalanrea.
Program pengabdian ini dilaksanakan oleh tiga dosen, yakni Dr. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, SP. MP, selaku ketua tim pengabdian dan Dr. Ir. Helda Ibrahim, MSi (Dosen UIM) serta Mariani, STP, M.P (Dosen Polipangkep).
Program ini juga turut melibatkan lima mahasiswa dari Polipangkep dan UIM. Mahasiswa dari Polipangkep, yakni Ahmad Yani, Athira Zahra dan Irsan. Sedangkan mahasiswa dari UIM, yaitu Ahmad Saefullah dan Muladi.
Pengabdian masyarakat yang dilaksanakan tersebut merupakan program pendanaan kompetitif melalui platform Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (BIMA) Kemendikti Saintek yang bertujuan mendorong inovasi berbasis sains dan teknologi untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Dimana, program ini berfokus pada solusi inovatif untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan sosial.
Ketua tim pengabdian, Dr. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, SP. MP, mengungkapkan, dalam kegiatan pengabdian tersebut, tim dosen Polipangkep sukses menerapkan inovasi Eco Batik Polimasta.
Eco Batik Polimasta, lanjut dia, merupakan produk hasil riset Zapa Emas Polipagkep yang diterapkan dalam bentuk pengabdian dengan Program Kemitraan Masyarakat dengan judul Teknologi Hijau Batik untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Tamalanrea.
“Program ini dijalankan dalam bentuk pelatihan dengan inovasi pewarna alam dan teknologi tepat guna mesin pencacah Twenty One Blades,” ungkapnya, Senin (15/12/2025).
Zulfitriany mengatakan, program tersebut berjalan sejak bulan Mei hingga Desember 2025, di Kelurahan Tamalanrea Jaya Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar.
Kegiatan ini, kata dia, melibatkan 20 ibu rumah tangga non produktif yang telah membentuk komunitas Ekosistem Super. Sehingga mampu berdaya dan saling menguatkan dalam peningkatan kesejahteraan keluarganya.
“Eco Batik Polimasta merupakan produk batik dengan pewarna alam yang berasal dari limbah pertanian yang banyak di Kota Makassar. Pengabdian ini merupakan kolaborasi Polipangkep dangan Universitas Islam Makassar,” katanya.
Zulfitriany optimis, diseminasi teknologi hijau berbahan limbah pertanian, yakni biji alpukat (Persea americana), kulit rambutan (Nephelium lappaceum), kulit manggis (Garcinia mangostana) dan sabut kelapa (Cocos nucifera) serta kayu secang (Caesalpinia sappan), akan mampu membangun ekosistem riset di Tamalanrea dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, Helda selaku anggota tim pengabdian, menjelskan, program ini menawarkan solusi untuk meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas dan mendorong kewirausahaan serta mengembangkan industri kreatif.
“Hasil program ini mampu mendorong kewirausahaan dengan industri rumah tangga Eco Batik Polimasta dan hilirisasi teknologi tepat guna mesin pencacah Twenty One Blades,” jelasnya.
Mariani yang juga anggota tim pengabdian menambahkan, bahwa program tersebut sukses melahirkan 10 wirausaha baru di bidang batik lontara ramah lingkungan. (rif)

