BONE.UPEKS.co.id—Muncul serta menjamurnya kerajaan kerajaan baru di wilayah nusantara dalam beberapa
pekan terakhir ini yang ramai menghiasi media cetak dan elektronik, termasuk media sosial (medsos) mendapat atensi dari berbagai kalangan.
Untuk di Sulawesi Selatan, munculnya kerajaan baru itu pun mendapat perhatian khusus dari pengurus organisasi
Perkumpulan Lembaga Pemersatu Wija To Manurung (PLPWT). Wadah PLPWT selama ini dikenal berjuang untuk mengangkat nilai-nilai budaya luhur pun menanggapi kasus yang terjadi di dalam negeri tersebut.
Haji Baso Amir, salah satu inisiator pendiri Perkumpulan Lembaga Pemersatu Wija To Manurung dalam siaran persnya yang dikirim ke Upeks.co.id, Jumat malam (24/1) menegaskan, munculnya kerajaan – kerajaan baru khususnya di Pulau Jawa, harus disikapi secara cermat. Setidaknya dua hal yang harus jadi perhatian.
Pertama, munculnya fenomena sosial raja raja baru ini, sesungghnya sebuah indikator, adanya kerinduan mendalam dari nurani masyarakat, terhadap sebuah tatanan hidup sesuai jiwa budaya bangsa.
”Di lain sisi, tindakan oknum raja raja baru ini, terlihat banyak hal bertentangan prosedur maupun etika dalam warisan tradisi kerajaan yang pernah ada sebagai sebuah masalah baru,” tegas H Baso Amir.
Ketika kita berbicara sebuah kerajaan ataupun figur seorang raja, perlu kehati-hatian bagi kami di Sulawesi pada khususnya dan daerah lain pada umunya. Pertimbangannya, biasanya sosok raja itu terkait erat nilai sakral dan (diyakini) sebagai tradisi yang berasal dari garis turunan suci.
Misalnya, bangsawan Sulawesi yang memiliki hak menjadi seorang raja, itu ada mekanisme adat di internal setiap daerah kerajaan. Raja – raja Sulawesi umumnya diyakini berasal dari asal turunan yang sama,yakni dari sosok manusia paripurna.
Tokoh di awal berdirinya kerajaan kerajaan di Sulawesi berawal dari manusia pembawa cahaya (nur) dalam istilah masyarakat Sulsel manusia pembawa “ Nurung”. Selanjutnya dalam kamus budaya Sulsel disebut “ To Manurung (Manusia Pembawa Cahaya).
To manurung dalam perkembanganya, tatkala turunan semakin berkembang sehingga rumpun semakin besar, maka para turunan inipun tidak serta merta semua bisa menjadi calon raja, tapi ada mekanisme adat yang mengatur.
”Jika kita mau merujuk tradisi yang pernah diterapkan saat kerajaan- kerajaan di Sulawesi mencapai puncak peradabannya, seorang calon raja ketika itu, selain takaran darah kebangsawanan, juga memiliki takaran spiritual yang mumpuni,” tandas H Baso Amir.
Sang figur memiliki sifat pembawa cahaya yang dapat menjadi suri tauladan bagi seluruh masyarakat. Dengan demikian kefiguran seorang raja memiliki kharisma alami.
Jadi prosesnya tidak seperti gelaran pesta demokrasi, dimana seluruh masyarakat memiliki hak dipilih untuk jadi calon raja. Apalagi mengangkat diri sendiri, karena sejatinya seorang raja adalah seorang pemimpin bagi mahluk alam semesta yang dirahmati Allah Yang Maha Kuasa.
Dalam momen ini, kami ingin menegaskan, bagaimana Perkumpulan Lembaga Pemersatu Wija-To manurung selama ini berjuang ?.
Itu murni kami membatasi diri hanya untuk konsentrasi perjuangan dalam rangka mengangkat nilai nilai luhur dan kearifan lokal, tanpa ada pretensi politik. Misalnya, mau mengincar ruang politik apalagi bermimpi jadi raja ataupun mendirikan kerajaan sebagaimana marak terakhir ini.
”Kami ingin menggambarkan sesuatu yang mungkin sedikit keluar dari logika formal, bahwa kami diorganisasi ini mau berbuat, motivasinya semua berangkat dari sebuah petunjuk,” tegasnya.
Untuk persoalan petunjuk yang dimaksudkan, saya pribadi Haji Baso Amir selaku salah satu inisiator pendiri organisasi ini menandaskan, keinginan untuk berbuat semua berawal dari sebuah pejalanan panjang dengan berbagai peristiwa spiritual yang melintas.
Suatu ketika, atas petunjuk Allah SWT, ada sebuah tangkapan pesan yang tentu tidak bisa digambarkan secara teknis, tapi intinya ada sebuah pesan tentang kegamangan dan kesedihan yang amat dalam terkait dengan ke ridho-an para leluhur Sulawesi dalam melihat perjalanan anak cucunya.
Beliu menaruh harapan amat dalam yang intinya anak cucu Sulawesi bisa kembali membangun jalinan persaudaraan, tandas H Baso Amir yang didampingi, salah satu Dewan Majelis, Andi Arifin. (rls).

