Dosen dan Mahasiswa Universitas Bosowa Meneliti di Pulau Lae Lae

Dosen dan Mahasiswa Universitas Bosowa Meneliti di Pulau Lae Lae

Makassar, Upeks.co.id — Tim Dosen dan Mahasiswa Universitas Bosowa melaksanakan kegiatan penelitian bertajuk “Eksplorasi Keterampilan Proses Sains dan Environmental Awareness Siswa di Daerah Kepulauan melalui Pembelajaran Ethno STEM Project Based Learning” di Pulau Lae-lae, Kota Makassar, pada 21 Juli – 30 Agustus 2025.

Penelitian ini merupakan bagian dari program riset skema fundamental yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Kemdiktisaintek) tahun anggaran 2025.

Bacaan Lainnya

Fokus utama penelitian ini adalah mengembangkan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang mengintegrasikan kearifan lokal (Ethno STEM) untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa serta kesadaran lingkungan di daerah kepulauan. Melalui pendekatan ini, siswa diajak untuk mengeksplorasi fenomena lingkungan sekitar, seperti pengelolaan sampah pesisir dan pemanfaatan sumber daya laut, sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif.

Selain kegiatan pembelajaran, dosen dan mahasiswa juga melakukan observasi dan pendampingan di UPT SPF SMPN 41 Satu Atap Makassar, satu-satunya sekolah menengah pertama yang ada di Pulau Lae-lae. Kegiatan ini melibatkan guru dan kepala sekolah sebagai mitra penelitian untuk memastikan implementasi model pembelajaran dapat berjalan sesuai konteks lokal. Respon siswa sangat positif karena mereka dapat belajar sains dengan cara yang lebih aplikatif, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan berorientasi pada solusi masalah lingkungan.

Salah satu guru dari UPT SPF SMPN 41 Satu Atap Makassar, Bapak Asriadi, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan penelitian ini. “Siswa kami sangat antusias, karena mereka bisa belajar sains tidak hanya di kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan. Mereka juga jadi lebih peka terhadap masalah lingkungan di sekitar pulau. Pendekatan ini membuat pembelajaran terasa lebih hidup,” ungkapnya.

Ketua tim, Ibu Sundari Hamid, menegaskan bahwa penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan model pembelajaran yang relevan di wilayah kepulauan.

“Pulau Lae-lae memiliki potensi dan tantangan lingkungan yang khas. Melalui Ethno STEM PjBL, siswa tidak hanya belajar sains, tetapi juga membangun kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi model inovatif yang dapat diadaptasi di wilayah kepulauan lainnya,” jelasnya.

Penelitian ini mendapat dukungan dari pihak sekolah, masyarakat, serta pemerintah setempat. Ke depan, hasil penelitian diharapkan tidak hanya berhenti pada temuan akademik, tetapi juga dapat menjadi dasar pengembangan kurikulum kontekstual yang mengakar pada budaya lokal sekaligus menjawab isu global terkait lingkungan.(rls)