Makassar, Upeks- Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC) bekerjasama King Abdullah bin Abdulaziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID) yang berkantor pusat di Portugal menggelar Seminar Nasional yang dirangkaikan dengan launching film dokumenter bertemakan perdamaian dan eksplorasi beberapa lokasi bersejarah di Kota Makassar.
Kegiatan yang digelar di aula lantai II Gedung Tata Usaha Kanwil Kemenag Sulsel Jl Nuri Makassar ini dibuka oleh Koordinator Program Muhammad Afdillah dan dihadiri oleh sejumlah tokoh lintas agama, Pembimas Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha lingkup Kanwil Kemenag Sulsel serta perwakilan Ormas Keagamaan / Kepemudaan dan unsur mahasiswa.
Kegiatan diawali dengan penayangan film dokumenter berdurasi 1 jam 38 menit 22 detik, dengan pengantar film Kamiliah Hamidah, MA salah satu fellow KAICIID.
Film ini berisikan pesan perdamaian melalui ajakan untuk saling berdamai satu sama lain tanpa melihat latar belakang suku, agama dan keyakinan seseorang.
Usai penayangan film dokumenter, dilanjutkan dengan Seminar Nasional dan dialog dengan menghadirkan dua narasumber, yakni Kepala Kanwil Kemenag Sulsel yang diwakili Kabag TU H. Ali Yafid bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulsel yang diwakili Sub Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Pemprov Sulsel Muhammad Ibrahim Halim.
Pada seminar yang mengusung tema Penguatan Dialog Spiritual Praktis antar Pemuda Lintas Agama Melalui Wisata Suci ini, Kabag TU Ali Yafid dalam pemaparan materinya menyampaikan bahwa sesungguhnya akidah dan tingkat keimanan / ketaatan seseorang itu tidak teruji dalam komunitas yang homogen.
”Agama dan ketaatan seseorang tidak teruji dalam komunitas homogen, namun justru teruji pada saat bersama-sama dengan orang-orang yang berbeda dengannya. Dalam heterogernitas ini kita dituntut untuk mempertahankan akidah kita namun juga harus tetap menghargai dan menghormati kepercayaan orang lain,” ujar Ali Yafid, Kamis 9 Februari 2023.
Lebih lanjut mantan Kepala Kantor Kemenag Kab. Bulukumba ini menyampaikan bahwa Kepala Kanwil Kemenag Sulsel meski berhalangan hadir namun sangat medukung kegiatan ini dan menitip pesan agar kegiatan seperti ini terus didorong demi terciptanya kerukunan inter dan antar umat beragama.
Sementara itu, pemateri kedua Muhammad Ibrahim Halim mengapresiasi penggarapan dan penayangan film dokumenter yang dinilainya memuat pesan yang dapat menggali kesadaran masyarakat akan kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Dirinya bahkan berminat untuk membagkan film dokumenter ini di media sosial Disbudpar Sulsel.
“Film dokumenter ini betul-betul menggali kesadaran kita. Ini akan kami share di medsos Disbudpar Sulsel,” tutur Ibrahim Halim.
Mengenai gagasan penerapan konsep wisat halal di Sulsel, Ibrahim Halim menawarkan gagasan agar penamaan ini dirubah dengan nama Moslim Friendly Tourism (MFT).
“Kata halal itu selalu dikait-kaitkan dengan kebalikannya yaitu haram, sehingga di beberapa daerah konsep wisata halal ini tidak diterima. Untuk itu sebaiknya menggunakan penamaan Moslim Friendly Tourism yang diukuti dengan sosialisasi dari teman-teman di Kementerian Agama agar tidak lagi mendapat resistensi,” urainya.
Pada seminar dan dialog yang dimoderatori Founder YPMIC Dr. Nur Hidayah yang juga dosen Keperawatan UIN Alauddin ini dibuka sesi tanya jawab dengan penanya mayoritas dari para tokoh lintas agama.
Sebagai rangkaian dari kegaiatan ini, YPMIC mengagendakan untuk melakukan kunjungan wisata religi bersama Pimpinan Majelis Agama Sulsel dan para tokoh agama dan tokoh pemuda pada hari Jumat 10 Februari 2023 ke makam Pangeran Diponegoro dan makam Sultan Hasanuddin. (rls)

