Kiprah Mahasiswa Asal Indonesia, dari Tour Guide hingga Mutawif

Kiprah Mahasiswa Asal Indonesia, dari Tour Guide hingga Mutawif
MUTAWIF. Mahasiswa Al Azhar Kairo, Mesir, Muh Aqil Muzakki Fauzi Lubis, membimbing jamaah Umrah JNE, saat mengunjungi Jabal Tsur, gua tempat persembunyian Nabi Muhammad SAW, dari kaum Quraisy. –SUKA/UPEKS–
Kiprah Mahasiswa Asal Indonesia, dari Tour Guide hingga Mutawif

Memetik Hikmah dari Perjalanan Umrah Bersama JNE (2)

PERJALANAN umrah tidak pernah lepas dari peran Mutawif dan ‘Tour Guide’ di Negeri Arab. Mereka bukanlah orang biasa. Penguasaan Bahasa Arab, pengetahuan agama, sejarah dan siroh Nabi yang mumpuni. Ruang inilah yang diisi sejumlah mahasiswa asal Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di beberapa perguruan tinggi di Arab Saudi dan sekitarnya. Bahkan, di beberapa tempat strategis penulis menemui banyak mahasiswa yang diberi kepercayaan oleh pemerintah Arab Saudi.

Bacaan Lainnya

LAPORAN: SUKAWATI

Adalah Muh Aqil Muzakki Fauzi Lubis, mahasiswa Fakultas Ushuluddin Tingkat II (semester IV) Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, salah satunya. Meski terbilang sangat muda, baru menginjak usia 19 tahun, namun pengetahuannya sangat luas. Jamaah Umrah JNE-Anamta yang usianya terpaut jauh di atasnya mampu dikendalikan. Dialah yang menyertai perjalanan, membimbing, dan menuntun jamaah dalam menjalankan ibadah umrah sesuai syariat dari Jeddah-Madinah-Mekkah.

Ustadz Aqil, demikian para jamaah menyapanya. Perjalanannya menjadi mutawif diwarnai cerita inspiratif. Dia mengisahkan, ketika dia melaksanakan umrah bersama ustadnya dari Mesir. Sang ustadz yang dikenal oleh banyak pelaku travel diminta untuk memberikan rekomendasi mutawif yang tepat.

“Nah, di situlah, ustad saya itu merekomendasikan saya. Disampaikan ke pengusaha travel itu, ini ada mahasiswa saya, pintar, cerdas, jago Bahasa Arab, insya Allah sangat kompeten jadi mutawif,” ceritanya dengan senyum khasnya.

PT Annur Maknah Wisata (Anamta) Tours & Travel, yang diberi rekomendasi langsung menangkapnya. Beberapa momen pun pemuda alumni pesantren di Medan, Sumatera itu, dipercaya menjadi Mutawif.

Kiprah Mahasiswa Asal Indonesia, dari Tour Guide hingga Mutawif

“Awak masih belajar juga. Jadi mutawif sangat berkesan dan penuh tantangan. Menghadapi banyak karakter yang berbeda-beda, memberi awak banyak pengalaman, pelajaran bagaimana bermasyarakat. Ini juga tantangan bagi awak gen Z, yang harus menyesuaikan diri dengan jamaah yang beda generasi.  Bagaimana agar saya memberi bimbingan tanpa terkesan menggurui,” tutur Ustad Aqil, yang kadang tetap menggunakan logat daerahnya, Lubuk Pakam, Medan.

Tawaran Mutawif bagi jamaah karyawan JNE kali ini, diakui diterimanya karena bertepatan dengan libur kenaikan tingkat. “Liburnya Tiga bulan. Jadi kesempatan buat ke sini (dari Mesir ke Arab Saudi),” cerita Ustad Aqil, yang merupakan satu dari 10 penerima beasiswa jalur Kemenag RI yang terpilih dari 1.000 mahasiswa asal Indonesia yang lulus Universitas Al Azhar angkatan 2020 ini.

Perjalanan ibadah di Madinah, jamaah Umrah JNE-Anamta dibimbing mahasiswa Jurusan Tafsir, Sulaimaniyah Istanbul Turki, Wardatul Milla Camelia asal Malang, Jawa Timur. Jamaah memanggilnya Ustadzah Warda. Dia menjadi Mutawifah khusus jamaah perempuan di Masjid Nabawi Madinah, membimbingnya melakukan rangkaian ibadah di Raodah (Makam Nabi Muhammad SAW).

“Ibu-ibu, cara do’a terbaik adalah shalat. Maka perbanyaklah shalat ketikadi Raodah ini. Panjatkan doa-doa ibu melalui shalat. Shalat Taubat, Shalat Hajat, Shalat Dhuha, semua sebisa mungkin lakukan Ibu, di sinilah salah satu tempat paling mustajab untuk berdo’a,” tutur Ustadzah Warda, memberi pengarahan.

Menurutnya, menjadi mutawifah selalu memberi kesan. “Jujur, sama jamaah JNE-Anamta kemarin yang paling berkesan bagi saya. Nyambung aja hatinya Bu, ada chemistry nya dengan jamaah,” tutur wanita yang sudah mukim beberapa bulan di Madinah ini.

Salah satu jamaah Umrah JNE, Cassanova Lawalata, mengaku sangat terbantu dan sangat berterima kasih kepada Ustadz Aqil Muzakki dan Ustadzah Warda. Bahkan, dia mengaku bangga, melihat mereka yang masih sangat muda namun ilmu agamanya luas.

“Mereka itu muda namun berwibawa. Jadi, buat kita senang, bisa ikutan semangat muda. Anaknya sopan. Jika Ibu minta tolong Ustad itu langsung gercep (gerakan cepat) banget. Do’a Ibu, semoga Nak Aqil dan Nak Warda sehat dan sukses terus. Jangan bosan-bosan membimbing jamaah umrah, terutama hadapi jamaah lansia harus ekstra sabar. Mereka itu, baru kenal, tapi sudah seperti anak sendiri. Benar-benar Allah pertemukan dengan orang-orang baik di tanah suci,” tutur Nova, jamaah asal Jakarta ini.

Bertemu dengan pemuda-pemuda Indonesia di Negeri Arab tak berhenti sampai pada Mutawif dan Mutawifah. Saat mengikuti City Tour ke Musum Al Wahyu di Distrik Jabal (Gunung) Noor, Selasa (27/9/2022), jamaah JNE kembali dipertemukan dengan mahasiswa berprestasi.

Sebanyak enam mahasiswa Umm Al-Qura University Mekkah asal Indonesia, bertugas sebagai pemandu presentasi tingkat lanjut berbahasa Indonesia. Tiga di antaranya, yang sempat ditemui penulis, adalah Muh Abdillah Januadi Putra (asal Cianjur, Jawa Barat), Hilmi, dan Hamdani.

“Kami mahasiswa asal Indonesia ada enam. Tiga orang bertugas pagi yakni kami ini dan tiga lagi bertugas siang. Jadi, di Muesum ini, ada banyak pemandu sesuai dengan asal negara pengunjung. Nah, kami ini bertugas memandu jamaah asal Indonesia,” jelas Hamdani. (suk/bersambung)