Disbud Makassar Lestarikan Batik

Disbud Makassar Lestarikan Batik

Makassar, Upeks.co.id — Batik telah menjadi salah satu warisan budaya tak benda. Sangat berharga bagi Indonesia. Setiap daerah memiliki keunikan tersendiri dalam desain dan filosofi batik. Termasuk Makassar yang berupaya menjaga dan melestarikan batik dengan cara yang khas.

Dinas Kebudayaan Kota Makassar, sejak berdiri sendiri sebagai dinas kebudayaan, telah menciptakan batik dengan identitas tersendiri yang menggambarkan kekayaan budaya lokal.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Ir. Hj. Andi Herfida Attas, menjelaskan bahwa batik dinas kebudayaan ini memiliki motif yang sarat akan nilai-nilai sejarah dan budaya Makassar. Salah satu elemen penting yang terlihat dalam batik tersebut adalah aksara lontara yang menuliskan “Dinas Kebudayaan” serta gambar perempuan yang memperagakan tari Pakarena, simbol kebanggaan seni tari lokal. Selain itu, terdapat pula gambar Sultan Hasanuddin, pahlawan nasional yang menjadi simbol kekuatan dan keberanian.

“Harapannya adalah melalui hari Batik Nasional, batik yang kita pakai dan produksi di seluruh Indonesia, termasuk di Makassar, bisa melalui proses yang betul-betul tradisional, seperti di Jawa dengan menggunakan canting dan lilin,” ungkap Herfida, Rabu (2/10/2024).

Ia menilai pentingnya proses tradisional dalam membatik agar batik yang dihasilkan benar-benar merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia secara keseluruhan.

Meskipun proses membatik tradisional dengan canting dan lilin lebih dikenal di Jawa, Herfida berharap ke depannya setiap daerah di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan, juga dapat mengadopsi metode tersebut.

Saat ini, meskipun belum semua daerah menggunakan teknologi dan metode tradisional dalam pembuatan batik, namun mereka tetap memiliki ciri khas yang menggambarkan identitas budaya masing-masing daerah.

“Dinas Kebudayaan Makassar, saat ini lebih berfokus pada apresiasi dan motivasi terhadap para pelaku batik, terutama dalam menjaga kelestarian budaya.” lanjutnya.

Herfida menyadari bahwa tanggung jawab produksi lebih berada pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang berhubungan langsung dengan para pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Meski demikian, Dinas Kebudayaan kerap mengadakan kegiatan edukasi di museum-museum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya pelestarian budaya.

Museum di Makassar sendiri kini menjadi destinasi kunjungan yang ramai, baik dari wisatawan mancanegara maupun pelajar domestik.

Dinas Kebudayaan Kota Makassar terus berupaya menjaga eksistensi batik lokal dan memotivasi para perngajin agar tetap mempertahankan budaya membatik, sembari berharap bahwa metode tradisional membatik dapat diadopsi secara lebih luas di seluruh Indonesia. (*)