Syamsuddin Aziz: Komunikasi Inklusi Sudah Menjadi Kesadaran Global

Syamsuddin Aziz: Komunikasi Inklusi Sudah Menjadi Kesadaran Global

 

Makassar, Upeks.co.id — Syamsuddin Aziz, Ph.D yang berbicara mengenai advokasi akademik melalui pendekatan-pendekatan penelitian parsipatoris emansipatoris mengatakan bahwa komunikasi inkusi bagi penyandang disabilitas sudah menjadi kesadaran global. Karenanya kehadiran penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial kita harus dipandang penting.

Bacaan Lainnya

Tampil sebagai pemateri pada Webinar Memperingati Hari Disabilitas Internasional, yang diselenggarakan Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Hasanuddin (UNHAS), “Kalau dulu kita menganggap bahwa kehadiran mereka tanpa makna sama sekali, dengan kesadaran global ini justru kita harus memandang bahwa kehidupan sosial kita tidak bermakna sama sekali tanpa mereka,” ujar Syamsuddin.

Baginya universitas seharusnya menginisiasi riset-riset yang mengadvokasi secara akademik lahirnya kebijakan-kebijakan yang membantu penyandang disabilitas. Pendekatan-pendekatan partisipatoris emansipatoris lanjut dia, sebaiknya dikembangkan untuk memahami kebutuhan penyandang disabilitas.

“Mereka tidak boleh ditempatkan sebagai objek riset saja tapi harus sebagai subjek riset yang secara bersama-sama dengan peneliti sebagai co-resercher menghasilkan pengetahuan,” urainya. Sembari menambahkan mereka lebih mengerti dunia mereka daripada peneliti.

Webinar Internasional terkait inklusi digital bagi penyandang disabilitas (06/12/2022). Mengusung tema “Innovation and Digital Inclusion: Ensuring access and inclusion for people with disabilities”, bekerjasama dengan La Trobe University, Melbourne dan Australia-Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN). Kegiatan ini bertujuan mendorong inisiatif guna peningkatan partisipasi penyandang disabilitas di era kemajuan teknologi.

Nabila May Sweetha Mahasiswi Ilmu Politik, FISIP Unhas yang juga Penyandang disabilitas muda berprestasi se Indonesia, dalam materinya memaparkan bahwa inovasi teknologi sangat membantu dirinya yang merupakan difabel penglihatan sejak usia 14 tahun. Sebagai mahasiswa yang terpilih menjadi pemuda berprestasi oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga, Nabila sendiri telah mendapatkan lebih dari 10 prestasi di tingkat nasional dan internasional pada perlombaan bidang public speaking dan menulis.

“Kedua bidang itu memerlukan banyak informasi dan wawasan yang luas untuk menghasil tulisan dan topik pembicaraan yang baik. Salah satu inovasi teknologi digital yang sangat saya syukuri adalah pembacara layar. Selama ini saya mengakses buku digital dengan bantuan fitur tersebut,” pungkasnya.

Nabila mengatakan bahwa teknologi tidak memberikan dampak negatif pada penyandang disabilitas tetapi memberikan janji aksesibiltas yang sangat besar. Menurutnya Inklusi adalah ruang dimana semua orang diizinkan untuk berpartisipasi.

“Saran saya jangan takut berinteraksi dengan difabel. Saya sendiri senang sekali kalau di kampus ada yang menegur. Selalu membangun komunikasi karena selama ini diskriminasi terjadi karena banyak sekali orang yang berasumsi dan menolak untuk berkomunikasi,” tutur Nabila.

Prof Erik Van Vulpen, Deputy Director Centre for Technology Infusion at La Trobe, Melbourne dalam materinya sendiri menyampaikan bahwa masalah inklusi bukan masalah teknologi tetapi common sense dan kebijakan publik. Dirinya mengatakan bahwa banyak fasilitas umum dibuat tanpa memikirkan kebutuhan penyandang disabilitas. Contohnya jutaan dolar Australia dikeluarkan untuk membeli kereta baru yang ternyata toiletnya tidak dapat diakses oleh pengguna kursi roda.

“Selama bertahun-tahun banyak janji yang dibuat tentang potensi teknologi sebagai solusi, namun hanya membawa kekecewaan. Seperti Google glass yang katanya akan membantu difabel melihat. Teknologi ini dijanjikan dari 20 tahun namun sampai sekarang belum terwujud. Saya berpikir barulah sekarang dengan keadaan perkembangan teknologi yang ada bisa memenuhi janii tersebut,” jelas Erik.

Dekan FISIP UNHAS, Dr. Phil. Sukri, M.Si. menyebutkan Webinar juga merupakan implementasi dari Suistanable Development Goals (SDGs), “Pada prinsipnya memberi ruang inklusi khususnya pada saudara-saudara kita yang difabel, melalui Webinar ini kami juga mendapatkan banyak catatan untuk menjadi lebih bisa mengakomodasi semangat inklusivitas dalam pengelolaan fakultas dan universitas,” ungkapnya. Catatan ini perlu kami perhatikan dan cermati agar semua orang punya akses yang sama pada layanan yang kami berikan di fakultas dan universitas, tambahnya.(rls)