MAROS, Upeks– Anggota DPRD Maros, Hannani Parani, melontarkan kritikan kepada Pemerintah Kabupaten Maros atas ketiadaan armada pemadam kebakaran (damkar) di Kecamatan Mallawa.
“Sudah saya mohonkan di Banggar. Saya usulkan satu unit armada damkar untuk Mallawa, tapi jawabannya soal refocusing anggaran,” katanya, Jumat (11/4/2025).
Apalagi pekan ini insiden kebakaran di Mallawa menghanguskan satu rumah warga dan menimbulkan kerugian hingga Rp150 juta.
Ironisnya, tak ada armada damkar yang siaga di lokasi.
Bantuan baru datang dari Kecamatan Camba, ketika api sudah membesar.
“Kalau kebakaran di daerah dataran tinggi seperti Mallawa, rumah warga bisa habis duluan sebelum bantuan datang. Ini fakta di lapangan,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberadaan armada damkar di Mallawa bukan lagi sekadar usulan, melainkan kebutuhan mendesak dan urgen, apalagi jika melihat kondisi geografis dan keterbatasan akses.
“Harus ada armada yang menetap di sana. minimal armada yang ada sekarang di Maros digeser sementara ke Mallawa,” tegasnya.
Politikus Gerindra itu berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata.
“Faktanya, sudah banyak warga yang jadi korban. Pemerintah harus turun,” tutupnya.
Sementara itu Plt Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Maros, Eldri Saleh Nuhung mengakui ketersediaan mobil pemadam kebakaran (damkar) di Kabupaten Maros belum optimal.
Ia mengatakan, dari 17 unit armada yang tersedia, lima di antaranya mengalami kerusakan berat dan tidak dapat dioperasikan.
Ia menyebutkan biaya perbaikan lima armada tersebut cukup besar.
“Sudah lama rusak dan kalau mau diperbaiki katanya biayanya cukup besar,” imbuhnya.
Saat ini, enam unit damkar telah ditempatkan di beberapa kecamatan, yaitu Bontoa, Camba, Bantimurung, Moncongloe, Tanralili, dan Marusu.
“Kemudian ada 6 enam juga armada yang ada di Mako,” tuturnya.
Mantan Sekwan DPRD Maros itu menilai jumlah armada damkar dikatakan optimal jika seluruh 14 kecamatan di Maros sudah memiliki armada masing-masing.(alf)

