BPJS Manfaatkan IoT Cegah Fraud dan Tingkatkan Pelayanan

  • Whatsapp

BPJS Manfaatkan IoT Cegah Fraud dan Tingkatkan Pelayanan

MAKASSAR, UPEKS— Fraud atau kecurangan masih menghantui  program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS. Sehingga kerap menciptakan kesenjangan yang amat lebar kesenjangan (gap) antara premi yang dibayar peserta dengan biaya orang per orang per bulan. Untung mengatasi fraud dalam program JKN, maka BPJS mulai mengembangkan sistem teknologi dan informasi yang diharap dapat mencegah fraud sekaligus meningkatkan pelayanan.

Bacaan Lainnya

Termasuk bagaimana memanfaatkan teknologi IoT dalam sistem BPJS Kesehatan. Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Wahyudin Bagenda  mengatakan, pemanfaatan IoT dalam bidang kesehatan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, mengurangi beban kerja, mengurangi cost dan meningkatkan produktivitas hingga meningkatkan kualitas data.

Perkembangan IoT dalam sistem JKN setidaknya ada tiga kata Wahyudin. Pertama adalah personal smart health care technology. Ini terkait dengan geometrik. Memang BPJS saat ini sudah menggunakan biometric, wearable device yang artinya peralatan  apapun terkait personal bisa digunakan, dan mobile device,” ujarnya.

Kedua, kata  Wahyudin adalah smart hospital technology yang terdiri dari tiga pengembangan antara lain remote digital care, mobile clien device dan network medical devices. Dan ketiga adalalah smart claim technology. Di antaranya digital signature, e-medrec dan e-claim. “ini mungkin  poin-pon yang akan dilakukan BPJS dalam konteks pengembangan sistem IoT dalam JKN,” ujarnya.

Salah satu teknologi yang dapat mencegah fraud, kata Wahyuddin adalah implementasi biometric untuk eligibilitas peserta yang diharapkan dapat mendeteksi terjadinya fraud melalui audit klaim. “Karena kita tahu bahwa fraud ini bisa terjadi karena peserta, bisa terjadi karena profider dan bisaterjadi di BPJS dan mungkin juga bisa terjadi karena ada regulasi yang belum clear. Untuk itu melalui teknologi maka BPJS mengembangkan suatu sistem mulai dari peserta datang ke faskes itu sudah  mulai kita lakukan pengecekan eligibilitas,” ujarnya.

Melalui teknologi tersebut, klaim dari pelayanan RJTP, RJTL dan RITL akan dikirim ke BPJS dan melakukan data analisis untuk verifikasi klaim. “dengan adanya sistem ini, maka verifikator bisa melihat dan menganalisis mana kondisi yang memang tidak sesuai sehingga menghasilkan klaim  yang layak untuk dilakukan pembayaran,” ujarnya.

Wahyuddin berharap implementasi IoT dalam JKN pelayanan peserta dapat meningkat dan fraud dalam ekosistem JKn dapat dicegah sedini dan sekecil mungkin sehingga biaya klaim JKn dapat semaksimal mungkin untuk kepentingan peserta.

Pengembangan Teknologi Informatika juga akan membantu mencegah fraud dalam rumah sakit. Sekretaris Jendral PERSI Lia Partakusuma mengatakan, digitalisasi layanan kesehatan bisa menjadi solusi buat mencegah fraud dalam rumah sakit. “Karena ini adalah sistem yang mudah, sistem yang memadai, dan juga kalau kita lihat pemerintah pun sudah berjalan ke sana,” ujarnya.

Jika dalam model yang tradisional, tatap muka antar pasien dan dokter dilakukan, melakukan pemeriksaan hingga diagnosa. Sementara dalam sistem digital melalui Artificial Inteligence dan IoT memungkinkannya secara online. “Kita bisa gunakan smartphone kita bisa pengobatan dan control terhadap pasien juga memadai dilakukan secara digital,” ujarnya. (jir)

Pos terkait