H. Marwan (kaos warna merah) pemilik Collector Sampah Plastik di Marusu Maros dan penulis Jumardi Lanta (membelakang).
Maros, Upeks–Tim JARAK (Jaringan NGO untuk Penanggulangan Pekerja Anak Indonesia) yang diwakili oleh Herman berkedudukan di Jakarta dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan berkedudukan di Makassar yang diwakili oleh Fadiah Machmud sebagai Ketua LPA Sulsel serta Nahlang dan Jumardi Lanta dari Komunitas Sahabat Jumat Berkah. Mereka melakukan survei awal dalam rangka pemetaan pekerja anak pada rantai pasok sampah plastik di Kota Makassar. Survei yang sekaligus silaturahmi dengan pemilik Collector Centre (CC) mitra PT. Veolia Service Indonesia milik H. Marwan yang terletak di Desa Pa’bentengan Kecamatan Marusu Kabupaten Maros.
Tujuan kunjungan tersebut untuk mengetahui sejauhmana kegiatan rantai pasok pengelolaan sampah melibatkan pekerja anak.
Saat tim memasuki lokasi gudang pusat pengumpulan sampah yang luasnya kurang lebih 2.000 m2 tersebut tampak mobil-mobil truk dan pickup yang datang membawa sampah plastik dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan melakukan bongkar muat.
Disebutkan Mas Dika pendamping dari YPCI (Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCI) dan Masrudi, Kepala Gudang sekaligus kakak kandung H.Marwan sampah plastik yang berasal dari lapak-lapak di Makassar, Maros, Pangkep hingga Palopo.
“Sebanyak 50 lapak yang tersebar di berbagai kabupaten kota tersebut memasukkan barang setiap hari secara bergiliran,” ungkapnya.
Sedangkan aktivitas dalam gudang yang dipenuhi tumpukan sampah dalam karung yang siap untuk dipilah dan dipress, sedangkan yang sudah dipress selanjutnya diangkut ke kontainer berkapasitas 24 ton untuk dikirim ke PT. Veolia.
Sosok H. Marwan yang lahir pada tanggal 29 September 1974 lahir di Palopo tersebut memulai usaha sampah plastik sejak tanpa modal pada tahun 2008 silam dengan membuka lapak pembelian sampah plastik hanya kepercayaan. Sampai akhirnya membeli lahan di Desa Pa’bentengan Marusu Maros untuk kemudian dibangunkan gudang sebagai pusat pengumpulan sampah yang dikenal sebagai CC tersebut.
Sampah plastik tersebut yang masuk ke gudang CC kemudian dipilah dan dipress untuk selanjutnya dikirim ke PT. Veolia Service Indonesia di Pasuruan Jawa Timur, salah satu pabrik pengolahan sampah plastik terbesar di Indonesia.
Selain gudang CC di Maros H. Marwan juga memiliki gudang di Kawasan Industri Makassar yang terletak di jl. KIMA VII.
Pengelolaan sampah di CC baik di Maros maupun di Makassar milik H. Marwan melibatkan karyawan sebanyak 22 orang, yakni 10 orang di Maros semuanya laki-laki berumur 21-60 tahun. Sedangkan di Makassar sebanyak 12 orang terdiri dari 8 laki-laki dan 4 perempuan umurnya antara 26-65 tahun.
“Semua karyawan bekerja dari hari senin-sabtu sebanyak 8 jam tiap hari sesuai standar ketenagakerjaan. Tapi jika ada permintaan barang mendesak maka dilakukan tambahan kerja lembur,” ungkapnya.
Adapun aktivitas di dalam gudang adalah memilah sampah yang berasal dari lapak-lapak kemudian dipress lalu diangkut ke kontainer untuk selanjutnya dikirim ke PT. Veolia. Tampak dua unit mesin press plastik berdiri kokoh dalam gudang, saat tim berkunjung, mesin press sudah istirahat setelah press sejumlah plastik yang mau diangkut ke kontainer.
Bagi PT. Veolia Service Indonesia yang mulai membangun kemitraan dengan H. Marwan melalui CV. Mitra Fajar Cemerlang sudah terjalin sejak 5 tahun lalu, akan tetapi nanti pada tahun 2022 baru menjalin kemitraan secara resmi melalui kontrak kerjasama.
“Adapun jumlah Kuota sampah yang dibutuhkan oleh PT. Veolia sebanyak 60 ton per bulan, akan tetapi H. Marwan mampu menyiapkan sampah plastik khususnya jenis botol sebanyak 120-130 ton per bulannya. Hal ini kontinu dilakukan karena sudah dipercaya oleh PT. Veolia.
“Salah satunya karena tingkat kebersihan produk yang dikirim hanya 0.6-0.7 koefisien nilai kotornya dan ketersediaan barang selalu tersedia. Sudah ada beberapa perusahaan besar pengolahan sampah di Makassar dengan harga yang bersaing,” ujar H Marwan masih setia tetap memilih PT. Veolia sebagai mitra karena sudah saling percaya.
Oleh karena itu untuk menjaga kemitraan tersebut maka Lapak mitra H. Marwan khususnya yang berada di Maros dan Makassar dimonitoring dan dievaluasi kualitas produk khususnya jenis produk dan tingkat kebersihannya.
