“Jangan coba-coba menghadap kalau rambut beliau tak rapi,” saran bos saya dulu, Subhan Yusuf.
Ini pengalaman dia langsung saat berinteraksi dengan HM Alwi Hamu. Baik saat dia masih reporter hingga diberi amanah memimpin perusahaan pak Alwi Hamu.
Kalau rambut lagi acak-acakan, itu tandanya hati Bos Media ini lagi gusar. Hatinya lagi tak senang.
Biasanya kalau kondisinya seperti ini, apa pun yang disodorkan bakal tidak “gol”.
Makanya kalau mau menghadap, lihat dulu model rambutnya. Apakah Masih klimis atau terbongkar.
Menurut dia, momen yang paling bagus menghadap Pak Alwi yaitu saat rambutnya masih nampak klimis. Biasanya saat itu hatinya lagi senang. Dan umumnya, urusan kita akan mudah.
Saya selalu ingat pesan itu. Jangan menghadap kalau hatinya tak senang. Pokoknya perhatikan rambutnya.
Tapi hingga hari ini, ketika berita duka itu tiba di Makassar, saya belum sekali pun pernah menghadap beliau secara individu.
Biasanya kalau bertemu, kami datang secara rombongan. Paling sedikit berdua. Tak pernah secara pribadi.
Bukan takut. Sebab Pak Alwi, rasanya adalah orang yang sangat friendly. Pun terhadap anak buahnya.
Walau pun saya juga sering mendengar banyak karyawan yang takut jika beliau marah.
Syukurnya selama berinteraksi dengan beliau, saya tak pernah melihat langsung Pak Alwi marah.
Memang ada anekdot yang sering jadi guyonan anak Fajar Group. Di Perusahaan ini ada 2 A yang ditakuti. Yaitu Alwi Hamu dan Ancu atau Syamsul Nur.
Padahal secara personal saya selalu menilainya sebagai sosok yang murah hati.
Dia selalu punya harapan besar terhadap Harian Ujungpandang Ekspres. Dia selalu berharap Upeks menjadi koran nomor satu di segmentasi bisnis.
Pernah suatu ketika, saat saya masih secara langsung menangani halaman satu Harian Ujungpandang Ekspres, dia datang tiba-tiba.
Dia masuk ke redaksi sekitar pukul 09.00 malam atau pukul 10.00 malam.
Di redaksi hanya ada saya dan tiga kawan lainnya. Kami lagi memfinalisasi desain koran malam itu. Waktunya lagi deadline.
“Masih kerja ya….” sapa Pak Alwi saat kami mempelotin layar komputer.
“Iya pak,” jawab kami.
Dia pun meminta koran-koran yang sudah terbit. Membacanya dan mempelototi berita-berita yang sudah terbit.
Sesekali dia mengomentari tampilan koran, isi beritanya, hingga isu-isu yang diangkat.
Pak Alwi selalu menekankan untuk mengangkat isu-isu ekonomi yang banyak jadi bacaan para pengusaha.
Malam itu Pak Alwi agak lama di redaksi. Dia bahkan menantang untuk bermain tenis meja.
Kunjungan Pak Alwi memang bukan sekali atau dua kali ke redaksi Upeks. Tapi sangat jarang beliau berkunjung di saat deadline dan tanpa didampingi stafnya. Seperti malam ini. “Apakah kami akan dimarahi?”
Usai bermain tenis meja. Saya lihat rambutnya agak berantakan. Jangan-jangan hatinya lagi gusar.
“Oke ya. Lanjutkan kerjanya,” ujarnya langsung pergi meninggalkan redaksi tanpa berkomentar banyak.
Mungkin lelah usai bermain tenis meja. Entahlah. Yang jelas malam itu jantung kami sempat berdebar-debar.
Terima kasih Pak Alwi atas bimbingan dan motivasinya.
Allahummagfirlahu Warhamhu Waafihi Wafuanhu.


