MAKASSAR,UPEKS.Co.id– Universitas Muslim Indonesia (UMI) melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) sukses melaksanakan kegiatan pengabdian internasional yang ditujukan untuk membantu mahasiswa Indonesia yang menetap di Jepang, khususnya di Nagoya.
Dalam kegiatan ini, UMI menyusun sebuah Kompendium Arsitektur untuk Hunian Nyaman dan Hemat Biaya, yang difokuskan pada panduan hunian ideal bagi mahasiswa yang jauh dari tanah air.
Visi dan misi Program Studi Arsitektur Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang berfokus pada pengembangan keilmuan arsitektur yang berbasis pada nilai-nilai Islam, serta menciptakan karya arsitektur yang inovatif dan ramah lingkungan, sangat relevan dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertajuk “Kompendium Arsitektur untuk Hunian yang Nyaman dan Hemat Biaya bagi Mahasiswa Indonesia di Nagoya, Jepang.”
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan solusi arsitektural yang efisien dan ramah biaya bagi mahasiswa Indonesia yang tinggal di Nagoya, Jepang, dengan mempertimbangkan kenyamanan dan kebutuhan dasar mereka.
Melalui skema internasional ini, Prodi Arsitektur UMI berkomitmen untuk berkontribusi dalam menciptakan hunian yang dapat memperbaiki kualitas hidup mahasiswa Indonesia di luar negeri, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip desain yang berkelanjutan dan efisien dalam konteks global.
Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan kemampuan profesional mereka dalam skala internasional, sejalan dengan visi UMI untuk menjadi pusat keunggulan pendidikan arsitektur yang berdaya saing di dunia.
Ir. Ahmad Nadhil, ST., M.Sc., selaku Ketua Tim Pelaksana, menyatakan bahwa kompendium ini disusun sebagai bentuk dukungan nyata bagi mahasiswa Indonesia yang sering kali menghadapi tantangan dalam mencari tempat tinggal yang terjangkau namun tetap nyaman di Jepang.
Tantangan seperti biaya hidup yang tinggi dan perbedaan budaya menjadi perhatian khusus dalam penyusunan panduan ini.
“Banyak mahasiswa yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru di Jepang, terutama dalam hal hunian dan pengelolaan keuangan. Kompendium ini hadir sebagai solusi praktis, berisi panduan untuk membantu mereka memilih tempat tinggal yang sesuai dengan anggaran dan kebutuhan mereka,” ujar Nadhil dalam keterangannya.
Kegiatan ini dilaksanakan selama lima bulan, dimulai dari Juli hingga November 2024, dan meliputi tiga tahapan utama: Pengumpulan Data Literatur dan Survei Online.
Lanjutnya, Tim pengabdian mengumpulkan data dan informasi mengenai berbagai pilihan hunian di Nagoya yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, baik dari segi biaya, aksesibilitas, maupun fasilitas yang disediakan.
“Kedua Analisis dan Penyusunan Kompendium. Berdasarkan data yang diperoleh, tim menyusun kompendium yang berisi panduan praktis untuk memilih hunian hemat biaya dan tips desain ruang kecil yang nyaman. Kompendium ini juga mencakup rekomendasi pengelolaan keuangan dan strategi desain hemat energi yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa,” katanya seraya menambhakan begitupula publikasi dan sosialisasi hasil.
Setelah penyusunan kompendium, hasil kegiatan ini disampaikan kepada mahasiswa Indonesia di Nagoya melalui PPI Nagoya.
Selain itu, UMI juga mengadakan webinar sosialisasi yang memberikan ruang tanya jawab dan penjelasan lebih lanjut terkait kompendium.
Menurut Nadhil, hasil dari kegiatan ini sudah dapat dirasakan oleh mahasiswa di Jepang.
Berdasarkan survei sebelum dan sesudah kegiatan, terdapat peningkatan kepuasan mahasiswa dalam memahami dan memilih hunian yang lebih hemat biaya, dengan peningkatan sebesar 25% dalam kepuasan mereka terhadap informasi hunian.
“Mahasiswa merasa lebih terbantu dalam mencari hunian yang sesuai dan bisa mengatur keuangan mereka dengan lebih baik. Kami berharap kegiatan ini dapat diteruskan untuk mendukung mahasiswa Indonesia di berbagai belahan dunia,” lanjutnya.
Kegiatan pengabdian ini tidak hanya menunjukkan komitmen UMI dalam meningkatkan kesejahteraan mahasiswa di luar negeri, tetapi juga memperkuat kerja sama antara UMI dan komunitas mahasiswa internasional, seperti PPI Nagoya.
LPkM UMI berharap agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan di masa mendatang untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri.
Dengan adanya Kompendium Arsitektur untuk Hunian Nyaman dan Hemat Biaya, mahasiswa Indonesia di Jepang kini memiliki panduan praktis untuk memilih dan merancang hunian yang sesuai, sehingga mereka dapat fokus pada studi dengan kondisi hunian yang mendukung kenyamanan dan efisiensi. (rls)

