Bantaeng, Upeks.co.id — Tepuk tangan bergema di Gedung Balai Kartini, Rabu pagi itu. Satu per satu siswa melangkah ke depan, mengenakan raut bangga yang sulit disembunyikan.
Di hadapan orang tua dan guru, mereka menuntaskan satu fase penting dalam hidup—sementara di kursi undangan, Bupati Bantaeng, Muh. Fathul Fauzy Nurdin, menyaksikan momen yang bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari perjalanan panjang generasi muda daerahnya.
Sebanyak 187 siswa kelas IX SMP Negeri 1 Bantaeng resmi menamatkan pendidikan mereka dalam sebuah prosesi yang berlangsung khidmat sekaligus meriah di Gedung Balai Kartini, Rabu, 10 Juni 2026. Penamatan ini menjadi penanda berakhirnya masa belajar di tingkat sekolah menengah pertama—sekaligus gerbang menuju jenjang pendidikan berikutnya.
Di tengah suasana yang sarat haru, para siswa menerima penghargaan atas capaian akademik dan nonakademik. Nama-nama terbaik dipanggil, disambut tepuk tangan panjang dari para hadirin. Bagi sebagian siswa, momen itu menjadi penegasan bahwa kerja keras mereka selama tiga tahun tidak berlalu sia-sia.
Bupati Bantaeng, Muh. Fathul Fauzy Nurdin, yang hadir langsung dalam acara tersebut, menyampaikan rasa bangga atas capaian para siswa. Ia juga mengapresiasi peran guru dan orang tua yang selama ini menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan.
“Hari ini saya merasa sangat bangga melihat anak-anak yang telah menyelesaikan studinya. Ini juga menjadi pengalaman pertama saya menghadiri penamatan di SMP Negeri 1 Bantaeng, dan penyambutannya sangat luar biasa,” ujarnya.
Di hadapan para lulusan, ia berpesan agar semangat belajar tidak berhenti di titik ini. Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar jenjang yang dilalui, melainkan proses panjang untuk membentuk karakter dan daya saing. Ia mendorong para siswa untuk terus melanjutkan pendidikan, menggali potensi diri, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu memberi kontribusi nyata bagi kemajuan Bantaeng.
Prosesi penamatan itu pun ditutup dengan suasana penuh kehangatan. Di antara pelukan orang tua, senyum guru, dan sorak teman sebaya, terselip harapan besar: agar langkah kecil dari Gedung Balai Kartini hari itu kelak bermuara pada pencapaian yang lebih besar—bagi diri mereka sendiri, dan bagi daerah yang mereka cintai.(*)

