
Wonomulyo, Upeks.co.id – Pelayanan obat untuk peserta JKN-KIS sering menjadi perbincangan dan menjadi keluhan oleh sebagian peserta, bahwa hanya obat murah yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Namun, hal tersebut tidak demikian menurut Sarji, seorang peserta JKN-KIS satu ini telah merasakan pelayanan BPJS Kesehatan bahkan saat BPJS Kesehatan masih bernama PT Askes (Persero).
Saat ditemui Jamkesnews di kediamannya, Jumat (11/09), Sarji menceritakan sejarah berobatnya menggunakan obat insulin akibat didiagnosa oleh dokter penyakit diabetes mellitus.
“Setelah saya memeriksakan diri ke dokter, tidak menyangka sebelumnya akan menderita penyakit diabetes mellitus karena kondisi tubuh saya cukup bagus kuat beraktivitas sehari-hari. Namun pada suatu saat saya merasa pusing serta ada perasaan yang aneh pada rongga mulut, sehingga memutuskan untuk memeriksakan diri ke Puskesmas. Saat itu dokter curiga, maka disarankan memeriksa kadar gula dan hasilnya cukup mengagetkan karena ternyata cukup tinggi. Mulai saat itu saya langsung diberikan insulin,” ungkap pria asal Kab. Polman, Provinsi Sulawei Barat ini.
Sejak saat itu, Sarji mulai menggunakan suntikan insulin dan setiap bulannya mendapatkan insulin sampai 10 ampul.
“Kalau melihat harga sekitar Rp 250.000,- per ampul, sehingga bisa diperkirakan menghabiskan biaya Rp 2.500.000,- setiap bulannya,” jelas pria yang ramah dan murah senyum ini.
Seandainya tidak ditanggung BPJS Kesehatan, Sarji merasa tetap tidak sanggup harus menanggung sendiri biaya obat walaupun dia mempunyai penghasilan.
“Saya sudah habis ratusan ampul dan kalau mau dihitung dengan harga per ampulnya sudah puluhan juta juga dana BPJS Kesehatan yang saya gunakan,” tutur Sarji.
Sarji sengaja menyimpan ampul bekas insulin yang telah ia gunakan untuk membuktikan bahwa BPJS Kesehatan sangat membantunya yang sedang menderita penyakit.
“Untungnya lagi saya sudah terdaftar sebagai peserta Program Rujuk Balik (PRB) sehingga tidak perlu lagi repot-repot antri di rumah sakit untuk mendapatkan obat insulin tersebut, tetapi cukup mendapatkan resep dari dokter di Puskesmas lalu mengambil di apotek yang ditunjuk,” terangnya.
Sarji juga menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat, khususnya peserta baik yang gajinya dipotong maupun yang membayar sendiri, agar benar-benar menjaga kartu JKN-KIS agar selalu aktif.
“Siapa yang dapat mengetahui kapan kita akan menggunakan kartu tersebut. Penyakit tidak pernah kita undang dan tidak dapat kita tolak sehingga kewaspadaan dengan memiliki kartu JKN-KIS sangat diperlukan. Saya jadi ingat slogan BPJS Kesehatan, yakni bergotong-royong semua tertolong,” ungkap Sarji.
Sarji juga mengatakan dia telah membuktikan bahwa yang sakit benar-benar terbantu dengan adanya BPJS Kesehatan. Untuk itu, ia mengingatkan untuk selalu membayar iuran meskipun peserta tidak sakit.
“Karena di mana BPJS Kesehatan mendapatkan biaya sebanyak itu kalau bukan dari peserta yang sehat dan membayar iuran setiap bulannya,” ungkap Sarji di akhir perbincangan. (Jamkesnews.com)




