MAKASSAR, UPEKS— Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem resmi menunjuk Syaharuddin Alrif sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Sulawesi Selatan, menggantikan Rusdi Masse (RMS) yang telah mengundurkan diri dari jabatannya.
Penyerahan Surat Keputusan (SK) pengangkatan dilakukan langsung oleh Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem, Saan Mustopa, didampingi Sekretaris Jenderal Hermawi Taslim, di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Selain menetapkan Syaharuddin Alrif sebagai ketua, DPP Partai NasDem juga mengamanahkan Andi Rachmatika Dewi, yang akrab disapa Cicu, untuk mengemban tugas sebagai Sekretaris DPW NasDem Sulsel.
Pengamat politik dari Profetik Institute, Asratillah, menilai penunjukan Syaharuddin Alrif dan Cicu dapat dibaca sebagai langkah konsolidasi internal yang relatif aman bagi NasDem Sulsel. Menurutnya, kedua figur tersebut bukan wajah baru di lingkungan partai.
“Syahar adalah produk kaderisasi panjang, sementara Cicu punya pengalaman elektoral dan organisatoris yang cukup matang. Dari sisi struktur, duet ini memberi sinyal kesinambungan, bukan pemutusan drastis,” ujar, Minggu (25/1/2026).
Ia menambahkan, NasDem Sulsel tampak berupaya menjaga stabilitas pasca-pergeseran besar yang ditinggalkan RMS, sekaligus memastikan mesin partai tetap berjalan tanpa gejolak berlebihan. Namun demikian, bayang-bayang kepemimpinan RMS dinilai masih akan terasa kuat.
“RMS bukan hanya mantan ketua, tetapi simbol keberhasilan elektoral NasDem di Sulsel. Prestasi itu telah membentuk standar tinggi, bahkan semacam warisan psikologis bagi kepemimpinan baru,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Syahar dan Cicu tidak hanya diuji dari sisi administratif, tetapi juga secara simbolik. Tantangan utama mereka adalah meyakinkan kader dan publik bahwa NasDem Sulsel tetap solid tanpa figur sentral lama, dengan menegaskan kerja-kerja partai yang bersifat institusional, bukan personalistik.
Asratillah menilai duet ini memiliki modal yang cukup untuk menjawab tantangan tersebut. Syahar dikenal memiliki kekuatan pada kerja lapangan serta jejaring birokrasi dan politik, sementara Cicu dinilai unggul dalam komunikasi politik dan memiliki basis elektoral yang signifikan, khususnya di Kota Makassar.
“Jika peran dibagi secara jelas—ketua sebagai penggerak konsolidasi wilayah dan sekretaris sebagai penguat organisasi serta narasi politik—NasDem Sulsel berpeluang menjaga performanya. Kuncinya ada pada kekompakan internal,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa mempertahankan capaian elektoral tidak bisa hanya bertumpu pada nama besar atau struktur lama. Dinamika politik Sulsel terus bergerak, kompetisi antarpartai semakin cair, dan pemilih kian rasional sekaligus pragmatis.
“Syahar dan Cicu dituntut melakukan pembaruan strategi, memperluas basis di luar kantong tradisional NasDem, menjaga loyalitas kader DPRD, serta merekrut figur-figur baru yang relevan dengan kebutuhan lokal,” kata Asratillah.
Menurutnya, kepemimpinan duet Syahar–Cicu akan benar-benar diuji bukan di ruang konferensi pers, melainkan di daerah pemilihan yang kerap luput dari sorotan namun sangat menentukan.
“Apakah mereka bisa melampaui RMS masih terlalu dini untuk dipastikan. Yang lebih realistis adalah melihat apakah NasDem Sulsel tetap kompetitif dan tidak mengalami penurunan signifikan. Dalam politik, stabilitas pasca-transisi sering kali sudah merupakan capaian besar,” ujarnya.
“Jika duet Syahar–Cicu mampu melewati fase konsolidasi ini dengan rapi, maka peluang untuk bukan sekadar mempertahankan, tetapi juga membuka lembaran baru kejayaan NasDem Sulsel, tetap terbuka,” pungkas Asratillah. (jir)

