PLN UIP Sulawesi Rencanakan Tambahan Listrik 1.184 MW Hingga 2034

PLN UIP Sulawesi Rencanakan Tambahan Listrik 1.184 MW Hingga 2034
0-0x0-0-0#

MAKASSAR,– PT PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi menargetkan pengerjaan proyek kelistrikan sebesar 1.184 MW. Proyek ini diharapkan selesai pada 2034.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, PLN UIP Sulawesi terus berupaya mempercepat pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan di Sulawesi mengikuti tumbuhnya permintaan serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Bacaan Lainnya

“Kita terus berupaya agar bisa memenuhi kebutuhan listrik masyarakat hingga pelosok,” ujar General Manager UIP Sulawesi, I Gusti  Made Aditya San Adinatha didampingi Senior Manager Perizinan, Pertanahan & Komunikasi, Henry Donald Mangatas Silaen, dan Senior Manager Perencanaan, Misdjan Endang Subrata saat Media Gathering PLN UIP Sulawesi di Kantor PLN UIP Sulawesi, Kamis (18/6/2026).

Dia mengatakan, pengembangan sistem kelistrikan itu dibagi menjadi dua jenis proyek yaitu non-EBT dan EBT.

Dia menambahkan, Sulawesi itu memiliki wilayah unik, sangat dekat dengan energi terbarukan. Ada banyak PLTA.

“Dengan potensi ini, dibutuhkan tol listrik untuk menghubungkan energi. Pemerataan akses listrik juga menjadi salah satu fokus kerja. Masyarakat yang bisa merasakan listrik berkualitas akan mampu menggerakkan ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu Senior Manager Perencanaan PLN UIP Sulawesi Misdjan Endang Subrata dalam presentasinya mengatakan, proyek non-EBT yang dihadirkan kapasitas dominan bersumber dari teknologi gas, uap, dan mesin gas untuk menjamin stabilitas beban dasar listrik di wilayah Sulbagsel.

 Menurutnya, PLN tengah menyiapkan sejumlah proyek strategis dengan total kapasitas mencapai 1.184,5 megawatt (MW) yang terdiri dari pembangkit EBT dan pembangkit non-EBT.

“Dari total proyek tersebut, pembangkit energi terbarukan menyumbang kapasitas sekitar 264,5 MW. Beberapa proyek yang menjadi fokus antara lain PLTA Bakaru 2 dan PLTA Pokko yang memanfaatkan potensi energi air di Sulsel,” kata Misdjan.

Sedangkan proyek non-EBT dengan kapasitas sekitar 920 MW masih menjadi penopang utama keandalan sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan.

Beberapa proyek yang disiapkan antara lain PLTGU/GM/GG Sulbagsel di Bantaeng, MPP Indonesia 1 di Punagaya, serta PLTMG Selayar.

Disamping membangun pembangkit, PLN UIP juga membangun jaringan transmisi sebagai tulang punggung sistem kelistrikan Sulawesi.

Untuk Koridor Backbone Selatan, PLN menyiapkan pembangunan jaringan transmisi sepanjang lebih dari 745 kilometer sirkuit (kms) yang menghubungkan Palopo, Bakaru, Sidrap, Daya Baru, hingga Bantaeng.

Beberapa ruas utama yang masuk dalam proyek tersebut yakni Palopo–Bakaru 2, Sidrap–Daya Baru, dan Daya Baru–Bantaeng. Seluruh segmen ditargetkan beroperasi pada 2028 hingga 2029.

Di sisi lain, PLN juga mengembangkan Koridor Backbone Selatan–Tengah–Tenggara dengan total panjang jalur sekitar 968,1 kms. Koridor ini menghubungkan wilayah Wotu, Bungku, Andowia hingga Kendari.

“Pembangunan transmisi ini penting untuk memperkuat interkoneksi sistem Sulawesi sehingga distribusi listrik menjadi lebih andal dan efisien,” kata Misdjan.

Sejumlah Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) juga disiapkan untuk mendukung sistem tersebut, di antaranya GITET Palopo, Bakaru, Sidrap, Daya Baru, Wotu, Bungku, Andowia, Kendari, hingga Bantaeng.

Menurutnya, pengembangan infrastruktur kelistrikan menjadi bagian dari upaya PLN mendukung investasi dan hilirisasi industri yang terus berkembang di Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia.

Melalui berbagai proyek tersebut, PLN menargetkan sistem kelistrikan Sulawesi Selatan semakin kuat, mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, serta mendukung agenda transisi energi nasional menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. (*)

 

Pos terkait