ENREKANG, UPEKS.co.id — Sebagian warga sudah mulai was-was berkendara diatas Jembatan tua Panette yang sudah berusia 37 tahun ini. Anak-anak sekolah, SMP dan SMA lebih memilih berjalan kaki daripada naik motor melewati jembatan tersebut pergi dan pulang sekolah. Alasannya mereka takut karena kondisi jembatan saat ini semakin keras bergoyang jika dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua.
Jembatan Panette yang terbentang diatas sungai dengan panjang 126 meter ini bukan saja bergoyang tetapi bersuara sangat keras saat dilalui kendaraan bermotor karena lantai jembatan yang sudah mulai terlepas dimana-mana.
Salah satu Siswa SMAN 2 Enrekang yang setiap hari melewati jembatan tersebut mengatakan mulai takut naik motor sehingga dia memilih berjalan kaki.
“Takut dan ngeri karena jembatan ini sekarang goyang kalau kita naik motor apalagi kalau pelan-pelan. Kami juga sudah mulai merasa ngeri kalau tiba-tiba jembatan ini putus sementara kami naik motor diatasnya”. Kata Siswa tersebut.
Kondisi ini membuat orang tua mereka harus mengeluarkan uang ongkos ojek anak-anak mereka. Terpaksa itu dilakukan karena mereka tak lagi berani memberikan motor kepada anak-anaknya mereka.
“Terpaksa anak-anak kita antar sampai ujung jembatan saja, kemudian mereka jalan kali melalui jembatan ini dan disambung lagi naik ojek di ujung jembatan menuju sekolah mereka, jdi setiap hari kami harus menyiapkan uang untuk ongkos ojek anak-anak Rp 20.000. Kalau anak kita dua orang berarti ongkos ojeknya Rp 40.000 ditambah uang jajannya karena mereka pulang jam 3 sore. Kami sudah mulai takut dan khawatir kasih anak-anak kami motor, takutnya kalau sementara jalan diatas jembatan tiba-tiba terjadi hal-hal yang tidak diinginkan “. Kata Rusdi salah satu warga Desa Lebang.
Kondisi ini semakin membuat masyarakat sengsara. Mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk ongkos anak-anak mereka naik ojek ke sekolah sementara hasil kebun mereka sulit dipasarkan karena akses jalan untuk mengangkut hasil bumi tersebut tak dapat lagi dilalui kendaraan roda empat.
” Kami semakin sengsara Bu, karena mata pencarian kami di tiga Desa ini hanya berkebun. Untuk memasarkan hasil kebun kami sangat kesulitan karena harus menggunakan motor taksi, mobil sudah tidak bisa masuk lewat jembatan ini. Dimana kami mau ambil uang setiap hari untuk sewa ojek anak kami apalagi kalau mereka dua bersaudara sekolah di SMP dan SMP. Untuk itu kami mohon kepada Pemerintah Pusat, kepada Bapak Presiden agar mau mendengar keluh kesah kami. Kami di seberang jembatan ini ada tiga desa dengan jumlah penduduk 4000 jiwa lebih. Akses jalan kami hanya ini satu-satunya dan sekarang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Rusak dimana-mana, ngeri kami lewat disini. Tolong kami Pak Presiden, berikan kami jembatan permanen agar anak-anak dan warga disini bisa merasakan Kemerdekaan seperti masyarakat lainnya di Indonesia”. Ujar Rusdi.
Dia berharap, jeritan hati masyarakat di Desa Lebang, Malalin dan Pinang ini didengar oleh Pemerintah. Mereka sudah mulai takut melewati jembatan itu apalagi dimalam hari dan di musim hujan. Untuk itu saat ini masyarakat sudah membuat rakit dari bambu sebagai antisipasi untuk akses jalan alternatif melalui sungai. Lalu apakah kondisi ini aman bagi anak-anak sekolah yang masih dibawah umur.
Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat harus atensi terhadap keluhan warga setempat. Ribuan jiwa merasa tertolong jika saja Pemerintah Daerah melalui Pemerintah Pusat dapat menghadirkan jembatan permanen bagi warga tiga Desa di Kecamatan Cendana.
Kehadiran Jembatan permanen selain dapat menjadi akses yang aman bagi anak-anak sekolah, jembatan itu akan kembali membangkitkan perekonomian masyarakat yang 80 persen pekerjaannya adalah petani. (Sry)

