Ketika Amanah Berganti Tangan di Enrekang

Ketika Amanah Berganti Tangan di Enrekang

 

ENREKANG, Upeks.co.id — Kabut pagi masih menyelimuti perbukitan Massenrempulu ketika delapan orang bersiap mengucap sumpah. Di Pendopo Rumah Jabatan Bupati yang megah, suasana haru dan tekad bercampur menjadi satu. Hari Selasa, 7 Oktober 2025, bukan sekadar hari kerja biasa—ini adalah hari penyerahan amanah.

Bacaan Lainnya

Wakil Bupati Andi Tenri Liwang berdiri tegak memandang para pejabat yang akan memasuki babak baru dalam pengabdian mereka. Delapan nama, delapan cerita, delapan perjalanan yang akan berbelok arah.

Ada Tomo, yang dari Inspektorat kini beralih mengurus perencanaan dan keuangan daerah. Ada Nurjaya yang kembali ke Badan Keuangan setelah membawa pengalaman dari Inspektorat. Lukman Saleh dan Apriaty justru menempuh jalan sebaliknya—masuk ke dalam tim pengawas pemerintah.

Lalu ada Bustamin Hamzah, dari mengurus Kebun Raya Massenrempulu kini menjadi sekretaris dinas. Arsjad Sudading, dari kepala seksi pembangunan naik menjadi Camat Malua. Hariyanto yang dari camat beralih mengurus data dan informasi perlindungan perempuan dan anak. Serta Adama Rahim yang naik jabatan di bidang pengendalian sumber daya air.

“Jabatan adalah amanah,” ujar Wabup Andi Tenri Liwang, suaranya lantang mengisi ruang pendopo yang dihiasi wajah-wajah penuh harapan. Kata-katanya sederhana tapi dalam maknanya, seperti falsafah orang Bugis-Makassar tentang tanggungjawab.

Kepada Arsjad Sudading, sang Camat Malua yang baru, ia berpesan khusus: “Tabe Pak Camat, kita adalah orang tua yang ada di Kecamatan Malua.” Panggilan “tabe” yang santun itu mengandung makna mendalam—seorang pemimpin harus seperti orang tua yang mengasihi tanpa pilih kasih.

Namun, cerita hari ini bukan hanya tentang delapan orang yang dilantik. Ada pesan penting yang disampaikan sang Wabup kepada Kepala BKPSDM—sebuah pesan yang menggambarkan visi besar Pemerintah Kabupaten Enrekang.

“Kita masih harus menyelesaikan pelantikan Eselon II, III dan Eselon IV,” tegasnya. Kalimat itu bagaikan start dalam sebuah lomba estafet. Tahun 2025 harus menjadi tahun penyelesaian, agar di tahun depan semua sudah siap “berlari kencang” untuk kemaslahatan masyarakat.

Pelantikan ini ibarat menyusun puzzle birokrasi. Setiap pergeseran jabatan adalah upaya menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat. Seperti petani Massenrempulu yang memindahkan bibit ke media yang lebih subur, harapannya adalah tumbuh kembang yang lebih baik.

Saat matahari mulai tinggi, prosesi pelantikan usai. Namun perjalanan baru saja dimulai. Kedelapan pejabat itu berjalan keluar pendopo dengan beban baru di pundak—bukan beban berat, tapi amanah yang harus dijunjung tinggi.

Masyarakat Enrekang menunggu. Mereka tak butuh janji, tapi bukti. Dan hari ini adalah babak pertama dari sebuah cerita panjang tentang pelayanan yang diharapkan akan membawa kesejahteraan bagi seluruh warga di bumi Massenrempulu.(sry)