Halalbihalal MAN 3 PK Makassar Hadirkan Konsep Wisata Kuliner, Pererat Ukhuwah Warga Madrasah

Halalbihalal MAN 3 PK Makassar Hadirkan Konsep Wisata Kuliner, Pererat Ukhuwah Warga Madrasah

MAKASSAR, UPEKS — Suasana berbeda tampak di Aula Serba Guna MAN 3 PK Kota Makassar, Senin (30/3/2026). Belasan meja panjang berjajar rapi, dipenuhi aneka hidangan khas daerah yang menggugah selera. Pemandangan ini menjadi bagian dari perhelatan Halalbihalal yang diikuti seluruh tenaga pendidik dan kependidikan usai libur Idulfitri 1447 Hijriah.

Mengusung tema “Madrasah Hebat dengan Ukhuwah yang Kuat”, kegiatan ini dikemas dengan konsep “wisata kuliner”. Di bawah koordinasi Ketua Panitia, Hj. Nurbaeti, setiap kelompok mata pelajaran membawa makanan khas daerah masing-masing, mulai dari kudapan tradisional hingga hidangan berat.

Bacaan Lainnya

Konsep tersebut memberikan nuansa tersendiri dalam mempererat silaturahmi antar guru dan staf. Kebersamaan terasa hangat saat seluruh peserta saling berbagi dan menikmati sajian yang telah disiapkan.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, H. Muhammad. Ia menyempatkan diri mengunjungi setiap meja dan mencicipi berbagai hidangan yang disajikan para pendidik.

“Kegiatan positif ini sangat luar biasa dan menjadi momen yang ditunggu-tunggu setelah menjalani ibadah puasa selama 30 hari. Saya berharap tradisi ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun,” ujarnya dalam sambutan.

Kehadiran Kakan Kemenag didampingi oleh Kasi Penmad H. Suedi serta Pengawas Bina Madrasah H. Nurdin M. Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan santap siang bersama dalam suasana kekeluargaan yang penuh keakraban.

Suasana kemudian berubah khidmat saat Ust. Syahrir Nuhun menyampaikan tausiyah. Dalam pesannya, ia menekankan bahwa esensi ibadah tidak hanya terletak pada ritual semata, tetapi juga pada kepekaan sosial terhadap sesama.

Mengangkat kisah inspiratif Ali al-Muaffaq, ia menjelaskan bahwa nilai kemanusiaan merupakan inti tertinggi dari ibadah. Menurutnya, Allah SWT tidak hanya menilai ketundukan hamba melalui ibadah ritual, tetapi juga dari kepedulian nyata kepada mereka yang membutuhkan.

“Keikhlasan itu mampu melampaui jarak,” ungkapnya.

Ia menuturkan, pengorbanan Ali al-Muaffaq yang menggunakan tabungannya selama puluhan tahun untuk menolong tetangga yang kelaparan menjadi contoh nyata bahwa menolong sesama memiliki nilai yang sangat tinggi, bahkan dapat mengantarkan pada derajat haji mabrur meski tanpa berangkat ke Tanah Suci.

Pesan tersebut menjadi pengingat penting tentang skala prioritas dalam Islam, bahwa menolong kehidupan dan meringankan penderitaan sesama harus diutamakan, terutama di tengah kehidupan sosial masyarakat.