Idul Fitri 141 H Vs Covid-19 2020

  • Whatsapp
Idul Fitri 141 H Vs Covid-19 2020

Idul Fitri 141 H Vs Covid-19 2020

Oleh: Dr. Amiruddin K, M.EI***

Bacaan Lainnya

Virus covid-19, yang mengglobal membuat masyarakat dunia dan Indonesia jadi resah dan gelisah karena wabah  ini sangat mengancam kehidupan manusia. Begitu derasnya ancaman virus covid – 19 ini maka korbannya di  Indonesia telah mencapai total 21745 sembuh 5249 sedangkan yang meninggal 1351. (Fitra Firdaus: View non- AMP version at tirto.id).

Angka ini cukup signifikan. Dengan demikian maka pemerintah Indonesia melakukan social distancing serta  melakukan lakdown secara lokal yang bersifat parsial dan bahkan meningkat pada PSBB disetiap wilayah, sebagai upaya penanggulangan penyebaran virus covid-19.

Bahkan MUI juga mengeluarkan fatwa, bahwa umat Islam dibatasi untuk tidak melakukan ibadah di Masjid dan  dianjurkan untuk salat di rumah masing-masing, termasuk salat jum’at dapat diganti dengan salat dhuhur di  Rumah. Akan tetapi meskipun berbagai cara dilakukan dalam mengatasi penyebaran dan perkembangan Covid- 19, namun tetap virus covid -19 tetap menyebar dan berkembang secara cepat bahkan sampai saat ini belum ada
tanda-tamda kapan berhentinya.

Dari kebijakan pemerintah dan fatwa MUI tersebut mengundang kontropersial oleh masyarakat. Karena ketika  lokdown diberlakukan kemungkinannya menimbulkan banyak masalah dan berdampak negatif, yang berkaitan  dengan, masalah sosial, ekonomi, pendidikan dan bahkan pada kegiatan siprtual keagamaan.

Dampak dari Corona ini membuat masyarakat simalakama dan kebingungan, betapa tidak, jika masyarakat  mengikuti lokdonw sesuai surat edaran pemerintah, maka dampaknya masyarakat bisa kelaparan karena tidak  ada sumber pendapatan yang jelas dan terciptanya distribusi pendapatan yang tidak berputar, dilain sisi jika
masyarakat keluar beraktivitas dalam memenuhi kebutuhan primernya, maka wabah Corona mengancam  kesehatan masyarakat.

Sehingga Corona dan kebijakan pemerintah terhap lakdown dan PSBB kedua-duanya sama-sama mengancam  kesehatan dan kematianmeskipun itu solusi kebijakan pemerintah yang terbaik karena tinggal di rumah butuh makan  dan minum atau kebutuhan dasar harus terpenuhi sementara itu mereka tidak dapat beraktivitas dan produktif lagi khususnya kalangan papan bawah berekonomi lemah.

Ketika masuk bulan suci ramadhan dimana umat Islam menjadi wadah ibadah yang paling disakralkan bagi umat  Islam terasa sangat terganggu dengan hadirnya wabah covid-19. selain itu kehadiran wabah covid-19 ini juga  perekonomian masyarakat terganggu sehingga akan mengancam keberlamgsungan masyarakat tapi dan bahkan  mengancam stabilitas ekonomi rakyat dan bangsa secara nasional dan hal ini berujung pada kemiskinan dan  bahkan kematian.

Ketika kita bicara hari raya Idhul Fitri 1441H, sebagai puncak dari ibadah puasa, maka hari raya banyak  mengundang kontradiktif di vandemi Corona atau covid-19. Dimana pandemi covit -19, ini sama sekali tidak  menghendaki adanya perkumpulan dan pertemuan secara berkelompok.

Kalaupun pertemuan itu dapat dilakukan satu dengan lainnya, namun harus mentaati aturan medis yakni harus  menggunakan masker pengaman dan harus pasang jarak, atau social distacing, bahkan dalam mengatasi lebih  jauh penyebaran vobid-19 maka pemerintah provinsi, kota, kabupaten, melakukan lakdown secara parsial dan  bahkan sampai pada pemberlakuan PSBB.

