Kejari Enrekang Tetapkan Kades Lunjen Sebagai Tersangka Baru Kasus Dugaan Penyalahgunaan ADD Tahun 2018 dan 2019

  • Whatsapp
Kejari Enrekang Tetapkan Kades Lunjen Sebagai Tersangka Baru Kasus Dugaan Penyalahgunaan ADD Tahun 2018 dan 2019

ENREKANG, UPEKS.co.id — Kejaksaan Negeri Enrekang kembali mengumumkan tersangka baru dalam kasus dugaan penyalahgunaan anggaran dana desa  tahun 2018 dan 2019 desa Lunjen, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang.

Kali ini tersangka yang sudah dalam penahanan Kejari Enrekang ini adalah Kepala Desa Lunjen berinisial LF.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, Kejari Enrekang telah melakukan penetapan dan sekalihus penahanan tersangka AJ alias A sebagai pelaksana kegiatan dalam kasus yang sama yang mengakibatkan kerugian Negara senilai Rp.497.441.000.

Saat melakukan Press release, Kasi Intel Andi Zainal Akhirin Amus mengatakan, Kades Lunjen,  LF sempat mangkir dengan alasan sakit. Hal ini dikuatkan dengan melampirkan surat keterangan sakit dari dokter PKM setempat namun yang bersangkutan tetap  dijemput paksa oleh  Tim Penyidik.

Sesuai pernyataan Kasi Intel dan Kasi Pidsus beberapa hari lalu, tentang pengembangan kasus ini dan menyatakan tak memutup kemungkinan akan ada tersangka baru jika memenuhi setidaknya dua alat bukti.

” Dan tersangka LF telah memenuhi dua alat bukti sebagai tersangka baru sehingga yang bersangkutan kita tetapkan dan kita lakukan penahanan sebagai tersangka baru tindak pidana korupsi penyalahgunaan dana desa Lunjen,” kata Kasi Intel Kejari Enrekang Andi Sainal A.Amus SH (26/7).

Dijelaskan Kasi intel menjelaskan,  tersangka selaku Kepala desa Lunjen, adalah sebagai kuasa pengguna anggaran dalam pelaksanaan proyek jaringan pipanisasi air bersih dengan pagu anggaran Rp. 350 juta yang bersumber dari Dana Desa  2028 dan  pengadaan Hydran Kran Pam lanjutan desa Lunjen dengan pagu anggaran Rp. 607.213.000, juga bersumber dari Dana Desa tahun 2019.

Penyimpangan banyak terjadi pada kasus tersebut. Mulai dari pengadaan alat pipanisasi hingga kwitansi yang direkayasa.

” Barang yang dibeli adalah barang bekas, tetapi untuk menyiasati seolah barang itu baru dan dibeli dari dialer resmi maka dibuatkan kwitansi palsu seolah-olah dari toko yang dimaksud”. Kata Andi Zainal.

Untuk itu kedua tersangka AJ alias A dan LF dikenakan pasal 2 dan pasal 3 undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak pidaba korupsi dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (Sry)