Birrul Waalidayn, Topik Bahasan Pesantren Ramadhan Virtual UMI

  • Whatsapp
Birrul Waalidayn, Topik Bahasan Pesantren Ramadhan Virtual UMI

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Hari ke-23 Pesantren Ramadhan Virtual UMI bahas “Birrul Waalidayn” oleh Dr.H.M. Hasibuddin Mahmud, SS, M.A/Ka.Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam Program Pascasarajana UMI, Rabu (5/5).

Hadir Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran UMI Dr.dr.Nasruddin Andi Mappawere, Kabid Konseling UPT.PKD UMI Syahrul, M.Psi, sejumlah Wakil Dekan IV UMI, Kabid dan KTU UPT PKD, sejumlah dosen dan mahasiswa UMI, dipandu Host Dr.M.Ishaq Shamad dan Dr.Nurjannah Abna.

Bacaan Lainnya

Dr.Hasibuddin menjelaskan birrul waalidayn, adalah berbuat baik kepada kedua orang tua. Hal ini penting, karena Rasulullah Saw, dalam Hadisnya menjelaskan perlunya berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama ibu, sampai disebut 3 kali, baru ayah 1 kali.

Mengapa demikian? Karena ibu yang mengandung, menyusui dan melahirkan kita. Pengorbanan ibu dan ayah luar biasa dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Selain itu, ayah/ibu tidak mengeluh dalam mendidik anak-anaknya, jelasnya.

Dr.Naruddin menambahkan pentingnya mendidik anak sejak masih dalam kandungan. Bahkan ada penelitian yang menunjukkan di Barat, anak yang diperdengarkan music Mozzart sejak masih dalam kandungan, cenderungberkembang sel-sel jaringan otaknya yang membuat anak tersebut lebih cerdas, apalagi jika yang diperdengarkan imurattal al-Qur’an.

Hal ini diibernarkan oleh Kabid Konseling UPT PKD UMI Syahrul, yang menyatakan penelitian Music Mozzart digunakan oleh orang-orang Yahudi untuk terapi kecerdasan anak-anaknya. Makanya tidak heran jika orang Yahudi di berbagai belahan dunia, orangnya cerdas-cerdas, sebutnya.

Dr.Nasruddin menambahkan, anak di dalam kandungan sangat penting diajak berkomunikasi oleh kedua orang tuanya. Bahkan setelah lahir, ketika ibunya memberi ASI, perhatiannya harus tertuju pada bayinya, bukan main hp atau mengerjakan yang lainnya, sehingga komunikasi yang baik antara ibu dan anaknya terjalin dengan baik, jelas dokter ahli kandungan ini.

Ketika ditanyakan siapa yang paling dominan antara ayah atau ibu dalam menentukan jenis kelamin anak di dalamkandungan? Dr.Nasruddin menjelaskan, sebenarnya orang tua dulu sudah mengajarkan jika laki-laki selalu di kanan, sehingga ketika suami istri berhubungan intim, dari kanan, maka cenderung anaknya laki-laki, begitupun sebaliknya. Namun itu hanya candaan.

Tetapi secara ilmiah sel telur ibu Ketika dibuahi di masa awal, maka cenderung anaknya perempuan, tetapi jika masa subur istri sudah di akhir-akhir kemudian dibuahi oleh sel sperma suami, maka cenderung anaknya laki-laki, jelasnya.

Selanjutnya dikemukakan mengapa anak lebih banyak menyebut nama ibunya, karena memang secara cromosom, lebih banyak energi ibu yang mengalir dalam tubuh anak.

Walaupun gen ayah juga menentukan, tetapi energi ibu-lah yang terbanyak mempengaruhi tumbuh kembangnya anak. Itulah sebabnya Rasulullah meminta pemuda/pemudi untuk mendidik anaknya 25 tahun sebelum waktunya, supaya ia dapat memperoleh keturunan yang terbaik, jelasnya.

Dr.Nurjannah Abna mengemukakan pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua, karena mereka telah mendidik dan bersusah payah membesarkan kita.

Selain itu, ibulah yang mengandung selama sembilan bulan lamanya, menyusui dan mendidik dengan penuh kasih sayang.

”Namun jangan lupa bahwa darah yang mengalir dalam tubuh sang anak, adalah darah ayah juga, sehingga nama anak disematkan di belakang nama ayah, tambah” Host Dr.M.Ishaq Shamad. (rls).