Sementara itu pelaksanaan hari raya idul Fitri menghendaki berkumpulnya orang banyak untuk melaksanakan  shalat idul Fitri secara berjamaah. Kemudian selanjutnya orang saling memaafkan dengan berjabat tangan secara  langsung, namun semua ini bertentangan dengan covid-19, karena perkumpulan orang banyak berpotensi  terjadinya percepatan penyebaran covid-19.

Tapi sayangnya dilain sisi pemerintah dan ulama melarang untuk salat idul Fitri di masjid atau dilapangan namun  pemerintah memberikan kebebasan serta pembiaran terhadap terbukanya bandara, mall, alfamart-alfamidi Semua itu sangat mengganggu pikiran umat Islam karena bukanlah itu semuaerupakan ruang publik yang juga  berpotensi terjadinya penyebaran covid-19 secara masif dan berantai dan dapat mempercepat penyebaran virus
Corona atau vobid-19.

Sementara itu umat Islam dibatasi dan bahkan dilarang salat bersama di masjid maupun di lapangan. Padahal  salat idul Fitri harusnya dilaksanakan secara berjamaah dan diakhiri dengan hutbah idul Fitri.

Tantangan yang paling berat dihadapi umat Islam kebanyakan ketika salat idul Fitri dianjurkan untuk dilaksanakan  di Rumah masing-masing, dan hal ini yang menjadi masalah besar bagi sebagian umat Islam karena tidak semua  umat Islam bisa jadi Imam, apalagi baca hutbah idul Fitri.

Ini semua sangat berat dilakukan masyarakat Islam yang masih awam terhadap pemahaman ajaran agama  meskipun mereka shalatnya bagus sehari-hari namun untuk baca hutbah sangatlah berat dan ini bisa terjadi konflk batin dan sangat kontradiktif, sehingga dapat mengurangi rasa nikmat dan kekhusyuan ibadah idul Fitri.

Dengan demikian, maka Covid-19 sangat kontradiktif dengan pelaksanaan idul Fitri karena satu menghendaki kerumunan
orang banyak untuk salat berjamaah idul Fitri dan sekaligus silaturhim dalam rangka saling memaafkan satu  dengan yang lainnya, baik itu keluarga dekat, kerabat, sahabat dan handai Tolan.

Sedangkan virus covid -19 bertentangan dengan adanya berkumpul orang banyak karena akan mengundang  terjadinya penyebaran virus covid-19 secara cepat dan masif dan mengancam kematian terhadap kehidupan  manusia.

Oleh karena itu kebijakan pemerintah terhadap lakdown yang bersifat lokal dan parsial pada zona merah, maupun  sona hijau dan pemberlakuan PSBB, dengan social distacing serta pemakaian masker secara ketat adalah salah  satu solusi terbaik dalam menghadapi ujian yang Maha dahsyat seperti ini yakni covid -29.

Begitu juga fatwa ulama yang disinergikan dengan surat edaran Pemerintah disetiap wilayah kota dan kabupaten,  agar masyarakat tidak dapat melaksanakan shalat tarawih di bulan suci ramadhan salat Jumat di madjid begitu  juga salat idul Fitri di masjid atau pun dilapangan akan tetapi salat Idhul Fitri dilaksanakan di rumah masing-masing,  demi kemashlahatan umat yang bersifat daruriyah atau keadaan terpaksa.

Umat Islam mematuhi itu semua dengan shalat idul Fitri di rumah masing-masing.mereka tunduk dipatuh pada  pemerintah dan fatwa Majelis Ulama Indonesia meskipun itu menimbulkan kontroversial dikalangan umat Islam.  Sehingga tidak dapat juga pungkiri bahwa masih terdapat sebagian kecil umat Islam tetap melaksanakan ibadah  salat idul Fitri di masjid.

Hal ini tidak perlu di pertentangan karena itu bagian dari dinamika kehidupan yang ikut memperindah seluruh  dimensi kehidupan ini, sehingga berbeda itu indah.(***penulis, Dosen Fak. Ekonomi UIN Alauddin Makassar).

Pos terkait