MAKASSAR,UPEKS.co.id— Anggota DPRD provinsi Sulawesi Selatan dari Fraksi PDI Perjuangan, Risfayanti Muin menggelar Sosialisasi Nilai-nilai Kebangsaan dengan tema “Keagamaan” bersama warga Kelurahan Pandang Kecamatan Panakkukang Kota Makassar, di Baruga Anging Mammiri BP PAUD dan Dikmas Sulsel, Sabtu (5/3/2022).
Andi Pangeran Nur Akbar selaku Camat Panakkukang Makassar yang hadir pada kegiatan itu menyampaikan tentang pentingnya toleransi dalam hidup bersama di Indonesia, khususnya Makassar.
Ia menegaskan jika toleransi tidak hanya sekadar kata-kata, namun harus diwujudkan dalam bentuk tindakan. “Toleransi beragama seperti warna pelangi. Toleransi bukan hanya di mulut tapi diimplementasi,” ujarnya.
“Toleransi muncul dari hati bukan dari teori. Kalau hati ikhlas menerima yang berbeda ideologi pemahaman dengsn kita Persaudaraan itu tetap ditegakkan,” tambahnya.
Risfayanti dalam sambutannya menyampaikan pentingnya empat pilar kebangsaan dalam merawat hubungan toleran antar sesama anak bangsa. “Jika empat pilar dijaga meskipun hoaks banyak bertebaran kita bisa menyaring dengan sendirinya,” ujarnya.
Risfayanti juga menyampaikan pentingnya menjaga jempol untuk tidak mudah membagikan konten yang bisa memecah belah masyarakat. “Sumber perpecahan yang paling dekat di dunia maya karena kita tidak menyaring,” ujarnya.
Di samping itu Risfayanti menekankan pentingnya menerima keberagaman dalam keagamaan agar setiap masyarakat yang berbeda agama bisa hidup rukun.
“Agama mengajarkan hal yang sama yaitu cinta kasih. Mengenal saudara kita yang lain kita mengenalnya dengan baik. Kalau beragama dengan toleransi yang tinggi maka indonesia bisa didasarkan dengan kehidupan keagamaan yang jauh lebih baik,” jelasnya.
Adapun pemateri yang diundang pada kegiatan ini adalah Ust. Ahmad Syauq yang membahas banyak hal tentang Islam dan Islamisme. Katanya, dua hal tersebut mengandung perbedaan yang sangat esensial.
“Islam adalah agama yang turun dari Tuhan, sementara Islamisme adalah tafsir atas Islam yang kadang digerakkan dengan muatan politis tersentu. Islamisme sudah bersifat politis,” ujarnya.
Syauq menegaskan jika intoleransi yang marak terjadi dalam masyarakat muslim bukan karena ajaran Islam namun karena semangat Islamisme tersebut.
Celakanya, banyak orang yang tak bisa membedakan keduanya karena Islamisme tersebut muncul di era pasca-kebenaran dimana tak jelas lagi batas-batas benar dan salah.
“Di era post truth, banyak orang yang menyuarakan dan memosting kebenaran yang melebihi dosis sehingga akan menjadi sulit membedakan mana Islam dan Islamisme,” ujarnya.
Olehnya itu, Syauq mengajak setiap peserta untuk berhati-hati berselancar di dunia maya di era post truth ini. “Biasakan kita membaca narasi yang ada agar bisa membedakan mana islam mana islamisme,” ujarnya.
“Agar kehidupan kita tidak dipecah belah oleh isu yang bisa menjatuhkan sendiri martabat kita. Dann menjadikan kesengsaraan karena saling menjatuhkan,” tandasnya. (jir)

