Pakar Antropologi Rekomendasikan Yassisoppengngi sebagai Upaya Menangkal Covid-19

  • Whatsapp
Pakar Antropologi Rekomendasikan Yassisoppengngi sebagai Upaya Menangkal Covid-19

 

Makassar, Upeks.co.id–Pengurus Pusat Ikatan Alumni SMA Negeri 200/1 Watansoppeng, menggelar webinar “Survive di Tengah Pandemi Covid-19: Perspektif Kesehatan, Pendidikan, dan Sosial Budaya Menuju New Normal”, Sabtu, 20 Juni 2020.

Bacaan Lainnya

Webinar ini menghadirkan narasumber; Keynote Speaker: H. Andi Kaswadi Razak, S. E., Bupati Soppeng. Prof. Dr. Hasnawi Haris, M. Hum., Ketua PGRI Sulawesi Selatan dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNM. Prof. Dr. Pawennari Hijjang, M.A., Dosen Antropologi FISIP Unhas. dr. Zainal Abidin, S.H., M.H., Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia.

Sebagai penanggap, Prof. Dr. drg. Andi Arsunan Arsin, M. Kes., Dosen FKM Unhas, Wakil Rektor 3 Unhas. Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, S.K.M., M. Kes., M. Sc .PH, Ketua Umum Persakmi Indonesia, Dr. Pinky Saptandari, Dosen FISIP Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Tasrifin Tahara, M.A. Dosen FISIP Unhas, Dr. Sakka Pati, S.H., M.H. Dosen FH Unhas, Abdul Karim, S. Pd., M. Pd., Ph.D., Sekretaris Dewan Pendidikan Soppeng.

Pada kesempatan itu, Prof. Pawennari Hijjang, M.A. yang juga Ketua Dewan Pakar Pengurus Pusat IKA SMA Negeri 200/1 Watansoppeng menyampaikan tiga pendekatan social budaya, yakni partisipasi warga, memberdayakan kekuatan local, dan kebersamaan. Kolaborasi merupakan sumber kekuatan utama mengatasi pandemic. Dalam konteks masyarakat Soppeng, filosofi Yassisoppengngi merupakan modal utama mengatasi pandemic.

Yassisoppengngi memiliki makna spirit kebersamaan, tanggung jawab, dan proteksi yang bersumber dari leluhur orang Soppeng.

Dr. Pinky Saptandari, Antropolog dari Universitas Airlangga Surabaya tiga aspek psikososiokultural untuk survive di masa pandemic, yakni perilaku hidup bersih, tanggung jawab pribadi, dan perubahan tatalaksana dalam layanan public.

“Penguatan ketahanan individu, keluarga dan masyarakat diperlukan menuju new normal dengan menyamakan persepsi dan pola piker, memperkuat jaringan komunikasi dan informasi, mengembalikan fungsi otonomi keluarga, dan memperkuat partisipasi tanpa batas,” katanya. (rls)

Pos terkait