Makassar, Upeks.co.id — Tradisi Jappa Jokka Cap Go Meh di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) merupakan salah satu cara yang dilakukan warga Makassar dalam mengakhiri perayaan Imlek kembali digelar.
Cap Go Meh dikenal sebagai puncak sekaligus penutupan tahun baru, atau penutup dari rangkaian tahun baru Imlek berlangsung di
di daerah pecinan seputar jalan Sulawesi hingga jalan Riburanne, Minggu (5/1/2023) dengan berbagai hiburan menarik yang menampilkan kebudayaan etnis Thionghoa.
Menariknya, ratusan UMKM yang terdiri dari sektor kuliner, fashion, kerajinan dan berbagai macam produk UMKM lainnya memeriahkan event tahunan tersebut.
Founder Mr Green Production, sebagai pihak penyelenggara(EO) Jappa Jokka Cap Go Meh, Rosmini Hamid mengatakan event Jappa Jokka Cap go meh merupakan event tahunan yang selalu dinanti tidak saja oleh warga Thionghoa tetapi oleh seluruh masyarakat di kota Makassar.
” Event yang sudah berlangsung selama 12 tahun yang akan menjadi tanda kebangkitan dan pergerakan ekonomi di Makassar karena akan terjadi transaksi dan perputaran uang selama event berlangsung,” pungkasnya.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Makassar, Zainal Ibrahim mengatakan Pemkot Makassar memfasilitasi ratusan UMKM tersebut agar membangkitkan kembali perekonomian masyarakat pasca pandemi.
Adapun para pelaku UMKM berasal dari UMKM masyarakat umum, Tionghoa dan UMKM binaan Pemkot Makassar.
Selain itu, Zainal menuturkan acara itu juga menunjukkan bahwa kondisi Makassar sangat kondusif dalam rangka mendukung aktivitas masyarakat serta terciptanya suasana rukun dan toleransi antar umat beragama.
“Kegiatan Jappa Jokka Cap Go Meh ini juga menguatkan brand Kota Makassar sebagai ‘Kota Makan Enak’ karena dalam area Jappa Jokka tersedia banyak kuliner khas Makassar,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Umat Budhi Indonesia (Permabudhi) Sulsel, Yonggris mengatakan, kegiatan ini dimeriahkan dengan karnaval budaya hingga atraksi barongsai tonggak.
“Pada rangkaian kegiatan karnaval budaya ini, dimeriahkan dengan parade budaya lintas agama dan lintas etnis,” kuncinya. (rls)

