Sili Suli Penulis Toraja Jebolan Upeks

Sili Suli Penulis Toraja Jebolan Upeks

Sili Suli berfoto bersama Founder & Director Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) – Janet Deneefe, Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati – Dr. I Ketut Suardana, mantan Bupati Tana Toraja – Kol. Inf. Purn . Tarsis Kodrat dan beberapa anggota IKAT Bali seusai diskusi novel karyanya pada event UWRF tahun 2019 di Ubud Bali. -foto:ist-

 

Bacaan Lainnya

SETELAH sekian lama resign dari Harian Ujungpandang Ekspres (Upeks), Rabu (19/11) kemarin tiba-tiba sobat lawas ini muncul di Graha Pena lantai 19.

Maksud kedatangannya adalah untuk meminta doa restu kami, sahabatnya di Upeks atas rencananya untuk menerbitkan sebuah novel fiksi. Tentu saja kami sebagai sahabat ikut mendoakan dan memberikan dukungan moril.

Saya dan Muhammad Akbar sempat berbincang sebentar lalu Muhammad Akbar pamit untuk menemui seseorang di luar kantor. Tak lama kemudian, salah seorang wartawan senior Upeks, Haji Abdul Jabbar muncul dan kami melanjutkan perbincangan santai tetapi serius yakni menulis sosok sang penulis.

Sobat kelahiran Jakarta 13 November 1971 ini adalah Sili Suli, mantan wartawan Upeks yang kini beralih profesi menjadi seorang penulis buku. Ketika masih menjadi kru Upeks pada era kepemimpinan Haji Mappiar, Sili Suli selalu mendapat tugas untuk menulis berita-berita headline Upeks. Kebanyakan berita yang diangkatnya dulu adalah soal kasus dugaan korupsi APBD yang ditangani oleh Polda Sulsel pada era kepemimpinan Irjen Pol. Aryanto Anang Budiharjo dan Kejati Sulsel pada era kepemimpinan Muhammad Prasetyo hingga Abdul Hakim Ritonga.

Selain itu, ia juga banyak mengolah data yang bersumber dari laporan masyarakat khususnya LSM anti korupsi. Sili Suli adalah salah satu wartawan yang dikenal dekat dengan para aktivis anti korupsi di Makassar, khususnya dengan para anggota Komunitas Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulawesi Selatan seperti Dr. Abraham Samad dari ACC, Adnan Buyung Azis (LBH Makassar), Syamsuddin Alimsyah (KOPEL) dan Bastian Lubis (Patria Artha).

“SIili Suli adalah salah satu wartawan di Makassar yang sangat idealis dan sangat konsisten mengawal kasus dugaan korupsi yang telah masuk dalam proses hukum pada rentang waktu 2004-2009. Dia pernah diutus oleh Abraham Samad ke Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan investigasi kasus korupsi,” jelas Dr. Bastian Lubis, SE, MM, CFM, Rektor Universitas Patria Artha.

Aktivitasnya menulis buku sudah dimulai ketika masih menjadi kru Upeks. Salah satu buku yang ditulisnya saat itu berjudul “Sulawesi Maju Bersama”, yang diterbitkan oleh Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) pada era kepemimpinan H. Fadel Muhammad dan diluncurkan oleh Wakil Presiden H,M, Jusuf Kalla saat acara Musyawarah Sulawesi di Kendari pada tahun 2005.

“Upeks adalah kampus tempat saya banyak belajar tentang jurnalistik dan menulis buku. Saya beruntung bisa berlajar dari para wartawan kawakan Upeks seperti Yasser Latief, Aswan Ahmad, Mappiar HS, Zulkarnain Hamson, Muh Bachtiar Sairing, Pataruddin, Subhan Yusuf, Syamsuddin Yoko, Muhammad Akbar, Abdul Jabbar dan lain-lain,” akunya.

Sembari menyeruput kopi, perbincangan kami berlanjut ke soal pahlawan lokal. Sili Suli menyebut nama seorang pahlawan yang dikaguminya yakni Petta Mangkau Haji Andi Mappanyuki. “Perjuangan dan pengorbanan Andi Mappanyuki untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sangat luar biasa,” tandas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram Yogyakarta ini.

Ternyata setelah mundur dari dunia pers, ia pernah membuka arsip tentang sejarah pergerakan di Makassar dan bercerita tentang nama seorang pejuang lokal yang sejarah perjuangannya belum tertulis dalam sebuah buku. Padahal nama pejuang tersebut telah diabadikan menjadi sebuah nama jalan di kota Makassar.

