MAKASSAR CITY

Yassiwajori dan Impian Bupati Amran Mahmud

Hari Jadi Wajo Ke-620

BUPATI Amran Mahmud punya mimpi. Wajo punya modal. Tinggal digerakkan. Impian bisa digapai.

Sejak dilantik. Menjadi Bupati Wajo. 15 Februari 2019. Amran Mahmud mulai mencari cara. Agar bisa mewujudkan impiannya.

Amran ingin melihat Wajo yang maju. Ingin lihat rakyatnya hidup makmur. Hidup bekercukupan. Daerahnya mandiri. Berswasembada dari semua sektor.

Dia memang lahir kota Sengkang. Ibukota Kabupaten Wajo. 11 April 1970 lalu. Tumbuh dan sekolah di kota itu. Kemudian menjadi politisi dan seorang akadamisi. Sampai akhirnya memimpin di daerahnya.

Selama empat tahun 2009–2014, Amran menjadi Wakil Bupati di kampung halamannya itu. Kini menjadi bupati di periode 2019–2024. Besama Wakil Bupati Wajo H Amran.

Amran bepikir. Bagaimana caranya menggapai semua mimpinya itu. Dia terus berpikir. Dapat. Dia merancang cara.

Namanya; pertanian terpadu. Integrated Farming System.

Waktu ketemu wartawan Upeks di Hotel Singgasana Makassar. Saat itulah Amran Mahmud banyak bercerita tentang harapan-harapannya. Di usia Wajo yang genap 620, tahun ini.

Konsepnya kira-kira begini: pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Digerakkan serentak, terintegrasi. Lahirlah Integrated Farming System.

“Itu yang kami akan lakukan,” kata Amran. “Secara masif. Melibatkan semua stakeholder,” tambah.

Toh, Wajo memiliki potensi. Bisa mendukung. Sehingga mimpi itu bisa terwujud. Memang bukan sekarang. Tapi tiga atau empat tahun ke depan.

Wajo punya Danau Tempe. Ini yang terbesar. Terletak di bagian Barat, Ditambah 27 danau lain. Luasnya tidak kurang 6.000 hektar. Cukup untuk memenuhi kebutuhan air pertanian di daerahnya. Dia berharap Wajo punya sistem irigasi pertanian yang baik.

Wajo punya garis pantai 103 km. Membentang di sebelah timur menghadap Teluk Bone. Potensi ini layak dikembangkan. Amran berharap daerahnya menjadi penghasil ikan terbesar di Sulsel.

Kabupaten ini berada pada ketinggian 0 hingga 500 m di atas perrnukaan laut. Lahan berbukit terbentang dari selatan ke utara. Dataran rendah terletak di bagian timur, selatan, tengah, dan barat. Total luas wilayah 2.506,19 km2 atau 4,01% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Nama ibukotanya: Sengkang itu. Di sebelah Selatan berbatasan Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Bone. di Utara dengan

Kabupaten Luwu dan Kabupaten Sidrap. Kalau di sebelah Timur dengan Teluk Bone. Dan disebelah Barat Wajo diapit Soppeng dan Sidrap.

“Semua akan kita padukan. Dalam sistem integrated farming sistem tadi,” kata Amran optimis.

Belum lagi, katanya, hutan rakyat. Luasnya cukuplah. Amran bercita-cita akan mengembangkan berbagai jenis tanaman. Baik tanaman jangka pendek; padi dan palawija.

“Padi ini kan masih pekerjaan utama wakyat Wajo. Saat ini,” tandasnya.

Tanaman jangka panjang juga akan dia tanam. Seperti menanam kayu; jati bongsor (jabon), jati putih, dan saegong.

“Kami bisa panen, empat atau lima tahun. Dari jabon ini kami akan produksi rumah knock down. Rumah bongkar pasang,” paparnya lagi.

Tampaknya, Bupati Arman sangat serius ingin Wajo. Bisa berkembang melampaui kabupaten tetangganya yang lain.

 

“Jadi kami akan menggerakkan semua komponen, pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan dalam sistem terintegrasi,” kata Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos, M.Si didamping istri Hj Sitti Maryam, di Hotel Singgasana, Selasa (19/3/19).

Hosting Unlimited Indonesia

Saat ini, Amran juga bekerjasama UGM. Khusus untuk pengembangan penggemuka sapi.

