ENREKANG, UPEKS.co.id — Seorang pengidap HIV Aids dari keluarga tidak mampu, warga salah satu Desa di Kecamatan Anggeraja Enrekang meninggal dunia diruang ICU RSUD Maspul sekitar jam 9.45 waktu setempat, Kamis (8/82019). Pasien meninggal setelah mendapat perawatan dokter selama dua hari.
Menurut Kepala Seksi rehabilitasi penanganan HIV dan Napza Dinas Sosial Kabupaten Enrekang Hj. Jumriati. S. Sos. Pagi ini ( Kamis Red) keluarga penderita datang ke Kantor Dinsos Kab. Enrekang untuk diuruskan BPJS karena selama ini MY tidak memiliki BPJS.
” Kita sementara uruskan semua kelengkapan untuk pengurusan BPJS, tapi diurungkan karena pasien meninggal dunia. Sebenarnya seandainya keluarga pasien datang kemarin kita masih sempat uruskan SKTM, tapi baru pagi tadi ada yang datang makanya baru kami uruskan”. Kata Jumriati yang dibenarkan oleh Kepala Seksi Rehabilitas Sosial Anak, Penyandang Cacat dan Lansia Dinas Sosial Kab. Enrekang Fatimah Mobbo.
Jumriah mengatakan pasien ini baru sekitar 4 hari berada dikampung halamannya di Enrekang, selama ini almarhum dan keluarganya menetap di Banjarmasin, tapi setelah kondisinya para MY dibawa pulang oleh istrinya.
Penanggung jawab ICU RSUD Maspul Enrekang Ns. Riny Indriany, S. Kep mengatakan pasien masuk ruang ICU sekitar pukul 16.00, Rabu (7/8/2019) namun sebelumnya sufah mendapat penanganan konseling di UGD RSUD Maspul sekitar pukul 13.50.
Menurut Riny riwayat pekerjaan pasien dipelayaran memang berpotensi mengidap penyakit yqng menggerogoti sistem kekebalan tubuh tersebut. Apalagi ketika masuk bakteri dan virus yang ada ditubuh pasien sangat aktif.
” Memang waktu masuk kondisinya sudah tidak bagus. Menurut istrinya, sebelumnya Almarhum juga sudah dirawat di Banjarmasin”. Kata Riny.
Dengan adanya kasus ini berarti Enrekang bertambah lagi satu orang kasus HIV Aids. Informasi yang kami himpun dari Konselor HIV Aids Kab. Enrekang sejak tahun 2012 terakumulasi jumlah pasien HIV Aids di Enrekang sudah mencapai diatas 50 orang. Itu artinya selama tujuh tahun terakhir penyakit menular ini sudah mengancam nyawa warga Enrekang sebanyak itu. Apalagi rata – rata pasiennya sudah banyak yang meninggal dunia.
Supriadi kepala seksi Penanggulangan penyakit menular (P2M) Dinas Kesehatan Kab. Enrekang yang didampingi Armywaty Alni konselor HIV di Puskesmas Kota mengatakan selama ini pasien kebanyakan berobat di Kabupaten tetangga karena malu jika ketahuan identitasnya.
Namun Army mengatakan pasien yang saat inipun dia tangani tetap harus mangambil obat di Rumah Sakit Pare – Pare. Ini dikarenakan belum tersedia layanan bagi penderita HIV Aids di RSUD Massenrempulu. Akibatnya meski dalam perawatan konselor namun obatnya tetap harus dijemput diluar Kabupaten Enrekang.
” Jadi dalam kondisi pasien yang lemah karena sakit sangat tidak mungkin dia yang pergi sendiri mengambil obat di Parepare. Selama ini saya yang selalu ke Parepare untuk ambilkan obat”. Kata Army.
Ia berharap RSUD Maspul satu saat sudah mampu menangani pasien HIV Aids, agar mereka tidak lagi harus keluar daerah untuk berobat. ( Sry )




