ENREKANG,UPEKS.co.id–Didampingi Sanitarian Dinas Kesehatan Enrekang Rezki Amaliyah, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Enrekang H. Sabir memberikan keterangan hasil uji Laboratorium sampel makanan program MBG disalah satu SPPG Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang yang membuat 17 murid SD mengalami gejala keracunan seperti pusing, mual,muntah dan diare, yang terjadi pada 31 Maret 2026 lalu.
Bertempat diruang Kerja Kadis Kesehatan, Upeks melakukan wawancara pada Kamis (23/4/2026).
Sabir mengatakan, hasil uji Laboratorium Resmi dikeluarkan BLKM tanggal 3 April 2026 dan ada tiga makanan yang mengandung bakteri Escherichia Coli dan Staphylococcus Aureus.
“Hasil laboratorium kan kemarin sudah keluar dan sudah dinyatakan bahwa hasil pemeriksaan di Labkes itu untuk nasi tidak mengandung Escherichia coli (E. Coli) tapi mengandung Staphylococcus Aureus 1273 CFU/gr. Staphylococcus itu semacam bakteri yang cepat perkembangan biak
nya dimedia makanan yang basah dan ini memang rawan menyebabkan keracunan,” jelas Kadis Kesehatan.
Selain itu, hasil pemeriksaan Laboratorium juga menyatakan sayur capcay mengandung Escherichia Coli, bakteri yang dapat menyebabkan keracunan termasuk diare dan gangguan pencernaan. Selain mengandung E Coli capcaynyw juga mengandung Staphylococcus Aureus termasuk semangka. Ada dua makanan yang bebas bakteri yaitu ayam asam dan tahu.
“Jadi kesimpulan kami yang menyebabkan anak-anak itu mual, muntah dan diarea adalah makanan yang mengandung dua bakteri itu, walaupun yang makan ini tidak semua mengalami hal yang sama, kita kembali lagi pada daya tahan tubuh seseorang, cuman memang anak-anak ini adalah kelompok rentan sehingga dia mudah terpapar,” kata mantan Kepala Puskesmas Alla ini.
Dia mengatakan, untuk masalah ini Dinas Ketahanan hanya bekerja pada tupoksinya. Apalagi MBG banyak OPD dan Lembaga yang terlibat didalamnya.
Saat ini SPPG MBG Baroko sudah di tutup oleh Badan Gizi Nasional dengan dasar rekomendasi dan pertimbangan tehnis salah satunya adanya kasus keracunan ini.
“Kalau tupoksi kami sebagai Dinas Kesehatan tetap kami akan melakukan pemeriksaan secara periodik baik itu terkait dengan makanannya, maupun terkait dengan kualitas air. Dua hal ini memang potensi menyebabkan gangguan kesehatan,” kata Sabir.
Kasus terpaparnya bakteri pada makanan MBG ini menurut Kadis Ketahanan bisa terjadi karena kurang higienisnya para pekerja yang mengelola makanan tersebut yang kurang diperhatikan. Penyebabnya kedua kemungkinan alat-alat yang digunakan tidak steril karena cara membersihkan tidak sesuai standar seperti ompreng, tempat masak, tempat penyediaan makanan, air yang digunakan tercemar yang mengakibatkan berkembang biaknya bakteri tersebut.
Lebih lanjut Sabir mengatakan, meski makanan sudah dimasak Bakteri E.Coli tidak akan mati dengan panas 100 derajat Celcius, apalagi makanan yang disajikan MBG tidak semuanya dimasak termasuk buah. Makanan yang ditutup dalam keadaan panas juga bisa basi dan itu menjadi media untuk berkembangnya bakteri dengan cepat.
“Jadi pada prinsipnya bagaimana semua dapur tetap berpedoman dan mematuhi Standar Operasional Prosedur yang sudah ditetapkan baik dari rekomendasi kesehatan lingkungan, pengelolaan makanan termasuk instalasi pengelolaan air limbah ini semua sebaiknya memenuhi standar,” tutup Plt. Kadis Kesehatan Kabupaten Enrekang. (Sry)

