Penelitian Observasional Nebivolol Pasien Asia Menunjukkan Hasil Efektif

  • Whatsapp
Penelitian Observasional Nebivolol Pasien Asia Menunjukkan Hasil Efektif

Penelitian Observasional Nebivolol Pasien Asia Menunjukkan Hasil Efektif

JAKARTA.UPEKS.co.id– Untuk meningkatkan kesadaran terkait penanganan hipertensi, Menarini Indonesia
bersama dengan sebuah tim peneliti di Korea Selatan telah merilis hasil dari penelitian BENEFIT.

Ini adalah penelitian observasional nebivolol sesuai kondisi praktik dokter sehari-hari terbesar yang pernah
dilakukan terhadap 3.250 pasien hipertensi di Korea Seatan. Penelitian ini memperlihatkan, penggunaan  nebivolol setiap hari efektif dan dapat membantu mengontrol tekanan darah dengan lebih baik.

Stroke, penyakit jantung dan penyakit ginjal memiliki faktor risiko yang sama pentingnya, yaitu – tekanan darah  tinggi. Di dunia, satu dari empat orang dewasa memiliki hipertensi, dan jumlah penderita hipertensi di Asia Pasifik  mencapai 65% dari total populasi dunia. Lebih dari tiga perempat kenaikan prevalensi hipertensi di Asia
disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penuaan, serta pengaruh gaya hidup yang tidak sehat.

WHO memperkirakan di Indonesia, persentase jumlah orang dewasa yang memiliki peningkatan tekanan darah  meningkat dari 8% pada 1995 menjadi 32% pada 2008. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018  memperlihatkan prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1%, yang mengindikasikan adanya peningkatan  penyakit kronis ini di Indonesia.

Penanganan hipertensi mengharuskan pasien mematuhi pengobatan yang direkomendasikan, dan ini pada  akhirnya akan bergantung pada efektivitas dan tolerabilitas obat yang digunakan. Penanganan juga melibatkan  intervensi nonfarmakologis (perubahan gaya hidup) dan intervensi farmakologis yang mencakup berbagai kelas  pengobatan antihipertensi yang diberikan sebagai pengobatan tunggal atau pengobatan kombinasi.

Panduan hipertensi dari European Society of Cardiology (ESC)/ European Society of Hypertension (ESH) 2018  menyatakan bahwa kelima kelas utama obat antihipertensi yaitu, (angiotensin-converting enzyme inhibitors  (ACEIs), angiotensin II receptor blockers (ARBs), beta-blockers, calcium channel blocker (CCBs) and diuretics)  sama-sama efektif untuk hipertensi.

Beberapa obat lebih dipilih, atau tidak dipilih, bergantung pada kondisi klinis tertentu. Panduan ESC/ESH  merekomendasikan penggunaan beta-blockers sebagai obat tambahan dalam penanganan hipertensi.

Meski penyebaran COVID-19 di seluruh dunia semakin marak, dengan 2,4 juta orang positif terkena virus ini dan  lebih dari 165,000 kematian di dunia dandi Indonesia saat ini 6,575 orang positif terkena virus dan lebih dari 500  kematian , namun masih belum ada kejelasan terkait penyakit ini.

Penelitian awal menunjukkan pasien dengan komorbiditas dasar seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes  memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, yang bisa menyebabkan risiko kematian yang lebih tinggi akibat COVID-19 .

Ini merupakan hasil dari respon inflamasi sistemik yang tinggi akibat virus COVID-19, yang bisa berujung pada  serangan jantung ketika aliran darah ke jantung dibatasi karena pembekuan darah dari pecahnya plak koroner.

Namun belum ada bukti ilmiah yang mendukung peningkatan risiko infeksi COVID-19 akibat penggunaan obat  antihipertensi. Oleh karena itu, penting bagi pasien hipertensi untuk melanjutkan pengobatan dengan obat  antihipertensi demi menjaga kondisi mereka.

Penelitian kami menunjukkan efektivitas nebivolol dalam mengontrol tekanan darah terlepas dari usia, jenis  kelamin, dan indeks masa tubuh awal pasien.

Efektifitas nebivolol terlihat pada pasien baru juga pada pasien yang mengonsumsi nebivolol sebagai pengobatan  tambahan ke dalam pengobatan antihipertensi yang sudah ada sebelumnya.

Efek paling besar terlihat saat nebivolol diberikan sebagai pengobatan tunggal kepada pasien baru dan sebagai  obat tambahan untuk pengobatan antihipertensi, yang meliputi penghambat renin-angiotensin system (RAS blocker), penghambat kanal kalsium (calcium channel blocker – CCB), serta kombinasi antara RAS blockers dan  CCB.

Beberapa penelitian telah menunjukkan manfaat dari pengobatan kombinasi nebivolol dan RAS blockers, CCBs, dan diuretik dalam menurunkan tekanan darah, terang Dr. Jinho Shin,Professor and Chief of Cardiology,  Division of Cardiology, Department of Internal Medicine, Hanyang University Seoul Hospital, Seoul, Korea, penulis
pertama penelitian BENEFIT ini.

“Selain itu, penelitian BENEFIT ini, yang merupakan penelitian observasional dalam jumlah besar pada pasien di  Asia, menunjukkan tolerabilitas nebivolol pada pasien dengan hipertensi dibandingkan dengan beta-blocker generasi lama.

Nebivolol memiliki profil efek samping yang lebih baik, termasuk efek yang tidak diharapkan terkait fungsi  seksual. Kedua sifat ini, yaitu tingkat efektivitas dan tolerabilitas, berperan penting agar pasien benar-benar mau mematuhi penanganan hipertensi yang dianjurkan.

Penelitian ini sangat baik untuk membantu para dokter menangani pasien hipertensi di Indonesia,” ujar dr.  Erwinanto, perwakilan dari Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (Perhi).

Reinhard Ehrenberger, Presiden Direktur, Menarini Indonesia, menambahkan, “Menarini Indonesia berkomitmen  melayani kebutuhan pasien di Asia yang masih belum terpenuhi saat ini dan di masa depan.

Komitmen ini  mencakup identifikasi dan pengembangan solusi inovatif terkait kesehatan, sambil terus mendukung penelitian
baru.

Dengan berbagi hasil penelitian BENEFIT ini, kami berharap bisa membantu para dokter di Indonesia dalam  melayani pasien melalui akses terhadap riset dan pengetahuan terbaru. Penelitian ini juga sejalan dengan panduan hipertensi ESC/ESH 2018 yang merekomendasikan penghambat beta dalam penanganan hipertensi. (rls).

Pos terkait