Literasi, Pendidikan dan Budaya Hidup Normal 

  • Whatsapp
Literasi, Pendidikan dan Budaya Hidup Normal 
Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma

Pada   akhir   2019   dunia   heboh   akibat   munculnya   wabah   dunia   bernama   virus   Corona.Pertamakali   saya   mendengar   tentang   wabah   Virus   Corona   ini   muncul   di   Wuhan   dan menyebar serta   menjangkiti   warga   di   sana.   Saya   memeroleh   informasi   dari   dua   orangponakan saya yang belajar di Fakultas Kedokteran Wuhan, Cina, Nabila dan Syarifah.

Begitu dahsyatnya,   cerita   tentang   proses   penyebaran   virus   corona   begitu   cepat   dan   masuk   ke Indonesia  pada awal 2020. Tak   bisa   disangkal   bahwa   akibat   dari   pandemi   Covid   19,   telah   memberikan   perubahan radikal terhadap  proses   belajar  mengajar   mulai  dari  pelajar   di  usia  sekolah  sampai  padaPerguruan   Tinggi.

Bacaan Lainnya

Proses   pendidikan   di   kelas   yang   selama   ini   berlangsung   efektif efektif   pihak   institusi   pendidikan   yang   bernama   sekolah,   segera   didorong melakukan perubahan   radikal   terhadap   implementasi   teknologi   pendidikan   dalam   waktu singkat. Otonomi sekolah kembali ke tangan orang tua di rumah. Dan, kaum ibu yang paling aktif dan   merasakan   betul   bagaimana   suka   dan   duka   belajar   online   di   rumah   sembari mendampingi putra-putrinya.Ironisnya, institusi pendidikan termasuk perangkatnya belumlah siap, apalagi proses otonomipendidikan   kembali   ke   tangan   orang   tua   di   rumah   belum   siap.   Selain   karena   tidak dipersiapkan menghadapi pandemi covid 19, juga sistem pembelajaran biosfa personalisasi belum menjadi budaya yang begitu memassal. Pada sisi lain, masyarakat belum memahami betul  tentang sains, tidak peduli dengan pemahaman tentang perbedaan virus bakteri, bakteri anti bodi, DNA RNA. Istilah-istilah kesehatan inilah yang belum melekat baik dalam diri masyarakat kita. Selain karena kurangnya pengetahuan tentang virus, juga masih sangat terbatasnya informasi yang akurat tentang virus-vurus tersebut.

Saya   ingin   menegaskan   kalau   literasi   sains   kita   masih   sangat   lemah.   Mengapa   terjadi penyebaran begitu dahsyat virus covid 19 karena rendahnya angkat literasi sains masyarakatyang   membuat   mereka   tidak   mengetahui   istilah-istilah   virus   tersebut.   Ketidaktahuan   dan ketidakmpampuan memahami   istilah-istilah   biologi,   medis   dan   epidemologis   merupakan sesuatu   yang   sifatnya   penting.   Sementara   untuk   mencegah   penyebaran   virus   dibutuhkan kesadaran memassal bahwa betapa berbahayanya   virus covid 19 yang bisa menyebabkan kematian.

Literasi kita di Masa Covid 19?

Apapun   kata   dunia,   kita   semua   dituntut   melakukan   perubahan   radikal   dan   segera mempersiapkan diri menghadapi covid 19 ini. Dari data OECD hanya 34 persen masyarakat Indonesia yang memiliki komputer guna mendukung pelaksanaan pendidikan berbasis online.Sementara siswa dituntut belajar mandiri yang selama ini menegaskan kalau siswa bukan hanya belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan, tapi keterampilan, sikap dan nilai yang mampu menjadikan mereka membentuk citra dirinya agar bisa menjadi pribadi yang mampuberkompetesi di masyarakat global.

Gerakan   literasi   pasca   Covid 19 haruslah mampu   pada   bidang  matematis,   sains,   digital,financial adalah perlu sikap dan keterampilan berpikir kritis, kreatif dan menimbulkan rasaingin   tahu.   Tantangannya   untuk   melakukan   perubahan   radikal   dan   spontan   diperlukan,sementara fasilitas pendidikan masih sangat terbatas yang dimiliki oleh masyarakat pelajar kita. Sesuai data  OECD  34  persen  masyarakat  Indonesia  yang memiliki  komputer  untukmenunjang kebutuhan pendidikan.Angka IPM kita masih 29 menunjukkan sulit kita bersaing dengan pertumbuhan IPM sebesar1, 25 persen pada 2019. Pada sisi lain, kesenjangan belajar ekonomi yang rentan dan masihpas-pasan.Literasi   kita   mengalami   kesulitan   dalam   membaca   di   tengah   pandemi   karena   tingkat korelasinya tinggi  antara  pandemi  dan  budaya  literasi   kita.  Akibatnya,   masyarakat  suka nonton hiburan daripada membaca. Alasannya, selain karena tingkat kecemasan yang tinggi akibat  pandemi yang begitu dahsyat membunuh manusia, satu-satunya cara adalah menghibur diri agar tidak memikirkan betapa banyak orang meninggal dunia karena pandemi.Karena   itu,   literasi   pasca   pandemi   dibutuhkan   literasi   melek   teknologi.

Menurut   saya kedepan, dibutuhkan kemampuan dan keterampilan memanfaatkan teknologi daring terutama terkait dengan   literasi   membaca,   literasi   sains,   literasi   pada   bidang   lainnya.

Karenanya,dibutuhkan kemampuan dan keterampilan menyesuaikan diri bahwa literasi pasca covid 19 dibutuhkan literasi yang membumi. Membaca dan menulis adalah salah satu refleksi literasi edukasi yang membangun budaya kolosal membaca secara terus menerus. Selain   itu,   budaya   literasi   kesehatan   merupakan   kemampuan   seseorang   untuk   membaca,memahami dan memanfaatkan informasi kesehatan yang tepat.

Di tengah masa pandemi ini,literasi kesehatan sangatlah penting terutama memberikan edukasi masyarakat tentang bahaya dari  virus corona. Banyak hal hikmah yang bisa kita tarik bahwa dengan pandemi covid 19,masyarakat dituntut membangun budaya kolosal kesehatan. Budaya hdup bersih secara terusmenerus budaya cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker adalah budaya kesehatan hidup baru.(**).

*Bachtiar Adnan Kusuma, Tokoh Literasi Sulsel, Narasumber Roadshow Minat Baca Perpustakaan Arsip Provinsi Sulsel, Rabu 25/11 di Hotel Artama.

Pos terkait