MAKASSAR,UPEKS.co.id— Senada dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang terus melejit. Mendorong seluruh sektor meningkatkan kualitasnya dengan mengikuti perkembangan tersebut.
Morula IVF Makassar misalnya, memperkenalkan teknologi terbaru yakni Pre-Implamantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A). Kegiatan tersebut digelar dalam acara Fertility Talks di Hotel Gammara Makassar, Sabtu (8/4/2023).
Teknologi ini merupakan pemeriksaan untuk menilai embrio mengandung kromosom yang normal atau tidak.
Mereka yang berminat mengikuti PGT-A bisa datang di Kantor Morula IVF Makassar, di RSIA Sentosa Lantai 5 Jl Sudirman, Makassar.
Dokter Obgyn Morula IVF Makassar, Prof Dr dr Nusratuddin Abdullah menjelaskan, PGT-A membantu pasangan yang sudah gagal berkali-kali.
Utamanya pada pasangan yang usianya sudah tua, biasanya ada gangguan kromosom pada embrio.
“Ini biasanya terjadi pada ibu yang sudah tua atau usianya kisaran 38 tahun keatas,” jelasnya.
Pemeriksaan ini juga akan membantu untuk melihat apakah embrio yang dihasilkan adalah kromosom normal (euploidi), sehingga pemeriksaan ini, untuk menilai apakah ada kromosom tidak normal atau (uneuploidi).
“Jadi ketika mendapatkan kromosom tidak normal pada pemeriksaan ini, langsung disingkirkan. Sebab jika ditransfer sulit hamil, kalau pun hamil sebenarnya kromosom seperti ini akan jadi abortus,” kata dr Nusratuddin.
Sementara untuk kromosom ini, merupakan hasil interaksi yang menghasilkan indung telur pada sel telur yang berumur.
Sehingga tak ada obat yang menghambat ini, semakin tinggi umur semakin banyak yang mengalami kromosom.
Teknologi PGT-A yang pertama di Indonesia Timur ini pun disebut sebagai teknologi mutakhir pada bayi tabung.
“Kalau sudah ada PGT-A nya, itu untuk menentukan kromosom tidak normal. Sehingga membantu sekali sebenarnya,” katanya.
Lebih lanjut, dr Nusratuddin menjelaskan dengan pemeriksaan PGTA itu, maka angka kehamilan meningkat menjadi 70 persen.
Dibanding tanpa melakukan PGTA, angka kehamilannya hanya sekitar 30 sampai dengan 40 persen.
“Kalau lebih dari usia 40, embrionya biasa yang bagus itu hanya satu atau dua. Sehingga angka kehamilan ketika melakukan pemeriksaan PGTA sangat menolong tingkat keberhasilan,” jelasnya.
Adapun biaya untuk prohram PGT-A ini yakni satu embrio berkisar Rp 15 juta sampai Rp 16 juta.
“Jadi bayangkan kalau didapatkan lima embrio kalau ada lima sekitar Rp 80 juta. Tapi, itu sudah bisa terskrining yang mana embrio yang jelek, mana embrio yang bagus. Juga mampu mengidentifikasi embrio ini, laki-laki atau perempuan,” tutup dr Nusratuddin. (***)