Sebanyak 12 lapak yang berada di Makassar dan Maros tersebut juga dibina juga oleh YPCI sebagai mitra PT.Veolia dengan memfasilitasi pelatihan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), PHBS (Perilaku hidup bersih dan Sehat) serta pengelolaan ekonomi rumah tangga. Usaha H. Marwan terus berkembang dan tidak terpengaruh saat pandemi, mengantarnya sebagai pengusaha sampah plastik yang tergolong sukses dengan omset milyaran rupiah.
Kesuksesan H. Marwan didukung oleh lapak yang masih setia bermitra. Salah satu lapak mitra H.Marwan yang terletak di Daya Makassar yang dikunjunjungi juga oleh Tim JARAK dan LPA Sulsel tersebut adalah Lapak Milik Suardi yang terletak di Lanraki Daya Makassar, lokasi lapak seluas 4 ha tersebut memuat sampah plastik dari Daya, Paccerakkang dan sekitarnya.
Sebanyak 8 orang pekerja 5 laki-laki dan 3 perempuan bekerja setiap hari untuk memilah dan membersihkan sampah plastik kemudian dimasukkan ke dalam karung yang siap dikirim ke CC milik H.Marwan di Maros.
“Sebanyak 600-700 Kg sampah dikirim setiap minggu,” kata Sahariah istri Suardi
yang turut mengelola langsung sampah-sampah plastik tersebut bersama suaminya. Sampah-sampah yang masuk ke dalam lapaknya adalah sampah-sampah yang dikumpulkan oleh petugas DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kota Makassar baik melalui Motor gerobak sebanyak 4 unit maupun Mobil Pengangkut sampah, ada juga yang berasal dari Bank Sampah di wilayah paccerakkang.
Kerjasama dengan H.Marwan sampai sekarang masih terjalin karena dinilai sudah saling percaya dan hubungan baik, termasuk harga juga masih dinilai stabil.
Sedangkan Daeng Ewa salah satu pedagang pengumpul yang juga bisa disebut sebagai lapak bersama Dg. Kulle yang berada di Kampung Matoa Daya Makassar, yang sempat juga dikunjungi tim JARAK dan LPA keduanya pernah menjalin kemitraan dengan H.Marwan sampai 2013, akan tetapi kemudian keduanya mencoba membangun kemitraan dengan pengusaha lain Karena alasan tertentu. Hal ini merupakan kebebasan bagi lapak-lapak untuk menentukan kemitraan siapa saja sepanjang tidak ada hubungan keterkaitan antara Lapak dengan CC.
Hal ini sepertinya sudah menjadi etika bentuk hubungan antara lapak dan CC yang tidak tertulis, dan semua pihak di antara mereka bisa saling memahami.
Kapasitas Daeng Ewa dalam menyuplai sampah plastiK sampai 1,2 ton/bulan ke CC milik Pak Joni di Maros sedangkan Daeng Kulle yang merupakan saudaranya sendiri mampu mengirim sebanyak 2 ton bahkan lebih menurut Daeng Saha saudara ipar dari Daeng Ewa dan Daeng Kulle. Pada lapak milik dua bersaudara ini sampah-sampah yang diterima umumnya dari warga kampung Matoa yang juga kerabatnya sendiri. Diantara mereka ada saudara,ipar, sepupu dan keponakan.
Penghuni Kampung Matoa tersebut ada satu rumpun keluarga besar dari Daeng Ewa dan Daeng Kulle yang berasal dari Jeneponto dan Bantaeng. Setiap hari selalu ada sampah plastik, tetapi hanya dua kali seminggu mengirim ke Joni. Yakni hari selasa dan Kamis.
Di antara mereka ada anak-anak dimana sepulang dari sekolah memanfaatkan waktunya untuk memulung sampah plastic di sekitar jalan raya depan Polda Sulawesi Selatan begitu juga pada hari hari libur khususnya sabtu dan minggu.
Mereka saat ini dibina oleh komunitas Sahabat Jumat Berkah untuk belajar membaca Al Quran setiap Jumat, Sabtu dan Ahad sore setelah sholat Ashar.
Satu pesan dari Tim JARAK dan LPA sulsel kepada para pengusaha sampah baik di CC maupun di LAPAK agar anak-anak yang terlibat mengumpulkan sampah, agar mengingatkan orang tuanya, supaya mereka tetap sekolah, sedangkan bagi yang putus sekolah agar mereka dapat kembali ke sekolah. Dan setidaknya orang tua mereka tidak melibatkan anaknya menjadi pemulung sepanjang masih duduk dibangku sekolah, tetapi bahwa untuk membantu orang tua paruh waktu memilah dan membersihkan sampah sebelum dikirim ke Lapak boleh-boleh saja sepanjang tidak dihabiskan waktunya disitu, karena anak-anak kita sangat rentan baik dari aspek pendidikan maupun kesehatannya. Mudah-mudah ke depan mereka bisa menjadi pengusaha sampah plastik yang lebih profesional jika mereka memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Boleh jadi mereka dapat menjadi milyader-milyader mengikuti jejak H. Marwan dari usaha sampah karena mereka telah memperoleh bekal pendidikan yang lebih baik.(rls)

