World Sleep Day: Garmin Ungkap Penyebab Emosi Senggol Bacok

World Sleep Day: Garmin Ungkap Penyebab Emosi Senggol Bacok
Oplus_131072

MAKASSAR, UPEKS.co.id- Memperingati World Sleep Day yang tahun ini bertepatan dengan Ramadan, isu kualitas tidur kembali jadi sorotan. Bukan tanpa alasan—banyak orang merasa mudah tersulut emosi, tubuh cepat lemas, hingga sulit fokus meski asupan makan saat sahur dan berbuka tergolong cukup.

Fenomena yang kerap disebut “senggol bacok” ini ternyata bukan semata karena lapar atau haus. Ada faktor yang lebih mendasar: gangguan ritme biologis tubuh.

Bacaan Lainnya

Sleep Coach Garmin, Vishal Dasani, mengungkapkan bahwa selama Ramadan tubuh mengalami perubahan pola yang cukup ekstrem. Waktu makan bergeser ke malam hari, sementara jam tidur ikut terpangkas karena sahur.

Kondisi ini memicu apa yang dikenal sebagai circadian misalignment—ketidaksesuaian antara jam biologis dan pola aktivitas harian.

“Banyak yang fokus pada makanan, padahal tantangan terbesar justru ada di manajemen tidur. Data menunjukkan porsi tidur REM bisa turun drastis, dari sekitar 24 persen menjadi hanya 10 persen atau bahkan kurang,” jelas Vishal.

Padahal, fase REM berperan penting dalam menjaga kestabilan emosi dan kemampuan berpikir. Ketika fase ini terganggu, dampaknya langsung terasa, mudah marah, sulit berkonsentrasi, hingga penurunan performa kerja.

Salah Kaprah Sahur dan Berbuka

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah pola makan “balas dendam”. Banyak orang mengonsumsi karbohidrat berlebih saat sahur dengan harapan energi bertahan lebih lama.

Nyatanya, kebiasaan ini justru memicu lonjakan gula darah yang diikuti penurunan drastis dalam waktu singkat.

Marcomm Senior Manager Garmin Indonesia, Chandrawidhi Desideriani, menyebut kondisi ini sebagai pemicu brain fog—situasi ketika otak terasa “lemot”, sulit fokus, dan tubuh cepat mengantuk di pagi hari.

Hal serupa juga terjadi saat berbuka. Makan dalam porsi besar sekaligus, terutama makanan manis dan berat, membuat sistem pencernaan bekerja ekstra di malam hari.

Akibatnya, tubuh kesulitan masuk ke fase tidur dalam yang seharusnya menjadi momen pemulihan.

“Untuk bisa mencapai deep sleep, suhu inti tubuh harus turun. Tapi kalau habis makan berat, tubuh justru tetap ‘panas’ karena mencerna. Ini yang bikin tidur terasa cukup, tapi bangun tetap lelah,” ujarnya.

Kondisi ini jika dibiarkan akan menumpuk menjadi sleep debt atau utang tidur, yang biasanya mulai terasa di pertengahan Ramadan—ditandai dengan turunnya energi dan semangat aktivitas.

Peran Teknologi: Garmin Tawarkan Solusi Nyata

Melihat pola ini, Garmin menghadirkan pendekatan berbasis data melalui fitur pemantauan tidur di perangkat wearable mereka.

Bukan sekadar menghitung durasi tidur, perangkat Garmin mampu membaca kualitas tidur, termasuk fase deep sleep dan REM, serta menghubungkannya dengan indikator energi harian atau Body Battery.

Pengguna dapat mengetahui kapan tubuh benar-benar pulih dan kapan justru mengalami kelelahan tersembunyi.

Garmin juga mendorong kebiasaan sederhana yang sering diabaikan, seperti memberi jeda minimal dua jam antara makan malam dan waktu tidur, serta memanfaatkan power nap selama 20 menit untuk menutup kekurangan istirahat.

Dari sisi nutrisi, pendekatan yang disarankan lebih berimbang: memperbanyak protein dan serat saat sahur untuk menjaga energi stabil, serta menghindari gula berlebih yang memicu fluktuasi energi.

Sentuhan Baru: Tidur Jadi Lebih Menyenangkan

Menariknya, Garmin menghadirkan pendekatan berbeda untuk membangun kebiasaan tidur sehat lewat kolaborasi dengan Pokémon Sleep. Melalui watch face khusus yang tersedia di Connect IQ Store, pengguna bisa memantau kondisi tubuh dengan cara yang lebih interaktif.

Karakter Pokémon seperti Snorlax, Pikachu, hingga Bulbasaur akan berubah ekspresi mengikuti tingkat energi pengguna sepanjang hari. Bahkan, mode malam akan aktif otomatis 1,5 jam sebelum waktu tidur, membantu pengguna membangun rutinitas istirahat yang lebih teratur.

Fitur ini kompatibel dengan berbagai lini perangkat Garmin, mulai dari seri fēnix, Forerunner, Venu, hingga vívoactive.

Tidur Bukan Sekadar Istirahat

Di tengah padatnya aktivitas Ramadan, Garmin mengingatkan bahwa tidur bukan sekadar “mati lampu”.

Kualitas istirahat justru menjadi fondasi utama agar tubuh tetap bertenaga dan emosi tetap stabil sepanjang hari.

Dengan kombinasi pemahaman ilmiah dan dukungan teknologi, menjaga ritme tubuh selama puasa bukan lagi hal yang sulit—asal dilakukan dengan cara yang tepat. (Mimi)