Ajang KSTI 2025: Tim Riset Polipangkep Dapat Apresiasi dari Pemenang Nobel

Ajang KSTI 2025: Tim Riset Polipangkep Dapat Apresiasi dari Pemenang Nobel

Bandung,Upeks–Tim peneliti Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (Polipangkep) mendapat apresiasi atas dampak riset pemenang Nobel Fisika 2011, Prof. Brian Schmidt bersama Cendekiawan Dunia asal India, Prof. Chennupati Jagadish, Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, Direktur Diseminasi Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Prof. Yudi Darma serta Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Dr. Ayomi Widipaminto

Apresiasi tersebut disampaikan dalam Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2025, yang digelar di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Institut Teknologi Bandung (ITB), tanggal 7-9 Agustus 2025 lalu.

Bacaan Lainnya

Polipangkep ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh politeknik terpilih yang tampil dalam KSTI 2025. Kehadiran Polipangkep dalam KSTI 2025 merupakan bagian dari Program Katalisator Kemitraan Berdikari yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Ajang ini menjadi etalase nasional bagi hasil riset terapan yang inovatif dari perguruan tinggi vokasi di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, di hari pertama KSTI, produk Zat Pewarna Alam Polipangkep telah mendapat perhatian khusus dari peneliti serat alam Fakultas Art and Design ITB, Dr Dian Widiawati.

Ajang KSTI 2025: Tim Riset Polipangkep Dapat Apresiasi dari Pemenang Nobel

Ketua Tim Riset Polipangkep, Dr. Zulfitriany D. Mustaka, SP. MP, pun secara khusus diundang ke Laboratorium Material ITB untuk memetakan potensi kerjasama dan kolaborasi riset antara ITB dan Polipangkep di Bidang Serat dan Pewarnaan Alami.

“Produk zat pewarna alam yang ditampilkan Polipangkep dalam ajang KSTI merupakan hasil riset program Katalisator Kemitraan Berdikari skema Ekonomi Mandiri Sejahtera pendanaan LPDP tahun 2024,” ujar Dr. Zulfitriany dalam keterangan resminya, baru-baru ini.

Riset, lanjut dia, didasari pada hasil rekomendasi program riset sebelumnya tahun 2023 oleh Tim Konsorsium Sultan Batara yaitu pada poin pengelolaan limbah di Sulsel. Dengan riset Zat Pewarna Alam Tekstil yang berasal dari pengelolaan limbah pertanian, tim riset berkonstribusi menyelesaikan tidak hanya masalah lingkungan, namun peningkatan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat sesuai.

“Output program ini adalah prototipe project industri Zat Pewarna Alam dengan mesin penunjang produksi, yaitu mesin Praktis Berdikari, mesin pengurai Twenty One Blades, metode ektraksi dingin hingga metode fermentasi untuk mengurai kembali ampas ZPA menjadi pupuk dan media tanam,” jelasnya.

Dr. Zulfitriany menambahkan, sasaran utama riset adalah masyarakat komunitas pengrajin batik, masyarakat umum dan TP PKK. Sementara mitra yang terlibat adalah Cantika Sabbena, Lontara Daeng, Yayasan Pendidikan Cahaya Lontara dan SMKN 8 Makassar.

Selain Polipangkep, enam politeknik lain yang juga turut berpartisipasi dalam KSTI 2025 tersebut, yakni Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada dan Politeknik Negeri Bandung.(rif)