MAKASSAR, UPEKS.co.id — Pada akhir tahun 2022, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) telah meluncurkan buku panduan Literasi Media bagi Tuli.
Penyusunannya melibatkan Tuli dan aktivis yang bergerak di isu difabel seperti Perdik, SIGAB, Gerkatin Padang, Pusibisindo, Dinsos Yogyakarta, Gerkatin Ngawi, Formasi, dan relawan Tuli.
Lanjutan dari peluncuran buku panduan adalah penyelenggaraan pelatihan literasi media bagi Tuli. Pelatihan diadakan di tiga kota, yaitu Pontianak, Aceh, dan Makassar.
Di Makassar, penyelenggaraan pelatihan literasi media bagi Tuli dilaksanakan di Arthama Hotel Makassar, Jalan Haji Bau no. 5 Mangkura, Losari, Makassar pada Sabtu (17/6/2023), melibatkan Mafindo wilayah dan komunitas Tuli yang ada di wilayah tersebut.
Firmansyah MS selaku Program Manager Internews (usaid media project) mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan yang melibatkan teman-teman Tuli. Dia berharap teman-teman Tuli bisa mendapatkan pelajaran literasi media secara mendalam.
“Kegiatan untuk mereka sangat jarang makanya kita membuat kegiatan seperti ini karena mereka juga berhak terliterasi,” ujarnya.
Pelatihan ini menjadi upaya Mafindo untuk penuhi hak atas informasi bagi difabel. Difabel Tuli pun rentan terhadap persebaran hoaks dan kejahatan digital lainnya. Harapannya pelatihan ini menjadi awal bagi Mafindo untuk dapat mengedukasi berbagai kalangan.
Untuk jangka panjang diharapkan pelatihan ini dapat diselenggarakan lebih luas. Selain itu, dapat mendorong adanya sinergi antara komunitas Tuli dengan organisasi lain terkait literasi digital.
Kolaborasi antara orang dengar dan orang Tuli menunjukkan bahwa edukasi literasi media dapat dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik peserta.
Anggi salah satu peserta pelatihan literasi media bagi Tuli menyebut jika kegiatan ini sangat bermanfaat. Karena dia banyak mendapatkan ilmu dan materi yang baru.
“Rencana kedepannya saya ingin menyebarkan kepada teman-teman disabilitas lainnya tentang materi hari ini untuk mendukung kesuksesan mereka dan agar lebih inklusif lagi kedepannya terima kasih,” ujarnya.
Peserta lainnya, Emon juga merasakan hal yang sama dengan Anggi. Dia bercerita jika kegiatan ini sangat bermanfaat untuk dirinya. Sebab ada banyak ilmu baru yang sangat penting mengenai pencegahan hoaks.
“Rencananya ilmu yang telah saya dapatkan pada kegiatan ini, ketika bertemu teman-teman saya ini, saya akan memberikan informasi kepada teman-teman tuli biar mereka bisa lebih paham tentang bagaimana cara mencegah hoaks dan lebih berkembang lagi kedepannya,” ujarnya. (Jir)

