Chaidir Syam, Politisi Peduli Gerakan Literasi

  • Whatsapp

Chaidir Syam, Politisi Peduli Gerakan Literasi

MAKASSAR,UPEKS.co.id—Salah satu kekuatan yang membuat sebuah daerah bertahan hingga saat ini, karena  nilai-nilai kearifan lokal dan budaya konten lokal tetap mendapat perhatian besarpemkabdan DPRD
jadi skala prioritas.

Bacaan Lainnya

Kita ini masih bertahan sampai saat ini karena mampu menjaga dan merawat nilai-nilai kearifan lokal dan  kebudayaan daerah. Salah satu caranya dengan menumbuhkan tradisi membaca dan menulis yang dimulai dari  lingkungan keluarga, sekolah dan lembaga- lembaga pendidikan.

Seruan dan ajakan membaca tak sekadar retorika dalam kegiatan seremoni. Terpenting menggerakan literasi  sebagai gerakan semesta yang memassal dalam berbagai kesempatan.

“Kami bersyukur karena H.A.S. Chaidir Syam, Ketua DPRD Kab. Maros punya semangat memperjuangkan  gerakan literasi bukan sekadar bicara, tapi diwujudkan dalam kerja nyata. Mendukung gerakan literasi dimulai dari  diri sendiri, diwujudkan dalam karya nyata, bukan sekadar pseudo literasi,” kata Tokoh Penggerak Literasi Sulsel,  Bachtiar Adnan Kusuma (BAK) saat diskusi bersama Pengurus Daerah BKPRMI Kab. Maros, Selasa (2/7) di Maros.

Menurut Sekjend Asosiasi Penulis Profesional Indonesia Pusat ini, kita butuh figur politisi yang gerakan literasi di daerah-daerah. Hanya dengan dukungan para politisi dalam memperjuangkan hadirnya regulasi Perda membaca dan manulis di setiap kabupaten kota bisa menjadi urat nadi peradaban.

“Kami apresiasi Chaidir Syam yang telah memulai memperjuangkan literasi di Maros dengan tersruktur dan terencana,” kata BAK.

Sementara itu, Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia( BKPRMI) Kab. Maros, Rudy Mulyawan menilai, Chaidir Syam memiliki hubungan historis dengan keberadaan pemuda remaja masjid di Maros.

Ia menilai, Chaidir Syam sosok pribadi pemimpin yang selalu terbuka pada gerakan anak muda di Kab. Maros. “
Kami berharap Chaidir Syam memperjuangkan hadirnya regulasi literasi ke depan dengan mewajibkan membaca buku bagi anak-anak di sekolah sekaligus regulasi melarang anak sekolah main HP pada jam-jam belajar maupun jam-jam belajar mengaji di masjid maupun di setiap sekolah,” kata Rudy.(rls).

Pos terkait