Unjuk Rasa Mahasiswa Berujung Ricuh, Ini Penjelasan Kabag OPS Polres Enrekang

Unjuk Rasa Mahasiswa Berujung Ricuh, Ini Penjelasan Kabag OPS Polres Enrekang

ENREKANG,UPEKS.co.id- Mahasiswa dan aparat kepolisian Enrekang bentrok. Pada aksi yang digelar mahasiswa 11 April 2022, di Kota Enrekang. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda dan Mahasiswa (APM) se-Kabupaten Enrekang melakukan unjuk rasa yang berlangsung di beberapa titik di Kabupaten Enrekang, Senin (11/4/2022).

Bentrok antara demonstran dan polisi ini berawal saat pengunjukrasa akan membakar ban bekas.

Bacaan Lainnya

Aksi saling dorong tak dapat dielakkan karena Polisi tak mengijinkan pengunjukrasa membakar ban, sementara Mahasiswa juga ngotot untuk tetap membakar ban bekas di tengah jalan poros Enrekang Toraja.

Kabag OPS Polres Enrekang, AKP Antonius Tutleta yang memimpin langsung pengaman aksi demo tersebut kepada Upeks menjelaskan insiden yang terjadi antara aparat kepolisian dengan Mahasiswa itu terjadi karena Polisi berusaha menghalang-halangi Mahasiswa melakukan aksi blokade jalan dan bakar ban bekas.

“Tadi adik-adik itu mau bakar ban. Cuman kita batasi karena disitu kan jalan ramai dan padat perumahan. Jangan sampai bakar ban terlalu banyak dan bisa membahayakan. Makanya tadi kita ambil bensinnya dan rupanya mereka tidak terima dan terjadilah baru dorong,” kata Antonius.

Namun Kabag OPS mengakui memang adanya anggota yang terekam gambar melakukan pemukulan tapi menurutnya mereka sama-sama kena pukulan.

“Tapi sudah ditebus sama Kapolres. Sudah dipanggil, ditindaki dan diperiksa sama Kapolres tadi dimintai pertanggungjawabannya,” ujar mantan Kapolsek Enrekang ini.

Antonius juga menjelaskan, insiden yang terjadi tidak sampai menyebabkan ada yang cidera.

Terpisah, salah seorang aktivis Mahasiswa dari salah satu Universitas di Makassar Ichwanut Taqwa menegaskan sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh Aparat Kepolisian Enrekang sehingga terjadi kericuhan saat Mahasiswa sedang menyampaikan orasinya.

Putra bungsu pendiri LSM Sipakatau Kabupaten Enrekang Yusuf Noris ini menjelaskan tugas polisi dalam unjuk rasa adalah pengamanan untuk jalannya unjuk rasa.

“Sangat disayangkan ketika pihak polisi dan pihak mahasiswa harus berbenturan ketika ada unjuk rasa, bahkan itu sangat sering terjadi, dalam aksi demo/unjuk rasa harusnya mahasiswa dan kepolisian bekerja sama untuk menciptakan unjuk rasa yang aman dan terkendali tanpa adanya tindakan represif atau kekerasan terhadap pihak yang berunjuk rasa,” Kata mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Sospol Massenrempulu (HISMA) periode 20219-2020 ini.

“Karena itu bisa menimbulkan citra buruk dan tidak percayanya masyarakat terhadap pihak Polisi atau Polri dan tindakan seperti itu menurut saya adalah tindakan yang tidak perlu karena akan mencederai demokrasi yang ada di negara ini,” ujarnya. (Sry)