Perkuat Daya Tahan UMKM Lewat Ekosistem Digital

  • Whatsapp
Perkuat Daya Tahan UMKM Lewat Ekosistem Digital
Perluas Digitalisasi Pembayaran. Pelaku UMKM di Toraja Utara mulai beradaptasi dengan penggunaan uang elektronik dalam transaksi.

*Peran OVO Akselerasi Transformasi Digital

Laporan: Muhammad Aking

Bacaan Lainnya

MAKASSAR, UPEKS.co.id– Senyum rekah jelas terlihat dari balik masker yang ia kenakan. Dengan ramah, Rian Kristianto Bobong, pemilik UKM Rumah Kopi Toraja, menyapa para pengunjung yang singgah di booth tempat produknya ia jejerkan di atas meja kecil berbahan bambu.

Rian Kristianto rupanya sedang ikut dalam sebuah pameran UMKM yang digelar setiap bulan Oktober, untuk memeriahkan event Toraja Highland Festival, di Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Dari nama UKM miliknya, Rumah Kopi Toraja, sudah menjelaskan bahwa usahanya ini memproduksi kopi asli Toraja yang jenisnya beragam.

Toraja Utara sendiri berjarak sekitar 334 km dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Lewat perjalanan darat, butuh waktu hingga 11 jam untuk sampai ke Rantepao, Ibukota Toraja Utara. Daerah tersebut tak hanya memiliki ragam adat budaya, tetapi juga kekayaan alam memukau yang didominasi oleh wilayah pegunungan.

Kendati pun jauh dari Kota Makassar, namun soal perkembangan UMKM, Tana Toraja maupun Toraja Utara juga cukup menjanjikan. Hal ini juga tidak terlepas dari sektor pariwisatanya yang turut mengangkat bisnis pelaku UMKM. Termasuk salah satunya bisnis kopi yang sedang ramai di daerah tersebut.

“Saya mengembangkan bisnis kopi ini juga untuk mengenalkan kekayaan komoditas pertanian Toraja. Apalagi kopi dari Toraja juga sudah dikenal, sehingga cukup mudah untuk promosinya,” ungkap Rian Kristianto.

Selain itu, Tana Toraja dan Toraja Utara juga sudah memadai dari sisi infrastruktur IT. Kondisi ini pun turut mendukung upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), pemerintah serta pelaku industri jasa keuangan untuk mempercepat digitalisasi ekonomi, khususnya dalam mendorong pembayaran digital hingga ke pelosok.

Rian Kristianto mengakui jika pembayaran digital sudah menjadi kebutuhan, terutama di tengah pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas fisik. Sebagai UMKM binaan Rumah BUMN Toraja, usahanya miliknya juga sudah menggunakan uang elektronik untuk bertransaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS.

Perkuat Daya Tahan UMKM Lewat Ekosistem Digital

Di sisi lain, Rian berharap seluruh pemangku kepentingan untuk lebih massif melakukan sosialisasi digitalisasi pembayaran kepada masyarakat. “Digitalisasi pembayaran seperti QRIS OVO itu tidak hanya memudahkan, tetapi juga bisa membuat kita menghindari kontak langsung saat kondisi pandemi. Hanya saja, masyarakat kita terutama di pelosok masih perlu sosialisasi untuk mendorong digitalisasi,” katanya.

Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua), Patahuddin mengatakan, pelaksanaan Toraja Highland Festival yang dirangkaikan dengan Bulan Inklusi Keuangan, merupakan salah satu upaya membangkitkan sektor pariwisata dan UMKM, serta mempercepat pemerataan layanan keuangan di daerah.

Sementara itu, Plt Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Fadjar Majardi sebelumnya menjelaskan, kegiatan Toraja Highland Festival menjadi momentum untuk UMKM naik kelas melalui ekosistem digitalisasi. Karenanya, pada pelaksanaan event tersebut, sejumlah UMKM lokal dilibatkan dalam sebuah pameran sekaligus melakukan sosialisasi pembayaran digital QRIS.

