Dari Bau ke Harap: Cara Makassar Menutup Luka di TPA Antang

Dari Bau ke Harap: Cara Makassar Menutup Luka di TPA Antang

Makassar, Upeks.co.id —  Di Antang, bau itu lama tinggal. Ia melekat di tanah, di udara, di ingatan orang-orang. Tapi pagi ini, tanah baru diturunkan—dan kota mulai menutup sesuatu yang selama ini dibiarkan terbuka.

Pemerintah Kota Makassar memilih bekerja, bukan berdebat. Di TPA Antang, alat berat bergerak pelan. Tanah dituang. Sampah lama diratakan. Tidak ada yang tergesa, tapi semuanya pasti.

Bacaan Lainnya

Mereka menyebutnya pembenahan. Bagi sebagian orang, ini hanya timbunan tanah. Tapi bagi kota, ini cara mengubur masalah lama dengan cara yang benar.

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Makassar, Muhammad Amin, berdiri di tengah penjelasan yang sederhana. Tidak ada nada tinggi. Hanya penegasan.

Semua dilakukan lewat aturan. Semua lewat jalur resmi.

Tanah urug yang dipakai bukan sembarang tanah. Ia datang dari lokasi yang punya izin. Dibeli lewat sistem yang jelas. Tidak ada jalan belakang.

“Ini kebutuhan teknis,” katanya. “Dan kami jalankan sesuai aturan.”

Di Antang, sampah sudah lama menggunung. Terbuka. Basah. Hidup dengan bau yang tak pernah benar-benar pergi. Itu yang sekarang ingin diubah.

Metode lama—open dumping—perlahan ditinggalkan. Kota ini ingin lebih rapi. Lebih bersih. Lebih manusiawi.

Caranya sederhana, tapi berat: sampah ditata, dipadatkan, lalu ditutup tanah. Mereka menyebutnya cover soil. Sebuah istilah teknis untuk sesuatu yang sangat manusiawi—mengurangi bau, menahan penyakit, memberi jarak antara manusia dan limbahnya.

Tanah itu bukan sekadar penutup. Ia adalah batas. Antara masa lalu yang semrawut dan masa depan yang ingin ditata.

Amin tahu, tidak semua orang langsung percaya. Isu sudah terlanjur beredar. Tapi ia tidak melawan dengan emosi. Ia menjawab dengan data.

Material berasal dari perusahaan yang punya izin. Prosesnya transparan. Tidak ada kaitan dengan proyek lain seperti PSEL. Semua berdiri sendiri.

“Ini bagian dari perubahan,” ujarnya.

Perubahan itu tidak selalu indah di awal. Di Antang, ia masih berupa lumpur, alat berat, dan bau yang sesekali muncul. Tapi ada arah yang jelas.

Kota ini tidak lagi hanya membuang. Ia mulai mengelola.

Dan mungkin, suatu hari nanti, orang tidak lagi mengenang Antang sebagai tempat bau tinggal lama. Tapi sebagai tempat sebuah kota belajar memperbaiki dirinya—pelan, berat, tapi jujur.(*)