Obyek Wisata Lewaja, Sumber PAD Yang Tak Terurus

Obyek Wisata Lewaja, Sumber PAD Yang Tak Terurus

ENREKANG,UPEKS.co.id— Sejak dikelola Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata kini kondisi Obyek wisata permandian Lewaja semakin terkesan tak terurus. Padahal dulu ketiga dikelola oleh pihak ketiga, Permandian Lewaja, ramai pengunjung dari berbagai daerah karena bersih, terawat dan fasilitasnya sangat memuaskan, tapi itu di era Kepemimpinan Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung.

Pada masa itu, sumber PAD dari obyek wisata yang memiliki kolam renang dan air terjun ini cukup besar. Namun di era Bupati Muslimin Bando obyek wisata ini mulai tak dilirik lagi oleh wisatawan baik dalam dan luar daerah.

Bacaan Lainnya

Padahal Pemerintah telah membangun berbagai sarana dan prasarana sebagai penunjang di area Wisata Lewaja seperti Mushallah, bangunan untuk para pedagang kuliner dan bangunan untuk para pelaku UMKM. Namun tak satupun pedagang yang Sudi berjualan ditempat itu karena selain tak ada jaringan obyek wisata ini semakin sepi pengunjung. Akibatnya bangunan tersebut rusak karena tak ada yang menempati.

Miliaran rupiah Anggaran APBD digelontorkan untuk pembangunan diatas  namun tak berfungsi hingga saat berita ini di turunkan.

Salah satu yang membuat pengunjung tak lagi datang ke Lewaja karena kolam renangnya yang  penuh dengan lumut hijau dan sampah. Terkesan jika air kolam renang ini tak pernah diganti dan jarang bersihkan. Dari salah satu pengunjung mengatakan Lewaja di Era La Tinro La Tunrung kini sangat jauh berbeda dengan saat ini.

” Dulu seluruh area obyek wisata Lewaja bersih, ada banyak pedagang kuliner, WCnya bersih, kamar gantinya bagus,ada live musik setiap Minggu sehingga ramai pengunjung dari dalam dan luar daerah”. Ujar salah seorang pengunjung.

Sarana dan prasarana tersebut dibangun dengan harapan dapat  mendongkrak pemasukan PAD, tapi semuanya dinilai mubazir karena tidak dipelihara. Bahkan ada sebagian fasilitas yang belum pernah di fungsikan malah sudah banyak yang rusak, runtuh/anjlok dan retak-retak, sementara pemasukan daerah dari obyek wisata Lewaja ini tidak jelas jumlahnya selama beberapa tahun terakhir. 

Aktivis LMR-RI (Lembaga Missi Reclassering Republik Indonesia) Bagian Bantuan Hukum, Suparman, mengatakan sangat prihatin melihat potensi PAD yang tidak dikelola secara profesional.

Suparman juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Enrekang sebelum Bupati MB, telah mengambil langkah yang tepat untuk pengelolaan obyek wisata ini dengan menyerahkan ke pihak ke tiga dengan nilai kontrak pertahunnya kurang lebih 100 juta, dapat dibayangkan nilai 100 juta untuk PAD pertahunnya pada 12 tahun yang silam.

“Seharusnya Pemerintah Daerah proporsional dalam mengelola aset sebagai sumber PAD, dan kalau tidak mampu mengelola lebih baik serahkan kepada ahlinya, ada banyak putra daerah yang berminat untuk mengelola obyek wisata tersebut jika Pemda legowo untuk memberikan kepada pihak ketiga Bu,” kata Suparman.

Salah satu pemuda, bernama Dwi Putra, warga Talaga, Kelurahan Juppandang Enrekang  mengaku selama ini sering ke obyek wisata Lewaja 

“Di loket tersebut tetap ada petugas yang berjaga dengan memungut Rp.15,000,- / orang tapi kita tidak menerima karcis tanda masuk,” ujarnya.

Dia mengatakan kolam renang tersebut mestinya steril atau bersih, namun kolom tersebut dipenuhi lumut, sampah-sampah sehingga kelihatan jorok. Saking kotornya, beberapa hari ini Dwi sudah kapok berkunjung untuk mandi, karena setiap pulang berenang obyek wisata Lewaja badannya gatal-gatal dan alergi.

“Saya kapok-mi ke Lewaja mandi, karena setiap saya dari sana, gatal gatal seluruh badan dan alergi, sebab air kolamnya kotor berlumut banyak sampah-sampah, pokoknya jorok!”. Pungkasnya.(Sry)