“Dalam kegiatan Toraja Highland Festival kami hadirkan kapasity building yang kami harap bisa meningkatkan kualitas UMKM. Kemudian pelaksanaan BIK merupakan wujud sinergitas dalam melakukan pemerataan layanan keuangan. Ini adalah upaya untuk mempercepat pemulihan ekonomi,” katanya.

Berdasarkan data BI Sulsel menyebutkan, transaksi pembayaran uang elektronik di Provinsi Sulsel pada triwulan II 2021 mencapai Rp1,2 triliun. Nominal itu meningkat sebesar 128,7% (yoy). Berdasarkan jenis transaksinya, 66,3% transaksi uang elektronik merupakan transaksi belanja, yang diikuti 23,1% untuk transaksi tarik tunai, dan 10,5% untuk transfer.

Meningkatnya pangsa transaksi uang elektronik selain untuk belanja, juga disebabkan oleh perluasan layanan untuk tarik tunai dari berbagai penyedia uang elektronik berbasis server seperti OVO dan lainnya. “Begitu juga dengan volume transaksinya yang meningkat sebesar 95,8% (yoy), menjadi 14,8 juta transaksi,” pungkasnya.

Perkuat Daya Tahan UMKM Lewat Ekosistem Digital

Adapun OVO sebagai salah satu aplikasi berbasis uang elektronik menegaskan komitmennya membantu UMKM di Indonesia naik kelas melalui ekosistem digital. Alasannya jelas, UMKM selama ini terbukti menjadi tulang punggung bagi perekonomian nasional.

“UMKM telah menjadi salah satu pilar bisnis OVO sehingga bisa menjadi salah satu platform pembayaran terbesar dan dapat melayani lebih banyak pengguna. Di sisi lain, UMKM juga terbantu oleh OVO karena terkoneksi dengan ekosistem tanpa batas,” urai Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur OVO.

Selama 4 tahun berkiprah di Tanah Air, OVO telah memberikan kontribusi besar pada perkembangan UMKM. Kehadiran sistem pembayaran uang elektronik OVO, berdampak pada peningkatan transaksi UMKM, pencatatan keuangan lebih teratur, dan meningkatkan literasi keuangan dengan membuka akses terhadap layanan keuangan perbankan dan digital.

Dampak positif yang diberikan OVO kepada UMKM di Indonesia itu terungkap dalam hasil survei yang dilakukan CORE Indonesia terhadap 2.001 UMKM mitra di 12 kota di 8 provinsi pada awal 2021. Hasil studi memperlihatkan, sebagian besar pelaku UMKM yang dijadikan responden merasa terbantu sejak bergabung di platform pembayaran digital OVO.

Menariknya, perbaikan yang dialami tidak hanya terkait fasilitas pembayaran nirtunai sebagai alternatif bagi pelanggan, yang ingin menghindari penggunaan uang tunai. Sebagian besar responden survei juga melaporkan peningkatan transaksi harian dan pendapatan bulanan.

Menurut Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah, sebanyak 73% UMKM sekarang ini lebih sering menggunakan uang elektronik untuk bertransaksi. Sekitar 70% UMKM mengalami peningkatan transaksi harian, dengan rata-rata kenaikan hingga 30%. Rata-rata pendapatan per bulan pun meningkat 27% bagi 68% responden yang mengalami peningkatan pendapatan setelah bergabung dengan OVO.

“Sementara ekosistem OVO seperti Grab juga memberikan dampak ekonomi sosial yang signifikan bagi UMKM di tengah pandemi Covid-19. Sekitar 91 persen pelaku UMKM yang disurvei telah terhubung dengan ekosistem luas OVO, dan mendapatkan manfaat nyata dengan rata-rata kontribusi ekosistem OVO mencapai 18% dari total penjualan mereka,” jelas Piter Abdullah. (*)