Ketua Kadin Sulsel: Subsidi Gaji Bantu Pengusaha Tekan Pengangguran

  • Whatsapp
Ketua Kadin Sulsel: Subsidi Gaji Bantu Pengusaha Tekan Pengangguran
Ketua Kadin Sulsel, Andi Iwan Darmawan

MAKASSAR, UPEKS .co.id– Pemerintah meminta pengusaha tidak melakukan PHK pekerja. Pasalnya, pemerintah akan mengucurkan program subsidi upah bagi 8,8 juta pekerja non esensial yang sudah terdaftar pada BPJS Ketenagakerjaan.

Bantuan tersebut untuk 2 bulan, masing-masing sebesar Rp500 ribu, yang dibayarkan sekaligus sebesar Rp1 juta. Mereka yang menerima bantuan subsidi upah ini adalah para pekerja non esensial, sudah terdaftar pada BPJS Ketenagakerjaan, bergaji Rp3,5 juta ke bawah per bulan.

Bacaan Lainnya

Kemudian, lokasi tempat kerjanya masuk kategori PPKM level 4 atau kritis sehingga terpaksa dirumahkan, bukan di-PHK. Pemerintah akan mengucurkan tambahan anggaran Rp 10 triliun untuk membantu para pekerja. Sebesar Rp 8,8 triliun untuk program subsidi upah, dan Rp1,2 triliun sisanya untuk menambah anggaran program Kartu Prakerja.

Hal tersebut ditanggapi secara positif Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Iwan Darmawan Atas. Ia mengatakan subsidi upah sangat tepat dimasa PPKM untuk menekan penyebaran Covid-19.

Ia mengatakan bantuan subsidi upah meringankan perusahaan sehingga mampu menekan pengangguran. Olehnya dengan bantuan subsidi upah ini nantinya perusahaan tetap membuka lapangan kerja seluas-luasnya.

“Saya kira ini sangat baik, untuk membantu perusahaan untuk tetap survive ditengah pandemi Covid-19. Karena kita ketahui PPKM ini sangat berpengaruh terhadap perusahaan, dan dengan bantuan subsidi ini membantu perusahaan menjaga biaya operasional atau cost tetap stabil,”ungkap Andi Iwan sapaannya.

Andi Menegaskan dengan bantuan subsidi ini, berarti Pemerintah Pusat berharap penuh keterlibatan perusahaan swasta dalam mendorong perbaikan ekonomi.

“Disamping akan menekan pengangguran atau PHK, dengan bantuan subsidi ini akan membantu pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi Covid-19,”tukasnya.

Sementara Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) Andi Anwar Makkatutu mengatakan bantuan subsidi tersebut dampak, sifatnya hanya sementara karena hanya dua bulan sementara pandemi Covid-19 saat ini belum bisa diprediksi kapan akan berakhir.

“Kalau dampak jangka pendek sangat membantu pekerja namun untuk jangka panjang saya kira tidak bisa, karena bantuan ini saya liat hanya dua bulan,” ungkap Andi Anwar.

Ia meminta pemerintah memberikan solusi yang memiliki waktu yang panjang karena pandemi Covid-19 saat ini semakin mengalami peningkatan sehingga waktunya belum bisa diproyeksi kapan akan berakhir.

“Saya kira itu, harusnya pemerintah memikirkan jangka panjang, perusahaan sekarang terus survive, nah kalau hanya dua saya kira tidak berdampak secara signifikan,” jelas Anwar. (Rasak)