Makna Hari Ibu Bagi Murniati Dg Matarring

Makna Hari Ibu Bagi Murniati Dg Matarring

Gowa, Upeks–Calon Anggota DPRD Kabupaten Gowa Daerah Pemilihan (Dapil) 2 meliputi Kecamatan Pattallassang, Bontomarannu, Parangloe dan Manuju, Murniati Dg Matarring, S.Ag, memaknai Hari Ibu, yang diperingati setiap tanggal 22 Desember, sebagai suatu peringatan terhadap peran seorang perempuan dalam keluarganya, baik sebagai istri bagi suaminya, ibu untuk anak-anaknya, maupun untuk lingkungan sosialnya.
Caleg dari Partai Golkar nomor urut 6 ini mengatakan ibu sebagai episentrum peradaban manusia sepanjang zaman sejak zaman istri Nabi Adam yaitu Hawa.
Pada Ibu diciptakan rahim yang bisa mengandung dan rahim ini sama asal kata dengan Rahman dan rahim yaitu penyayang dan pengasih.

“Maka semua wanita yang mempunyai rahim maka pada dirinya tersimpan kasih sayang dan senang mengasihi kepada siapa saja terutama kepada anaknya,”kata Murni yang juga merupakan Direktur Wilayah Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Keluarga Sakinah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (LPPKS BKPRMI) Sulawesi Selatan tersebut.

Bacaan Lainnya
 

Menurut perempuan yang akrab disapa ibu Ustadzah ini menyampaikan bahwa pada perempuan diciptakan taraa’ib untuk bisa menggenitas manusia.
“Pada diri perempuan diciptakan taraa’ib sebagai fungsi reproduksi untuk melanjutkan genital anak cucu Adam,”imbuhnya.

Rahim dan taraa’ib adalah dua alat vital perempuan yang membacking perempuan menjadi ibu. Ibu adalah lafadz yang sangat bermakna bagi seorang perempuan.
“Karena dengan fungsi ini sempurnalah dirinya sebagai manusia yang telah menjalani kodrat ilahiyah menuju fungsi sosialnya dalam meraih predikat insan Kamil,”urai ibu yang juga berperan sebagai ayah empat anak ini, Jumat  22 Desember 2023.

Perjalanan perempuan dengan predikat ibu tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan.
Tapi sebuah perjalanan panjang yang fluktuasi karena ibu akan berjalan seiring perjalanan hidup anaknya mulai dari awal kehidupan manusia yang dilahirkan hingga akhir hayat yang berstatus anak.
“Maka fungsi ibu itu tidak berakhir sepanjang seumur anak. Maka tidak ada yang paling pantas dimiliki oleh sosok ibu adalah life along for our child “hidupku adalah untuk anakku”,”imbuh mantan Ketua PKK Desa Borongpalala Kecamatan Pattallassang Gowa dua periode tersebut.
Jika dengan demikian lanjut mantan Ketua BKMT Kecamatan Pattallassang Gowa dua periode ini mengatakan maka ibu sebagai madrasah pertama sebagai pendidik pertama, penanam ketauladanan kepada anak dan sebagai pengarah sepanjang hidup anak.

“Baik tidaknya anak sangat tergantung kepada siapa ibu yang menghamilkan, melahirkan, menyusui,dan mengasuh, dan mengarahkan untuk sampai kepada tujuan hidupnya,”tuturnya.

Terakhir Ketua FORHATI GOWA ini mengatakan fungsi ibu harus dimaksimalkan. Baik tidaknya generasi bangsa sangat ditentukan oleh peranan ibu.
Jika tuntas dengan baik peranan ibu itu maka layaklah ibu menerima sapaan dari Allah pada akhir hayatnya, wahai para ibu yang sudah tuntas peranannya sebagai ibu pendidik generasi Sholihah dan Sholihah kembalilah kepada jalan Tuhanmu dengan penuh keridhaan, masuklah ke dalam golongan umatku yang diridhai dan masuklah dalam syurgaku.

“Bukan saja ini, para ibu itu, akan senantiasa mendapatkan doa apabila telah meninggal dunia sebagai balasan atas fungsi2nya yang telah meninggalkan generasi Sholih dan Sholihah,”katanya.

“Dan sudah pasti akan menuai predikat balasan 3 kali kebaikan dibanding ayah karena ketiga fungsinya yaitu hamil, melahirkan dan menyusui,”tandasnya. (rls)