“Semoga Upeks bisa menulis buku tentang perjuangan tokoh ini,” harapnya seolah memberikan PR besar kepada kami.

Menurut Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Toraja Utara, Abraham Umbas, S.Si, M.Pd, Sili Suli bukan sekedar penulis atau editor, tetapi juga seorang peneliti dokumen arsip.

“Dia melakukan penelitian swadaya untuk melakukn validasi dan akurasi data seteail mungkin. Bahkan dia juga akan melacak dari sumber-sumber yang sulit digali, tanpa memandang waktu dan jarak tempuh,” jelas Abraham Umbas.

Pendapat senada juga dikemukakan mantan Rektor UKI Toraja, Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr. “Sili Suli itu seorang penulis yang ulet dan benar-benar mempunyai dedikasi terhadap profesinya sebagai penulis. Dia akan selalu berusaha untuk melengkapi tulisannya dengan data dan informasi yang faktual, meskipun harus berpisah dari keluarganya selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, jelas Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Tana Toraja.

Setelah kurang lebih 15 tahun mundur dari Upeks, sudah ada kurang lebih 22 buku yang ditulis oleh Sili Suli, dimana sebagian besar adalah buku biografi dan ada beberapa buku tentang sejarah jemaat-jemaat gereja di Makassar, Jakarta dan Toraja. Salah satu biografi karyanya yang cukup populer adalah “Dokter di Medan Lara”, yaitu biografi Prof. Dr. dr. Idrus Andi Paturusi. Biogarfi ini ditulisnya bersama Hurri Hasan selama kurang lebih 2 tahun.

Melihat jumlah buku yang telah diterbitkannya ini, Sili Suli mungkin merupakan salah satu penulis Toraja yang paling produktif menulis buku saat ini sebagaimana diungkapkan oleh Rektor UKI Paulus, Prof. Dr. Agus Salim, SH, MH dan Abraham Umbas, S.Si, M.Pd. Artinya, setiap tahun ia menulis minimal 1 buku. Ada buku yang dikerjakannya hanya dalam tempo 2 bulan, namun ada pula yang harus dikerjakan hingga 3 tahun.

Satu-satunya novel yang ditulisnya adalah sebuah novel fiksi berjudul “Surya, Mentari dan Rembulan”, yang diluncurkan oleh Gusti Kanjeng Ratu Hemas di Yogyakarta pada tahun 2019. Novel ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan pada tahun 2025 dengan judul “From Toraja With Love” oleh Amazon Kindle Direct Publishing di Amerika Serikat. Novel ini kini dipasarkan melalui jaringan Amazon di 18 negara.

“Bagaimana soal royalti dari buku-buku yang telah diterbitkan?”. Sili Suli tersenyum dan menjelaskan bahwa kebanyakan bukunya tidak mengandung royalti karena diterbikan bukan oleh penerbit mayor sehingga kompensasi yang diterimanya adalah dalam bentuk honor penulisan oleh user. Satu-satunya karyanya yang diharapkan dapat memberikan royalti baginya adalah novel “From Toraja With Love.”

“Kebahagiaan utama saya sebagai penulis adalah ketika mampu menulis sebuah buku sesuai harapan dari user. Kebahagiaan kedua ialah bila buku tersebut terkatalog oleh perpustakaan dan dibaca oleh banyak orang. Itulah yang membuat saya akan terus menulis selama masih sehat dan kuat,” ujarnya.

Buku-buku karyanya sudah tersebar di berbagai perpustakaan kampus di Indonesia, mulai dari Palembang, Jakarta, Depok, Yogyakarta, Semarang, Salatiga, Malang, Makassar, Tana Toraja hingga ke Cornell University Library di New York. Sedangkan novel “From Toraja With Love” karyanya kini perlahan mulai merambah rak perpustakaan kampus di London, Oxford, Cambridge, Glasgow, Houston dan Uppsala, serta sebuah perpustakaan umum di Melbourne.

“Kualitas dan kuantitas buku tulisan Sili Suli menjadi bukti keseriusan dan integritasnya dalam berkarya, meskipun selalu terlihat santai dalam setiap situasi,” tambah Dr. Esriaty Sega Kendenan, M. Hum, dosen Universitas Kristen Satya Wacana. (Syamsuddin Yoko)