Penulis Toraja Terbitkan Novel Bahasa Jawa

Penulis Toraja Terbitkan Novel Bahasa Jawa

MAKASSAR, UPEKS.co.id — Setelah berhasil menerbitkan novel Lelabuh Asmara dengan cetakan 1.000 eksemplar, Sili Suli berencana akan segera meluncurkan novel fiksi berbahasa Jawa tersebut di Yogyakarta.

Terbitnya novel Lelabuh Asmara sepenuhnya atas dukungan Dana Indonesiana tahun 2025 melalui Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Bacaan Lainnya

Hal itu dikemukakan oleh Sili Suli saat dihubungi Upeks, Kamis (2/6) kemarin.

“Penerbitan novel Lelabuh Asmara dibiayai dari Dana Indonesiana Tahap 1 dan selanjutnya saya akan segera mengajukan permohonan pencairan Dana Indonesiana Tahap 2 untuk keperluan peluncuran novel Lelabuh Asmara dan acara Bincang-Bincang Novel Fiksi Bahasa Jawa di Yogyakarta,” ungkap mantan wartawan Harian Ujungpandang Ekspres tersebut.

Lebih lanjut penulis asal Toraja itu mengungkapkan bahwa penerbitan novel fiksi bahasa Jawa tersebut dilakukan atas saran dan masukan dari salah seorang penggiat seni budaya Jawa di Yogyakarta bernama Wahyu Nugroho dan didukung oleh teman-teman seniman yang biasanya ngumpul di Posnya Seni Godod.

“Berhubung mas Wahyu Nugroho juga merupakan anggota komunitas sastra Kembang Addas, sehingga saya mempercayakan kepadanya untuk menerjemahkan naskah aslinya ke dalam bahasa Jawa. Kemudian hasil terjemahan dari mas Wahyu diselaraskan lagi oleh seorang guru bahasa Jawa di Yogyakarta bernama Wahyuni Shinta Utami,” jelas Sili Suli.

Novel Lelabuh Asmara mendapatkan testimoni dari anggota DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, serta akademisi dari UGM, UNS dan Universitas Negeri Semarang. Selain itu ada kata sambutan oleh Landung Simatupang, seorang sastrawan, aktor, penulis naskah sekaligus sutradara di Yogyakarta. Kata Pengantar novel ini ditulis oleh Mahmoud Elqadrie, seorang seniman jebolan Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI).

Sampul depan novel Lelabuh Asmara memperlihat 3 ilustrasi wayang penari yaitu Mentari dan Rembulan, serta Surya yang sedang menunggang kerbau tekken langi atau kerbau yang tanduknya satu ke atas dan satu ke bawah. Surya digambarkan sebagai seorang sosok penggembala kerbau yang berkelana dari Toraja ke Jawa untuk mencari Mataallo, adik dari Mentari yang diculik di Rantepao dan dibawa ke Surakarta.(rls)