“Katanya ada sistem penggemukan sapi cukup cepat. Bisa satu kilo sehari,” katanya. “Itu yang akan kami lakukan,” tambahnya.

Suatu hari kelak, dia ingin melihat Wajo menjadi penghasil daging sapi terbesar di daerah ini. “Kalau bisa kebutuhan daging di Sulsel, dari Wajo nantinya,” harapnya.

Amran juga akan meneken MoU dengan Kementerian Kehutanan. “Mungkin pada hari perayaan HUT Wajo, nanti. Kami dapat kesempatan mengembangkan tanaman murbei. Sekitar 5.000 hektar,” paparnya.

Selama ini Sutra Sengkang memang cukup terkenal. Lipa Sabbe Sengkang, bahkan sudah mendunia. Nah, murbei ini akan mendukung industri sutra di Wajo. “Kami akan kembangkan sutra ini dari hulu ke hilir,” ungkapnya lagi.

Wajo juga punya gas. Melimpah. Punya sumurnya. Sekarang sudah mulai dinikmati masyarakat. Karena Wajo salah satu daerah yang sumber gas. Dan sudah mulai dinikmati warganya.

Di Wajo ada 14 wilayah kecamatan. Sabbangparu, Tempe, Parnmana, Bola, Takkalalla, Sajoanging, Majauleng, Tanasitolo Belawa, Maniangpajo, Keera, Pitumpanua, Penrang, Gilireno. Miliki 45 kelurahan. Dan 131 desa. Tanah berbukit, dataran rendah, danau, dan laut.

Bupati Amran sudah membangun instalasi gas sampai di rumah penduduk. Ribuan rumah warga di Wajo. Saat ini sudah dialiri gas siap pakai.

“Kami sudah membangun jaringan sampai ke rumah warga,” ungkapnya.

Dia belum puas. Amran juga mencari cara mengembangkan hasil tanaman kayu jangka panjang, jabon itu. Ketemulah industri rumah knokdown (rumah bongkar pasang).

“Ini akan laku. Karena rumah ini didesain dengan anti gempa,” katanya. “Kami sudah buat rumah contonya. Pada saatnya nanti akan diproduksi banyak,” tambahnya.

Baru-baru ini, Presiden Jokowi, sudah meresmikan Bendungan Passelloreng. Mulai tahun ini, mulai mengaliri 8.000 hektar sawah di Wajo.

“Ini sudah saya laporkan ke pak Gubernur,” katanya.

Tetapi, Bendungan Passelloreng, ternyata belum cukup. Masih butuh bendungan lain untuk menjamin irigasi seluruh kecamatan di Wajo. Maka, Amran, kemudian berencana. Membangun dua lagi bendungan.

“Kalau dua ini sudah jadi, maka sudah bisa memenuhi kebutuhan air seluruh kecamatan,” ujanrnya.

Harapan Bupati Amran, produksi hasil pertanian warganya bisa dua kali lipat. Dengan pembangunan infrastruktur ini.

Hasil lain dari bendungan ini. Listrik. Sekarang Wajo sudah menghasilkan listrik sendiri. Bahkan sejumlah daerah tetangga juga sudah mencicipinya. Amran berharap kedepan, Wajo bisa mensuplai listrik di provinsi ini.

“Kalau bisa nantinya, bisa kita suplai kebutuhan listrik Sulsel,” ungkapnya.

Tentu masih banyak impian yang akan dicapai. Tapi tidak bisa dilakukan sendiri. Amran akhirnya memutuskan; ‘memanggil pulang’, warga Wajo yang ada dirantau.

“Agar mereka mau kembali dan berinvestasi di kampunya,” katanya.

Masyarakat Wajo, memiliki satu semangat kebersamaan, sinergi. Namanya; ‘Yassiwajori’. Bupati Amran mengaku semangat itulah yang akan mendorong semangat untuk pulang memperbaiki kampung halaman.

Nah, sejumlah warga Wajo yang sukses di rantau, mulai menunjukkan reaksi positif. Dan berminat berinves di kampung halamannya.

“Sudah ada beberapa orang yang mulai tertarik,” katanya.

Hari ini. Wajo berulang tahun ke-620. Tampaknya, momentum ini akan menjadi waktu yang tepat menggelorakan kembali semangat Yassiwajori.

Selamat berulang tahun Kabupaten Wajo.

(Penulis; Syamsuddin Yoko)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#TRENDING

To Top