Unjuk Rasa Mahasiswa di SPBU Kalampa Tuai Sorotan Warga, Diduga Sarat Kepentingan Pribadi

Unjuk Rasa Mahasiswa di SPBU Kalampa Tuai Sorotan Warga, Diduga Sarat Kepentingan Pribadi

Takalar,Upeks.co.id– Aksi unjuk rasa yang dilakukan Satuan Siswa, Pelajar, dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (SAPMA PP) Gowa di depan SPBU Kalampa, Jalan Poros Takalar, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Sabtu (14/2/2026), memantik perhatian publik.

Aksi tersebut dinilai sejumlah pihak tidak murni menyuarakan aspirasi masyarakat, melainkan diduga berkaitan dengan kepentingan pribadi.

Bacaan Lainnya

Dalam aksi tersebut, massa membakar ban di halaman SPBU yang saat itu sedang beroperasi melayani penjualan BBM. Tindakan tersebut sempat menimbulkan kepanikan karena dikhawatirkan memicu kebakaran.

Salah seorang karyawan SPBU Kalampa mengaku, pihaknya merasa dirugikan atas aksi tersebut. Selain menyebabkan penurunan jumlah pembeli, pembakaran ban di area SPBU dinilai sangat berisiko.

“Kami sangat was-was karena SPBU sedang beroperasi dan menjual BBM. Untung warga sekitar bersama karyawan segera memindahkan ban yang terbakar ke luar area SPBU agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).

Pihak SPBU menegaskan tidak ada unsur premanisme dalam peristiwa tersebut. Karyawan hanya berupaya mencegah potensi kebakaran dengan memindahkan ban yang dibakar ke badan jalan poros.

Belakangan mencuat dugaan bahwa aksi tersebut berkaitan dengan persoalan distribusi BBM jenis solar. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa salah satu pengunjuk rasa diduga memiliki hubungan keluarga dengan seorang pengusaha BBM jenis solar, yang disebut telah lama mengambil solar di SPBU Kalampa.

Menurut keterangan karyawan, pengusaha itu beberapa kali dinilai tidak tertib dalam prosedur pengisian solar menggunakan jeriken dan diduga memaksakan pengisian di luar aturan yang berlaku di SPBU.

Karena dianggap melanggar ketentuan, pihak SPBU kemudian menghentikan pelayanan pengisian solar kepada yang bersangkutan.

“Kami melayani pengisian solar berdasarkan surat rekomendasi dari desa atau kelurahan serta barcode yang telah terdaftar. Semua sesuai aturan. Tidak ada perlakuan khusus,” tegas karyawan lainnya.

Sebelum aksi berlangsung, penanggungjawab SPBU Kalampa, Basir, disebut menerima pesan WhatsApp bernada tekanan. Dalam pesan tersebut, pengirim mengisyaratkan akan mengerahkan massa dari Makassar jika persoalan tidak diselesaikan.

Olehnya itu, salah seorang warga Kalampa, Daeng Tangga, menilai aksi unjuk rasa tersebut terkesan tidak mewakili kepentingan publik.

“Di Takalar ini ada beberapa SPBU. Kenapa hanya SPBU Kalampa yang didemo? Ini terlihat seperti ada kepentingan pribadi. Kalau seperti ini, kredibilitas organisasi bisa dipertanyakan,” ujarnya dengan nada kesal.

Sehingga sejumlah warga sekitar SPBU Kalampa, berharap agar persoalan distribusi BBM diselesaikan melalui mekanisme yang sesuai aturan, bukan dengan aksi yang berpotensi membahayakan fasilitas umum dan masyarakat sekitar.(*)