MAKASSAR, UPEKS — Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Haidar Madjid melanjutkan sosialisasi Nilai-nilai Kebangsaan di Baruga Anging Mammiri BP PAUD dan DIKMAS Sulsel, Jalan Adhyaksa, Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Minggu (06/02/2022).
Kali ini, Haidar mengambil tema Keagamaan. Sebelumnya, kegiatan serupa juga digelar di Asrama Haji Sudiang pada Sabtu (05/02/2022). Hadir sebagai narasumber Dr Ishaq Rahman selaku Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Ustadz Dr Erwin Baharuddin.
Diketahui, sosialisasi nilai-nilai kebangsaaan ini merupakan salah satu tugas konstitusi Haidar Madjid selaku Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
Meski di tengah penerapan protokol kesehatan (Protkes) Covid-19 ketat, namun ratusan peserta yang hadir tetap mengikuti sosialisasi dengan hikmat. Terlebih di awali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Haidar menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya di Kota Makassar, tentang pentingnya nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita perlu menyadari bahwa nilai-nilai keagamaan adalah nilai yang tidak terlepas dan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kebangsaan. Kedua nilai ini tidak perlu dipertentangkan dan dipisahkan,” katanya.
Haidar menjelaskan alasan mengapa sosialisasi kebangsaan kali ini mengangkat tema Keagamaan. Karena, menurutnya, secara spesifik jika bicara konteks umat Islam, maka pada bulan ini diperingati perayaan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Kemudian selanjutnya adalah memasuki bulan suci ramadan.
“Itulah sebabnya kenapa pada kesempatan ini DPRD Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan Sosialisasi Nilai-nilai Kebangsaan dengan tema ini (Keagamaan). Nah, ketika kita berbicara tentang momentum Isra Mi’raj, tentu sebagian besar yang berada di tempat ini sudah sangat paham, yakni peristiwa dahsyat di mana Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam menerima perintah salat lima waktu pertama kalinya,” terang Haidar.
Menurut Haidar, setiap umat Islam yang menyatakan siap melaksanakan salat dengan baik, maka sesungguhnya dia sedang mempertahankan tiang agamanya dan kekokohan negaranya. Kemudian, orang tersebut, lanjut Haidar, hampir bisa dipastikan terhindar dari perbuatan keji dan munkar.
“Tentu kita berharap bahwa orang-orang yang secara konsisten melaksanakan ibadah akan terhindar dari berbagai macam persoalan. Baik yang merugikan dirinya maupun orang banyak,” katanya.
“Dalam banyak kesempatan, selalu saya sampaikan itu. Kenapa salat itu ibadah sosial? Itu karena dalam kehidupan sosial orang-orang yang konsisten, orang yang taat akan sungguh-sungguh memperhatikan kehidupan sosialnya. Setidaknya kehidupan yang ada di sekitar rumah atau tetangganya,” sambung Haidar.
Ketua Fraksi Demokrat DPRD Sulsel ini menyatakan orang yang menghormati tetangganya, maka sesungguhnya dia sedang menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Karena tentunya tidak ada lagi salah paham yang bisa berujung konflik. Tidak ada lagi orang yang menggunakan media sosial hanya untuk menyebarkan berita bohong, menyebarkan upaya-upaya yang bisa memprovokasi,” sebut Haidar.
Sementara itu, Dr Ishaq Rahman memaparkan bahwa setiap waktu bangsa Indonesia terus diperhadapkan dengan tantangan kehidupan, kebangsaan, politik, sosial, budaya, dan lain-lain. Padahal seharusnya, kata Ishaq, dengan jumlah penduduk muslim yang mencapai 87% hal tersebut bisa saja teratasi.
“Secara sederhananya, bangsa ini dalam kehidupan sehari-harinya seharusnya dipernuhi dengan nilai Islam. Namun, sesuai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) kita masih rendah,” sebutnya.
Dr Ishaq Rahman mengutip penelitian Prof Husain Ashari terkait seberapa Islami negara-negara di dunia. Indeks tersebut tidak melihat aspek ibadah, melainkan nilai sosial, hukum, dan HAM. Termasuk hubungan sesama manusia.
“Hasilnya, ternyata negara yang paling menerapkan nilai Islam adalah Selandia Baru, Luksemburg, Jerman, dan beberapa negara eropa lainnya. Padahal jumlah penduduk muslimnya di bawah 10%. Dimana negara Islam? Indonesia berada di peringkat 74 dalam menerapkan nilai-nilai Islam. Saya bertanya, betulkah Islam kita ini?,” ujarnya.
Adapun Ustadz Dr Erwin Baharuddin menilai, umat Muslim di Indonesia kurang menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal nilai-nilai Islam harus ditegakkan demi mewujudkan kejayaan dalam berbangsa dan bernegara. “Ketika terselenggaranya nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadi, bertetangga, bermasyarakat dan bernegara, Islam akan tegak,” tegasnya.
Menurut Ustadz Dr Erwin, ada beberapa hal yang harus dipegang dalam menerapkan nilai-nilai Islami di kehidupan berbangsa. Yakni; kemanusiaan, keadilan, dan kejujuran.
“Islam adalah agama yang mengarahkan pemeluknya untuk memperhatikan nilai-nilai sosial. Selain itu, kepercayaan adalah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan karena menjadi tata cara bagaimana kita berhubungan dengan lingkungan sosial, dan bagaimana cara kita berkomunikasi dengan orang banyak,” kuncinya. (mah)

