JAKARTA, Upeks.co.id – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menyampaikan empati dan keprihatinannya terhadap korban banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jabodetabek sejak Selasa (4/3/2025).
Hujan deras yang mengguyur sejak awal pekan menyebabkan berbagai kawasan terendam air, mengakibatkan ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Banjir Jabodetabek: Dampak dan Kerugian Warga
Banjir yang melanda Jabodetabek ini tidak hanya menyebabkan kerugian materiil tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan bagi warga terdampak. Kondisi air yang kotor dan sanitasi yang minim di beberapa lokasi pengungsian menjadi faktor utama penyebaran penyakit.
Berdasarkan data yang dihimpun, berikut adalah dampak dan kerugian akibat banjir di beberapa wilayah:
Kota Bekasi: Banjir menggenangi 25 kelurahan di 12 kecamatan, berdampak pada 18.738 kepala keluarga (KK) atau 61.233 jiwa. Sebanyak 47 KK (360 jiwa) mengungsi di musala Jumiatur Khair.
Kabupaten Bekasi: Banjir menggenangi 18 desa di 10 kecamatan, berdampak pada sekitar 13.704 KK atau 51.320 jiwa.
DKI Jakarta: Wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Barat terdampak, dengan total 770 KK atau 2.098 jiwa. Sebanyak 313 KK (1.236 jiwa) mengungsi ke lokasi pengungsian yang disediakan.
Kota Depok: Banjir menyasar 15 kelurahan di 8 kecamatan, berdampak pada 603 KK atau 398 jiwa. Kerugian material meliputi 86 rumah terdampak, 1 fasilitas pendidikan, 1 fasilitas ibadah, dan 1 jaringan pipa gas.
Kota Tangerang Selatan: Banjir melanda 5 kecamatan, berdampak pada 1.870 KK.
Kabupaten Tangerang: Banjir melanda 7 desa di 7 kecamatan, berdampak pada 1.373 KK atau 4.157 jiwa.
Selain itu, di Bekasi, seorang warga kehilangan 5 ekor kambing akibat banjir, sementara 30 ekor lainnya masih terjebak di kandang.
Hingga saat ini, evakuasi dan penyaluran bantuan masih terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, relawan, dan organisasi kemanusiaan. Pemerintah juga mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan di wilayah Jabodetabek masih tinggi.
Pentingnya Keamanan Pangan di Situasi Darurat
Saat dimintai komentarnya oleh media, Kepala BPOM Taruna Ikrar menekankan pentingnya menjaga keamanan pangan bagi para korban banjir, terutama mereka yang berada di lokasi pengungsian.
Ia mengingatkan agar masyarakat memastikan makanan yang dikonsumsi tetap aman dan higienis guna mencegah berbagai penyakit yang rentan muncul akibat bencana ini, seperti disentria, kolera, muntah, dan diare.
> “Dalam situasi darurat seperti ini, masyarakat harus lebih waspada terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi. Pastikan makanan dalam kondisi layak, tidak terkontaminasi, serta diolah dengan baik agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan,” ujar Taruna Ikrar.
Langkah Konkret BPOM dalam Menjamin Keamanan Pangan bagi Korban Banjir
Sebagai bagian dari upaya tanggap darurat, BPOM telah menerapkan sejumlah langkah konkret guna memastikan bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh warga terdampak banjir tetap aman dan layak. Berikut langkah-langkah yang telah dilakukan:
1. Inspeksi dan Pemantauan Produk Pangan di Wilayah Terdampak
BPOM mengerahkan tim pengawas ke berbagai lokasi pengungsian dan pusat distribusi bantuan pangan di Jabodetabek. Tim ini bertugas untuk:
Memeriksa kondisi makanan siap saji yang dikirimkan ke pengungsi.
Mengawasi produk pangan kemasan, termasuk masa kedaluwarsa, kondisi penyimpanan, serta kemungkinan adanya kontaminasi.
Menarik dan melaporkan produk pangan yang tidak layak konsumsi.
2. Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan Lembaga Kemanusiaan
BPOM bekerja sama dengan pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Palang Merah Indonesia (PMI), serta berbagai organisasi kemanusiaan untuk memastikan bahwa bantuan pangan yang diberikan kepada korban memenuhi standar keamanan pangan.
3. Edukasi dan Sosialisasi kepada Masyarakat
BPOM memberikan penyuluhan kepada warga di pengungsian terkait cara memilih dan mengonsumsi makanan yang aman, termasuk:
Cara mengenali makanan yang telah terkontaminasi atau tidak layak konsumsi.
Pentingnya memasak air sebelum diminum untuk menghindari penyakit akibat air kotor.
Langkah-langkah menjaga kebersihan makanan dan peralatan makan di kondisi darurat.
4. Distribusi Paket Pangan Sehat
Sebagai bentuk dukungan langsung, BPOM turut mendistribusikan paket pangan sehat dan higienis ke beberapa titik pengungsian. Paket ini terdiri dari:
Air minum dalam kemasan yang telah melalui uji kualitas.
Makanan instan yang memenuhi standar gizi dan keamanan.
Tablet penjernih air bagi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.
5. Hotline dan Posko Pengaduan Keamanan Pangan
BPOM membuka hotline dan posko pengaduan bagi masyarakat yang menemukan produk pangan mencurigakan atau mengalami gejala penyakit akibat konsumsi makanan yang tidak layak. Masyarakat dapat melaporkan melalui nomor darurat BPOM atau datang langsung ke posko BPOM di beberapa lokasi pengungsian.
Dengan berbagai langkah ini, BPOM berharap dapat membantu memastikan bahwa warga terdampak banjir tidak hanya mendapatkan bantuan pangan, tetapi juga tetap terjaga kesehatannya.
“Keamanan pangan adalah aspek penting dalam penanganan bencana. Kami akan terus berupaya agar setiap bantuan yang diberikan aman dikonsumsi dan mendukung pemulihan warga,” tegas Taruna Ikrar.
Dengan masih berlangsungnya hujan di beberapa wilayah, BPOM terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan kebutuhan logistik, terutama pangan yang aman, tetap terpenuhi bagi para korban banjir.(rls)

