Diskusi Publik Empat Lembaga, Ketua Komwil LMR RI Sultra: Melenceng Dari Substansi

Diskusi Publik Empat Lembaga, Ketua Komwil LMR RI Sultra: Melenceng Dari Substansi

KOLAKA,UPEKS.CO.ID– Ketua Umum (Ketum) Komisariat Wilayah (Komwil) Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia (LMR-RI) Sulawesi Tenggara (Sultra), Haning Abdullah menilai bahwa diskusi publik yang diinisiasi oleh empat lembaga masing-masing BPC Gapensi, Lider Sultra, Karang Taruna dan Kolaka Media Institute (KMI) digelar, Jumat (23/9/22) di salah satu kedai kopi jalan Tamalaki Kolaka agak melenceng dari substansi.

Diskusi publik yang mengusung tema “Kolaka 2024 siapakah?”, dengan perspektif dunia usaha, dunia pendidikan, pemberdayaan kepemudaan dan penyerapan aspirasi menghadirkan narasumber dari kalangan organisasi dunia usaha, politisi, kalangan birokrasi, anggota dewan dan ketua-ketua partai. 

Bacaan Lainnya

“Saya menilai diskusi itu agak melenceng dari substansi, karena dalam diskusi itu cenderung hanya mangarah ke forum curhat,” kata Haning yang juga mantan jurnalis salah satu media di Makassar, Minggu (25/9/22).

Meski demikian, ia mengapresiasi kepada penginisiasi terlaksananya diskusi publik tersebut tersebut.  Hal ini mencerminkan adanya kepedulian terhadap daerah ini dalam menghadapi hari esok lebih baik.

Selain itu, kata Haning diskusi itu sebagai referensi bagi siapapun calon pemimpin kedepan harus memiliki kepekaan terhadap kearifan lokal. 

“Diskusi ini merupakan salah satu referensi membangkitkan energi baru bagi siapapun calon pemimpin Kolaka kedepan, harus peka terhadap dunia usaha, pendidikan, pemberdayaan kepemudaan dan penyerapan aspirasi masyarakat yang merupakan topik diskusi,” kata Haning, mantan pelaksana Direktur Utama salah satu BUMD Pemda Kolaka. 

Dalam hal peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu topik dalam diskusi, bahwa Kolaka telah memiliki Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dan setiap tahun menelorkan ribuan sarjana dari berbagai jurusan. Dan yang menjadi permasalahan apa feedbacknya bagi pemuda-pemudi kita yang sudah menyandang gelar sarjana, ini bisa menimbulkan suatu masalah yang perlu dipikirkan solusinya, sehingga kembali lagi pada masalah pemberdayaan. 

Pihaknya sebagai lembaga mitra negara kata Haning berharap kepada Pemda Kolaka melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan besar yang ada di daerah ini dalam hal penerimaan tenaga kerja lebih memprioritaskan penerimaan tenaga kerja lokal sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing. 

Begitupun dengan pemberdayaan kepemudaan, ia menilai bahwa potensi sumber daya manusia pemuda-pemudi Kolaka cukup memadai, hanya saja tidak didukung oleh suatu kebijakan, seharusnya data potensi pemuda kita memiliki database yang akuratakurat.

“Mungkin ada baiknya sekali kali ada ruang diberikan kepada pemuda kita untuk kumpul bersama-bersama dengan Pak Bupati melakukan dialog. Seperti halnya di daerah lain, memberikan kesempatan kepada pemuda untuk berinteraksi langsung dengan bupatinya, jangan hanya ditemui saat melakukan aksi unjuk rasa,” pungkasnya. (pil)