Anak-anak Saukang Tersenyum Bisa Sekolah Lagi

  • Whatsapp
Anak-anak Saukang Tersenyum Bisa Sekolah Lagi

Anak-anak di Dusun Saukang, Kabupaten Bantaeng, Sulsel bisa tersenyum bahagia. Kini sudah bisa menikmati sekolah tanpa terkendala biaya lagi.

Dusun Saukang tepatnya berada di Desa Baji Minasa Kecamatan Gantarang Keke, Bantaeng, Sulsel. Jarak dusun ini dengan Ibu Kota Provinsi Sulsel, Makassar sekitar 142 km.

Di dusun inilah berdiri Yayasan Pendidikan Al Hikmah, yang tak memungut bayaran bagi siswa dan siswinya. Yayasan ini didirikan oleh M Rais Hajat sejak 2008. Karena dedikasinya inilah Dia menerima Apresiasi SATU Indonesia Award tingkat Provinsi 2021.

Bacaan Lainnya

Awalnya, M Rais membangun Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang setara dengan Sekolah Dasar (SD). Saat itu belum memiliki bangunan laik yang bisa disebut sebagai sekolah. Bangunan kayu yang diubah menjadi tempat belajar bagi anak-anak Dusun Saukang.

“Pertama saya memulai MI dulu. Karena memang saat itu banyak anak-anak usia sekolah tapi tidak disekolahkan orang tuanya. Alasannya karena biaya,” ujar Rais, Kamis (23/12/2021).

Anak-anak Saukang Tersenyum Bisa Sekolah Lagi
M Rais Hajat saat membawakan materi di sekolahnya.

Anak-anak itu tak memiliki biaya untuk sekolah. Utamanya biaya transportasi dari dusun mereka ke ibukota Kecamatan Gantarang Keke, dimana sekolah terdekat berada.

“Bukan cuma karena biaya SPP, tetapi utamanya karena mereka tak memiliki biaya transportasi sehari-hari. Mereka tak sanggup untuk berjalan kaki setiap hari, karena memang jarak yang cukup jauh,” ujarnya.

Makanya, pada awal mendirikan sekolah, Rais memanfaatkan mobil tua orang tuanya untuk mengantar jemput siswa-siswinya ke sekolah.

Tak cukup sampai di situ, setelah berjalan selama dua tahun, Rais kembali membuka sekolah baru yakni Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang sederajat dengan SMP. Sekolah lanjutan bagi para siswa-siswinya yang bakal menyelesaikan studi di tingkat MI.

Jumlah siswa yang mendaftar di jenjang ini sekitar sepuluh orang. Sebagian besar adalah anak-anak Dusun Saukang yang sempat mengalami putus sekolah.

“Kami melihat saat itu banyak juga anak-anak yang sudah tamat SD tapi tak melanjutkan sekolah. Alasannya juga sama biaya,” kata Rais lagi.

Solusi Pernikahan Dini

Parahnya lagi lanjut Rais, anak-anak yang hanya menyelesaikan sekolah di tingkat SD ini rentan untuk menikah dini.
Hal itu dibenarkan Jusniati (25), salah seorang alumni yang sekolah itu yang kini sudah menyelesaikan S1 dan berprofesi guru.

Menurutnya, kalau tak sekolah, satu atau dua tahun setelahnya biasanya akan dinikahkan. “Kalau tidak ada aktivitas dinikahkan dan pilihannya membantu orang tua bertani di sawah,” ujarnya.

Jusniati bahkan sangat bersyukur dengan hadirnya MTs itu. Dia bisa memiliki banyak pilihan masa depan selain menikah dan bertani. “Saya bersyukur sekali. Saya tidak bisa bayangkan jika waktu itu tidak lanjut sekolah, mungkin akan dinikahkan dan bertani,” tambahnya.

Saat ini Jusniati telah berprofesi sebagai guru setelah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Al Ghazali, Bulukumba. Sebelumnya, Jusniati menyelesaikan sekolahnya di Madrasah Aliah (MA) juga di bawah Yayasan Pendidikan Al Hikmah juga.

MA Al Hikmah sendiri didirikan sekitar tiga tahun setelah MTs, yaitu pada tahun 2013. Jenjang ini bukan yang terakhir yang dibangun oleh Rais. Pada 2015, Dia kembali mendirikan sekolah untuk jenjang TK.

“Saya melakukan ini semua karena terinspirasi oleh pernyataan dosen penguji saya waktu ujian skripsi. Saat itu beliau bertanya setelah tamat mau kemana?,” katanya.

Dia menjawab, akan mencari pekerjaan sesuai dengan studi. “Penguji saya langsung mengoreksi, jangan selalu berfikir membawa lamaran, tapi bagaimana agar kamu yang menerima lamaran pekerjaan,” kata Rais mengingat momen ujian skripsi.

Pernyataan itulah yang kemudian bertemu dengan realitas banyaknya anak-anak Dusun Saukang putus sekolah yang memotivasi dirinya untuk membangun sekolah di kampung halaman.

“Saya memulainya benar-benar dengan kondisi apa adanya saat itu. Bangunan yang belum bisa dikatakan sebagai sekolah,” katanya.

Dia mengajak beberapa teman kuliah untuk membantunya mengajar di sekolah yang dirintisnya.

Tingkat Partisipasi Sekolah

Apa yang diinisiasi oleh M Rais dengan membangun sekolah gratis menjadi solusi atas persoalan rendahnya tingkat partisipasi sekolah secara umum di Kabupaten Bantaeng saat itu.

Berdasarkan data yang diolah dari Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Bantaeng, pada 2007 tingkat putus sekolah untuk usia SMP dan SMA memang cukup tinggi. Hal itu bisa dilihat dari tingkat partisipasi sekolah yang masih rendah. Misalnya untuk anak usia 13-15 tahun (SMP) jumlah partisipasi hanya mencapai 68% dan anak usia 16-18 tahun (SMA) hanya 44%.

Sementara jika dibandingkan dengan data terakhir yakni pada 2020 angka partisipasi mengalami perbaikan dimana untuk tingkat SMP/sederajat sebesar 81,85% dan SMA/sederajat sebesar 89,32%. (lihat table).

Anak-anak Saukang Tersenyum Bisa Sekolah Lagi

Apresiasi
Apa yang dilakukan M Rais Hajat itu mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, utamanya pihak kantor Kementerian Agama (Kemenag) yang membawahi institusi pendidikan madrasah. Kepala Kantor Kemenag Bantaeng, Muhammad Yunus dalam siaran persnya, mengapresiasi segala upaya dan kerja keras M Rais Hajat (Guru MIN Bantaeng) atas dedikasi dan perjuangannya hingga dapat meraih prestasi ini.
“Semoga diajang perhelatan tingkat nasional dapat meraih hasil terbaik untuk nama baik madrasah, Bantaeng dan Sulsel di pentas nasional,” ujarnya. (*)