Ambon, Upeks.co.id – Kepala BPJS Kesehatan Cabang Ambon, HS Rumondang Pakpahan mengatakan bahwa BPJS Kesehatan selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Salah satunya dengan melakukan penilaian Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
Pada penilaian tersebut, Rasio Peserta Prolanis Terkendali (RPPT) di Kota Ambon menjadi indikatornya. Indikator KBK yang harus dicapai yaitu angka kontak komunikasi, rasio rujukan nonspesialistik, dan rasio peserta prolanis terkendalinya.
“RPPT merupakan indikator untuk mengetahui optimalisasi penatalaksanaan Prolanis oleh FKTP dalam menjaga kadar gula darah puasa bagi pasien Diabetes Mellitus tipe 2 (DM) atau tekanan darah bagi pasien Hipertensi Essensial (HT),” ujar Mondang, Jumat (28/10).
Mondang menyebut indikator tersebut dinilai sangat penting karena cukup baik dalam pengelolaan capaian RPPT tahun 2022, baik bagi peserta prolanis Diabetes Melitus (DM) maupun Hipertensi (HT).
“Di Kota Ambon, yang terdaftar sebagai peserta prolanis HT ada sejumlah 806 peserta dan 375 orang peserta prolanis DM namun minimnya kontak peserta Prolanis DM serta pemeriksaan, menyebabkan rendahnya capaian RPPT di FKTP. Hal ini perlu menjadi perhatian untuk dilakukan upaya perbaikan,” ungkap Mondang.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Ambon, Sioly Soempiet menyampaikan agar Puskesmas yang telah melakukan pengelolaan peserta Prolanis terkendali dengan baik, bisa melakukan sharing sehingga Puskesmas lain dapat melakukan perbaikan pelayanan.
Menurutnya, Program Prolanis merupakan bukti bahwa Puskesmas memiliki peran penting menjaga penderita penyakit kronis bisa terjaga kesehatannya. FKTP yang berfungsi sebagai gate keeper harus menjaga yang sehat agar tetap sehat dan yang sakit tidak menjadi semakin sakit.
“Kami akan berupaya melakukan rekomendasi dari BPJS Kesehatan untuk mengelola pasien prolanis terutama dengan membuat grup khusus dan aktif melakukan sejumlah kegiatan prolanis,” tuturnya.
Sioly mengingatkan, perlu ada peningkatan pengelolaan peserta Prolanis DM dan HT bagi peserta yang terdiagnosa DM dan HT, pemeriksaan bagi peserta Prolanis yang berkunjung terutama DM yang persentasi jumlah peserta diperiksanya sangat sedikit. (yr)

